HIDUPKATOLIK.COM – “Berdoalah, berharaplah, dan janganlah khawatir.” Demikian pesan Santo Padre Pio yang begitu dikenal oleh umat Katolik di seluruh dunia. Baru-baru ini kebetulan beredar undangan Misa Kudus oleh seorang uskup dari Filipina yang dilanjutkan dengan doa penyembuhan melalui perantaraan Santo Padre Pio yang diadakan di beberapa paroki di Keuskupan Agung Jakarta, lengkap dengan penghormatan relikui tingkat pertama dan pengurapan minyak zaitun yang pernah diberkati oleh Padre Pio. Tak heran, ribuan umat langsung antusias untuk hadir.

Namun, muncul sebuah pertanyaan penting: apa sebenarnya yang seharusnya dicari oleh seorang Katolik ketika menghadiri acara seperti itu? Apakah mukjizat? Kesembuhan? Relikui? Atau ada sesuatu yang jauh lebih besar?
Pertanyaan ini penting, sebab tanpa disadari kita dapat bergeser dari iman yang dewasa menuju religiositas yang hanya mengejar sensasi.
Jangan Sampai Misa Hanya Menjadi “Pembuka Acara”
Dalam undangan semacam itu biasanya tertulis: Misa Kudus dilanjutkan dengan Doa Penyembuhan. Urutan ini bukan sekadar teknis, melainkan mencerminkan iman Gereja.
Bagi Gereja Katolik, Ekaristi adalah “sumber dan puncak seluruh kehidupan Kristiani” (Sacrosanctum Concilium, no. 10). Artinya, puncak rahmat bukanlah saat pengurapan minyak atau penghormatan relikui, melainkan ketika Kristus sendiri hadir dalam Ekaristi dan kita menyambut Tubuh dan Darah-Nya.
Sayangnya, kadang-kadang terjadi pembalikan fokus. Ada umat yang rela datang berjam-jam demi doa penyembuhan, tetapi kurang memberi perhatian pada Misa Kudus. Padahal, jika Santo Padre Pio sendiri hadir, dapat dipastikan beliau akan mengarahkan semua orang pertama-tama kepada altar Ekaristi, bukan kepada dirinya.
Bolehkah Mengharapkan Kesembuhan?
Tentu saja boleh. Yesus sendiri menyembuhkan banyak orang sakit. Gereja pun sejak zaman para rasul terus mendoakan orang-orang yang menderita. Rasul Yakobus bahkan menulis: “Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua Gereja…” (Yak 5:14). Karena itu, doa penyembuhan bukanlah sesuatu yang asing dalam Gereja Katolik.
Namun, Gereja juga mengajarkan bahwa Allah tidak selalu menjawab doa dengan cara yang sama. Ada yang menerima kesembuhan fisik. Ada yang memperoleh kekuatan untuk menjalani penyakitnya. Ada pula yang mengalami damai batin setelah sekian lama bergumul. Mukjizat bukanlah satu-satunya bentuk jawaban Tuhan.
Santo Paulus sendiri pernah memohon agar “duri dalam daging”-nya diangkat. Tetapi Tuhan menjawab, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu.” (2 Kor 12:9). Dengan kata lain, ukuran iman bukanlah apakah seseorang sembuh atau tidak, melainkan apakah ia tetap percaya kepada Tuhan dalam segala keadaan.
Minyak dan Relikui: Sarana, Bukan Sumber Kuasa
Dalam berbagai kesempatan devosi, umat mungkin menerima pengurapan dengan minyak yang diberkati atau mendapat kesempatan menghormati relikui seorang santo. Apakah itu diperbolehkan? Ya, boleh.
Tradisi Gereja sejak abad-abad awal memang mengenal penghormatan terhadap relikui para kudus. Bahkan Kitab Suci mencatat bagaimana Allah berkarya melalui tulang nabi Elisa (2 Raj 13:21) maupun saputangan Santo Paulus (Kis 19:11-12). Namun Gereja selalu mengingatkan bahwa yang menyembuhkan bukan minyaknya, bukan relikuinya, melainkan Allah sendiri.
Minyak yang diberkati adalah sakramentali, bukan sakramen. Sakramentali adalah tanda-tanda suci yang ditetapkan oleh Gereja untuk membantu umat membuka hati terhadap rahmat Allah. Bukan benda yang memiliki kekuatan magis.
Demikian pula relikui. Penghormatan relikui kelas satu (seperti darah Santo Pio) adalah tindakan devosi yang sangat dihargai dalam Gereja. Tujuan utamanya adalah untuk mengingatkan kita pada kekudusan Santo Pio dan memohon doa syafaatnya, bukan untuk “mendapatkan kuasa” secara otomatis.
Penghormatan kepada relikui bukanlah penyembahan kepada benda mati. Relikui dihormati karena mengingatkan kita akan kehidupan seorang kudus yang membiarkan Allah berkarya secara luar biasa dalam dirinya.
Jika seseorang berpikir, “Asal menyentuh relikui ini pasti sembuh,” maka ia telah bergeser dari iman menuju cara berpikir magis. Gereja tidak pernah mengajarkan demikian.
Jangan Mengejar Sensasi Rohani
Pada zaman media sosial, tidak sedikit orang mencari pengalaman iman yang spektakuler. Semakin dramatis suatu kesaksian, semakin cepat menyebar. Padahal iman Katolik dibangun bukan di atas sensasi, melainkan di atas Kristus.
Mukjizat memang nyata. Kesembuhan memang mungkin terjadi. Namun mukjizat bukanlah pusat iman.
Padre Pio sendiri dikenal sebagai seorang imam yang setiap hari mempersembahkan Misa dengan penuh khidmat, berjam-jam mendengarkan pengakuan dosa, dan mengajak umat bertobat. Ia tidak pernah menjadikan mukjizat sebagai tujuan utama pelayanannya.
Karena itu, jika kita benar-benar mengasihi Padre Pio, maka teladan yang harus kita ikuti bukan sekadar mencari mukjizatnya, tetapi mengikuti cintanya kepada Ekaristi, Sakramen Tobat, doa, dan penyerahan diri kepada Allah.
Sikap Katolik yang Dewasa
Lalu bagaimana sebaiknya kita menyikapi undangan Misa dan doa penyembuhan seperti ini?
Datanglah dengan hati yang terbuka. Ikutilah Misa dengan penuh iman. Hormatilah relikui dengan rasa syukur. Terimalah pengurapan minyak sebagai ungkapan doa Gereja. Namun jangan pernah menganggap semua itu sebagai “jaminan mukjizat”.
Doalah seperti Yesus sendiri berdoa di Getsemani: “Jadilah kehendak-Mu.”
Iman Katolik bukanlah iman yang memaksa Allah melakukan apa yang kita inginkan. Sebaliknya, iman adalah keberanian mempercayakan hidup kepada kehendak Allah, entah kita disembuhkan ataupun tidak.
Mukjizat Terbesar Ada di Depan Mata Kita
Sering kali kita begitu bersemangat mencari mukjizat yang luar biasa, sampai lupa bahwa mukjizat terbesar sebenarnya hadir setiap kali Misa Kudus dirayakan.
Ketika imam mengucapkan kata-kata konsekrasi, roti dan anggur sungguh menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Inilah mukjizat yang terjadi setiap hari di altar-altar Gereja di seluruh dunia.
Mungkin tidak ada cahaya yang menyilaukan. Tidak ada suara dari langit. Tidak ada sensasi yang menggetarkan. Namun di situlah Kristus sungguh hadir.
Ironisnya, banyak orang rela menempuh perjalanan jauh demi melihat mukjizat yang belum tentu terjadi, tetapi kurang menghargai mukjizat Ekaristi yang pasti terjadi dalam setiap Misa Kudus.
Semoga setiap devosi kepada para kudus, setiap penghormatan kepada relikui, setiap pengurapan dengan minyak yang diberkati, dan setiap doa penyembuhan selalu membawa kita kepada tujuan yang sama: perjumpaan yang semakin mendalam dengan Yesus Kristus.
Karena pada akhirnya, mukjizat terbesar bukanlah ketika tubuh kita dipulihkan, melainkan ketika hati kita diubah oleh kasih Allah. Dan perubahan itu dimulai setiap kali kita datang kepada Kristus yang hidup dalam Ekaristi.

Febry Silaban
Penulis buku dan artikel rohani, umat Paroki St. Laurentius, Alam Sutera.





