spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Hyacinta Fifian Gunawan: Menemukan Arti Menjadi Rasul Kerahiman

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COMBenih kecil dari Lembah Karmel membawanya masuk ke dalam Kerahiman Ilahi hingga ia memahami bahwa Tuhan bekerja paling nyata justru di tempat yang tak terduga.

PINTU Katedral Makassar belum sepenuhnya tertutup ketika dentuman itu merobek udara pagi. Debu halus melayang seperti kabut tipis, sementara gema yang baru saja meledak membuat telinga Hyacinta Fifian Gunawan berdenging. Ibu dua anak yang akrab disapa Fifi ini menoleh cepat, mencari sumber suara, sebelum matanya menemukan bayangan tubuh yang berlari, jeritan yang saling bersahutan, dan serpihan kaca yang memantulkan cahaya seperti hujan cahaya tak wajar dari hotel diseberang Katedral. Hatinya begitu kalut padahal ia baru saja selesai melayani sebagai petugas paduan suara.

Di antara hiruk-pikuk itu, ia bersyukur sembari berefleksi bahwa mereka yang baru saja menyambut Tubuh dan Darah Kristus di mana setiap tubuh adalah Bait Allah itu dijaga Tuhan satu per satu sebab tidak ada satu pun umat meninggal meskipun ada yang terluka parah.

Dari titik luka itulah seluruh perjalan hidupnya menyatu, seakan Tuhan sedang membuka lembar demi lembar kisah rohani yang jauh lebih besar daripada rencananya sendiri. Namun, jauh sebelum ledakan itu, benih perjalanan iman Fifi sudah mulai tumbuh pelan-pelan, seperti api kecil yang menyala di dalam hening.

“Ternyata yang dialami Santa Faustina itu sama dengan kehidupan kita sehari- hari.”

Cinta Mula-mula

Fifi pertama kali merasakan sentuhan “cinta mula-mula” ketika bergabung dengan Komunitas Tritunggal Mahakudus (KTM). Di Lembah Karmel Cikanyere, ia mengalami pengalaman rohani yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. “Saya seperti menemukan rumah,” ujarnya. Dari situlah kerinduan mendalam terhadap kasih Tuhan mulai tumbuh, pelan, tapi stabil.

Hingga sebuah buku membuka pintu baru baginya, Buku Harian Santa Faustina. Ia membacanya tanpa ekspektasi, namun halaman-halamannya justru memantulkan cermin kehidupan. Konflik, ketaatan, pergulatan batin, semuanya terasa tidak jauh dari per- gulatan manusia modern.

“Ternyata yang dialami Santa Faustina itu sama dengan kehidupan kita sehari- hari,” sebutnya. Hal itu berbuah dalam sebuah pengertian sederhana bahwa kerahiman bukan ajaran eksotis tetapi napas yang menyentuh setiap pergulatan manusia. Sejak saat itu, Devosi Kerahiman Ilahi melekat dalam denyut hidupnya.

Baca Juga:  Pentingnya Menggemakan Pedagogi Kecerdasan Etis di Era Digital Ini

Dua Nasihat Iman

Namun hidup, seperti biasa, selalu membawa orang pada persimpangan. Ia harus membuat sebuah keputusan besar untuk pindah ke Jayapura, Papua. Ini semua agar bisa bersatu kembali dengan suaminya yang bekerja di sana. Sebagai konsekuensinya, semua kenyamanan di Makassar seperti pekerjaan puluhan tahun yang ia tekuni, komunitas yang dekat di hati, dan pelayanan yang sudah akrab tiba-tiba harus ia lepaskan.

“Saya seperti kembali ke titik nol,” ucapnya. Dalam diam, ia menggenggam dua nasihat iman dari dua gembala, Uskup Emeritus Banjarmasin, Mgr. Petrus Boddeng Timang dan Uskup Agung Makassar yang saat itu masih menjadi imam, Mgr. Fransiskus Nipa. “Bawalah spiritualitas Karmelitmu yang ada dalam KTM ke komunitas baru,” ujar Mgr. Petrus; “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” imbuh Mgr. Frans. Dua kalimat itulah yang menjadi pelita bagi langkah berikutnya.

Jayapura pun menyambutnya dengan warna baru di mana ia berjumpa dengan orang-orang sederhana, orang-orang yang memiliki kerinduan rohani yang kuat, tetapi memiliki fasilitas yang serba terbatas. Ia sadar, Devosi Kerahiman Ilahi tidak melulu membutuhkan wadah resmi, melainkan terbuka pada rahmat Tuhan yang menuntun.

Ia mulai dari hal yang paling kecil seperti membuat renungan harian sederhana yang diambil dari Diari Santa Faustina, digabungkan dengan gambar-gambar rohani menarik yang ia temukan di media sosial. Mulanya, ia kirimkan ke beberapa teman, lalu teman itu mengirimkannya ke teman lain, dan tanpa ia sadari, renungan itu menyebar ke orang-orang yang bahkan tak dikenalnya. Fifi juga membuat akun media sosial khusus di Instagram dan Facebook untuk meluaskan jangkauan.

Buah Kerahiman

“Tuhan melindungi dari hal yang bahkan tidak pernah kami doakan.”

“Ada hari-hari ketika saya gemetar kagum,” kisahnya, “karena isi renungan itu pas sekali dengan bacaan liturgi hari itu. Tuhan seperti menjawab lewat cara yang halus.” Kisah itu bukan kiasan, tetapi nyata. Ia mengenang saat terjadi banjir bandang di Sentani tahun 2019. Hari itu, Fifi sedang berada di Surabaya mengikuti Jam Kerahiman setiap pukul 14.45 di ruang adorasi Gereja Yakobus. Ia tidak meminta apa-apa, hanya datang setia, satu jam setiap hari.

Baca Juga:  Uskup Mandagi: Jadilah Pintu Damai, Bukan Perampok

Ketika banjir bandang meluluhlantakkan Sentani, ia mendapat kabar dari Jayapura malam itu. Rumah-rumah hanyut, lumpur menutup jalan, pesawat terseret ke jalan raya. Namun proyek perumahan yang tengah suaminya kerjakan yang berada dekat dengan gereja selamat dari bencana. Begitu pula rekan-rekannya di Jayapura yang rutin berdoa bersamanya. Ia menagis terharu, “Tuhan melindungi dari hal yang bahkan tidak pernah kami doakan.”

Pelayanan Fifi di Papua tidak berhenti pada komunitas doa. Hatinya tergerak ketika Papua memperlihatkan wajah penderitaan yang berbeda, terutama menyaksikan anak-anak Papua kecanduan menghirup lem aibon demi meredakan rasa lapar. Bersama orang muda Katolik (OMK) dan teman-teman Persekutuan Doa Katolik Karismatik (PDKK) yang ia bantu hidupkan geliatnya, Fifi mendatangi anak-anak ini setiap Selasa.

Menjelang sore, mereka aktif mencari anak-anak di dalam pasar, emperan toko dan ruko untuk dimandikan, diberi pakaian, diberi makan, dan diajak untuk menyanyikan pujian dan penyembahan sembari membaca Firman Tuhan. Anak- anak itu, sebagian tersipu, sebagian lain menunduk. Namun, mata mereka berbinar ketika dipanggil dengan nama, bukan sebutan.

Hyacinta Fifian Gunawan bersama Komunitas Kerahiman Ilahi Paroki Santo Albertus Agung Tanjung Bunga merayakan Pesta Kerahiman Ilahi pada 27 April 2025./ DOK.Pribadi
Hyacinta Fifian Gunawan bersama Komunitas Kerahiman Ilahi Paroki Santo Albertus Agung Tanjung Bunga merayakan Pesta Kerahiman Ilahi pada 27 April 2025./ DOK.Pribadi

Ternyata berita pelayanan ini sampai ke telinga Uskup Jayapura pada waktu itu, Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM. Mgr. Leo meminta Fifi dan tim pergi ke Wamena karena di sana ada lebih banyak anak yang membutuhkan pertolongan. Tiba di Wamena, mereka sempat dikira sebagai petugas dinas sosial sampai dicurigai sebagai sindikat perdagangan orang lantaran mencari anak-anak terlantar.

Karena tim ini tidak bermukim di Wamena, mereka pun memikirkan strategi jangka panjang. Mereka berupaya mendekatkan anak-anak ini kepada mama-mama (ibu) di sana agar terjalin ikatan emosional. Dengan lembut Fifi dan tim memperkenalkan, “Mama ini anakmu. Anak ini mamamu. Bantu-bantu mama di kebun eh biar subur, biar nanti dapat makan juga.” Baik anak maupun mama merasakan sukacita. Bagi dunia ini mungkin bukan pekerjaan besar, tetapi dalam ukuran Kerahiman Allah, hal ini adalah bagian dari karya-Nya.

agar bela rasa tidak menjadi sekadar slogan karena bela rasa menuntut keterlibatan nyata.

Ia juga bersyukur bisa menyaksikan “tanda heran” di Papua. Bagaimana tidak, hatinya begitu tercengang saat menyaksikan para mama-mama Papua pedalaman yang buta aksara justru menghafal sabda Tuhan lengkap dengan kitab apa, bab, dan ayat. Di Honai (rumah adat Papua) ia melihat sendiri Kitab Suci yang utuh namun sudah sangat lecek karena banyak dibaca padahal semua orang di dalam rumah itu tidak bisa baca- tulis.

Baca Juga:  Episkopat dalam Misteri Gereja: Tinjauan Teologis, Kanonik, dan Pastoral atas Suksesi Apostolik serta Dinamika Pemilihan Uskup

Salah satu mama berkata lirih, “Kami ini tidak tahu baca, tapi bagaimana Tuhan mau kasih kita mengerti Dia punya Firman kalau kita tidak tahu baca?” Fifi pun bertanya dengan lembut mengapa akhirnya mereka bisa menghafal ayat Kitab Suci. Mama itu menimpali polos, “Iya toh. Kita ini tidak tahu membaca. Tapi kita minta sama Tuhan Yesus. Kita mau tahu Dia punya Firman. Kalau kita tidak tahu baca bagaimana? Jadi… Tuhan saja yang ajar.” Di sana Fifi benar-benar melihat bagaimana Tuhan bekerja tanpa batas dan syarat sebab yang Ia butuhkan hanyalah hati yang ingin mengenal-Nya.

Kini setelah kembali ke Makassar, ia menjadi umat di Paroki Santo Albertus Agung (SAA) yang awalnya belum memiliki Komunitas Kerahiman Ilahi. Perlahan, Fifi bersama devosan lain merajut komunitas itu hingga tak terasa sudah dua tahun berjalan. Dari situ pelayanan mengalir untuk mendoakan orang sakit, mengunjungi dan mendoakan Koronka di rumah duka, mendoakan jiwa-jiwa di api penyucian, bahkan mengunjungi lembaga pemasyarakatan.

Seluruh peristiwa hidupnya itu pun membawanya kepada suatu refleksi seperti yang sering dikatakan Paus Fransiskus agar bela rasa tidak sekadar slogan karena bela rasa menuntut keterlibatan nyata. “Baru di Papua aku mengerti bahwa bela rasa bukan hanya dikhotbahkan; ia harus dihidupi. Tidak cukup menggaungkan kata ‘kerahiman’ saja tanpa menengok mereka yang terluka, tersesat, atau kering secara rohani,” pungkasnya, “Inilah cara menghidupi Rasul Kerahiman itu.”

Felicia Permata Hanggu dari Makassar

TELAH TERBIT DI MAJALAH HIDUP EDISI 52 TAHUN 2025, TERBIT 28 DESEMBER 2025

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles