spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Tokoh Bangsa dari Tanah Jerman untuk Indonesia

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – DI sebuah keluarga bangsawan Katolik di Jerman, pada 26 Mei 1936, lahirlah seorang anak bernama Franz Graf von Magnis. Tak ada yang menyangka, bocah yang tumbuh di tengah puri/kastil keluarga dengan ribuan hektar tanah itu kelak justru memilih jalan sunyi: meninggalkan gelar kebangsawanan, datang ke Indonesia, hidup sederhana sebagai imam Jesuit, dan menjadi salah satu suara moral paling dihormati di negeri ini. Kini, pada usia ke-90 tahun, Franz Magnis-Suseno tetap berdiri sebagai sosok yang tak lelah menjaga akal sehat dan nurani bangsa.

Franz kecil tumbuh dalam keluarga Katolik yang taat. Sang ibu bahkan pernah bercita-cita menjadi biarawati sebelum akhirnya menikah. Namun hidup Franz berubah ketika ia masuk novisiat Serikat Jesus di Neuhausen, Jerman. Dari sanalah panggilannya sebagai Jesuit bertumbuh. Setelah belajar filsafat di Pullach, dekat München, — meraih gelar licentiat,  ia bersama sejumlah Jesuit muda (lima Jerman dan tiga Swiss) dikirim ke Indonesia—tanah yang kemudian menjadi rumah sejatinya.

Baca Juga:  Paus Leo XIV Menunjuk Wanita Awam sebagai Prefek Dikasteri untuk Komunikasi

Perjalanan itu membawanya ke Girisonta, Ungaran, Jawa Tengah. Oleh provinsial Serikat Jesus, ia dan teman-teman  belajar bahasa Jawa secara formal di dalam kelas, hidup di tengah masyarakat, lalu ditugaskan di Paroki Boro, Kulon Progo. Di desa-sederhana itulah Franz muda perlahan jatuh cinta pada Indonesia: pada manusianya, pada budayanya, dan pada perjuangan rakyat kecilnya.

Pada tanggal 13 Juli 1967, ia ditahbiskan menjadi imam di Gereja Santo Antonius Kotabaru, Yogyakarta. Sepuluh tahun kemudian, ia resmi menjadi warga negara Indonesia dan melepaskan gelar bangsawannya. Nama “Graf von Magnis” ditinggalkan. Ia memilih nama baru: Franz Magnis-Suseno. Nama “Suseno”, katanya sederhana saja—ia menyukai bunyinya.

Namun pengabdian Romo Magnis tak berhenti di altar gereja. Bersama beberapa rekannya, ia mendirikan Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, lembaga yang selama puluhan tahun melahirkan imam, intelektual, aktivis, professional, dan pemikir lintas agama. Kampus kecil di kawasan Rawasari, Jakarta Pusat itu menjadi ruang dialog, kritik, dan keberanian moral.

Baca Juga:  Franz Magnis-Suseno, SJ: Sketsa Sebuah Profil

Romo Magnis bukan filsuf yang hanya berbicara dari menara gading. Ia hadir di tengah persoalan bangsa: demokrasi, HAM, intoleransi, kemiskinan, hingga ketidakadilan sosial dan lain sebagainya. Lewat 47 buku dan lebih dari 800 tulisan, ia terus mengajak Indonesia berpikir jernih dan manusiawi. Bahkan di usia ke-90 ini, ia masih aktif mendalami teologi (Katolik) dan menyuarakan pentingnya pembaruan Gereja Katolik serta penghormatan terhadap martabat manusia, temasuk kaum LGBT, homoseksual, dan lain-lain.

Bagi banyak orang/kalangan, Romo Magnis bukan sekadar imam atau akademisi. Ia adalah jembatan di tengah perbedaan, suara bagi mereka yang tak terdengar, dan salah satu penjaga nurani bangsa. Di usia 90 tahun, keteduhan pikirannya tetap menyala—mengingatkan Indonesia bahwa kemanusiaan selalu lebih penting daripada kekuasaan.

Baca Juga:  Uskup Tanjungkarang: Devosi sebagai Suplemen untuk Kekuatan Mengasihi Orang Lain

Selamat HUT Ke-90, Romo Franz Magnis-Suseno, SJ.

Sumber: Majalah HIDUP, Edisi No.21, terbit 24 Mei 2026

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles