spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

FABC: Asia Terluka, Gereja Dipanggil Menjadi Jembatan

5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – Di tengah keberagaman agama, budaya, bahasa, dan etnis, Gereja Katolik di Asia dipanggil untuk tidak membangun tembok pemisah. Gereja harus hadir sebagai jembatan yang mempertemukan, mendamaikan, dan memulihkan kehidupan bersama.

Seruan itu mengemuka dalam konferensi pers Sidang Pleno XII Federasi Konferensi-Konferensi Waligereja Asia atau Federation of Asian Bishops’ Conferences (FABC) di Hotel Mulia, Jakarta, Senin, 20 Juli 2026. Pertemuan para uskup Asia tersebut berlangsung di Jakarta pada 20–26 Juli 2026.

Konferensi pers dihadiri Presiden FABC sekaligus Uskup Agung Goa dan Damão, India, Kardinal Filipe Neri Ferrão; Wakil Presiden FABC dan Ketua Komisi Sinodalitas, Kardinal Pablo Virgilio David dari Keuskupan Kalookan, Filipina; Sekretaris Jenderal FABC sekaligus Uskup Agung Tokyo, Jepang, Kardinal Tarcisius Isao Kikuchi, SVD; Ketua Kantor Komunikasi Sosial FABC sekaligus Uskup San Pablo, Filipina, Mgr. Marcelino Antonio M. Maralit Jr.; serta Sekretaris Jenderal Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) sekaligus Uskup Pangkalpinang, Mgr. Adrianus Sunarko, OFM.

Sidang pleno mengusung tema, “The Call to Synodal Conversion and the Mission to Be Bridges and Bridge-Builders in Asia” atau “Panggilan menuju Pertobatan Sinodal dan Perutusan Menjadi Jembatan serta Pembangun Jembatan di Asia”.

Kardinal Filipe Neri Ferrão mengatakan tema tersebut menyentuh langsung kenyataan masyarakat Asia. Benua ini memiliki kekayaan tradisi, agama, budaya, dan bahasa, tetapi pada saat yang sama menghadapi kemiskinan, konflik, migrasi, kerusakan lingkungan, korupsi, ketidakadilan, dan perubahan sosial yang sangat cepat.

Menurutnya, Gereja tidak dapat menjalankan misi dengan menutup diri dari pergulatan masyarakat. Pertobatan sinodal harus mendorong Gereja menjadi lebih terbuka, partisipatif, transparan, dan peka terhadap suara umat, terutama mereka yang miskin, tersingkir, dan jarang didengarkan.

Baca Juga:  Pastor Johanis Mangkey Merayakan HUT Ke-45 Imamat dengan Cara yang Berbeda

“Menjadi pembangun jembatan berarti bersedia keluar, mendengarkan, dan berjalan bersama. Gereja dipanggil untuk mempertemukan mereka yang berbeda, menyembuhkan luka, serta membuka jalan menuju perdamaian dan martabat manusia,” ujarnya.

Bagi Indonesia, tema tersebut menemukan simbol yang sangat kuat dalam hubungan antara Gereja Katedral Santa Maria Diangkat ke Surga dan Masjid Istiqlal, Jakarta. Kedua rumah ibadah itu bukan hanya berdiri berhadapan, tetapi juga dihubungkan oleh Terowongan Silaturahmi. Jembatan fisik itu menjadi gambaran tentang perjumpaan yang ingin diperjuangkan Gereja Asia di tengah masyarakat majemuk.

Pada akhir rangkaian sidang, para peserta dijadwalkan merayakan Ekaristi penutupan di Gereja Katedral Jakarta. Mereka kemudian akan mengunjungi Masjid Istiqlal dan berjalan melalui Terowongan Silaturahmi. Kunjungan tersebut menjadi penegasan bahwa dialog antaragama bukan sekadar pembicaraan di ruang konferensi, melainkan jalan konkret untuk membangun kepercayaan dan persaudaraan.

Menyentuh Persoalan Konkret Asia

Mgr. Marcelino Antonio M. Maralit Jr., yang menjadi juru bicara Sidang Pleno XII FABC, menjelaskan bahwa pertemuan ini bukan sekadar konferensi rutin para uskup. Sidang pleno dirancang sebagai pengalaman sinodal yang mempertemukan doa, refleksi, percakapan rohani, dan pembacaan terhadap tanda-tanda zaman.

“Para peserta tidak hanya membicarakan sinodalitas secara teoretis. Kami ingin menemukan cara-cara praktis untuk menerapkannya dalam kehidupan dan perutusan Gereja di seluruh Asia,” kata Uskup San Pablo tersebut.

Sepanjang pertemuan, para peserta mengikuti perayaan Ekaristi, refleksi rohani, sidang pleno, pertemuan regional, percakapan kelompok, serta metode Conversation in the Spirit atau Percakapan dalam Roh. Melalui proses itu, setiap peserta diajak mendengarkan satu sama lain dan bersama-sama mencari kehendak Roh Kudus bagi masa depan Gereja Asia.

Baca Juga:  Terobosan Keuskupan Purwokerto, Selamatkan Keluarga dari Jerat Finansial

Menurut Mgr. Maralit, FABC selama lebih dari lima dekade telah menjadi ruang bagi para uskup Asia untuk memikirkan arah perutusan Gereja di tengah perubahan masyarakat. FABC dibentuk setelah pertemuan bersejarah para uskup Asia ketika Paus Santo Paulus VI mengunjungi Manila, Filipina, pada 1970. Statuta federasi tersebut kemudian disetujui Takhta Suci pada 1972.

Sejak Sidang Pleno pertama di Taipei, Taiwan, pada 1974, para uskup Asia secara berkala membahas berbagai tema, seperti evangelisasi, doa, peran kaum awam, keluarga, Ekaristi, kemuridan Kristiani, dan Gereja domestik. Sidang pleno merupakan badan pengambilan keputusan tertinggi FABC dan biasanya diselenggarakan setiap empat tahun.

Sidang di Jakarta juga ditempatkan dalam rangkaian perjalanan Gereja universal setelah Konferensi Umum 50 Tahun FABC, Dokumen Bangkok 2023, Dokumen Akhir Sinode tentang Sinodalitas 2024, Tahun Yubileum Pengharapan 2025, serta awal masa kepausan Paus Leo XIV.

Kerukunan Tidak Boleh Berhenti sebagai Slogan

Kardinal Pablo Virgilio David menegaskan bahwa kehidupan masyarakat Asia tidak dapat dipisahkan dari keberagaman agama. Karena itu, dialog harus menjadi bagian penting dari identitas dan cara Gereja menjalankan perutusannya.

Dialog, menurut Uskup Agung Tokyo tersebut, tidak cukup dilakukan hanya pada tingkat pemimpin agama. Semangat perjumpaan harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari keluarga, sekolah, lingkungan, paroki, komunitas basis, hingga ruang-ruang sosial dan politik.

“Kerukunan tidak boleh berhenti sebagai slogan. Kerukunan harus diwujudkan melalui keberanian untuk saling mengenal, bekerja bersama, membela martabat manusia, dan menjaga rumah bersama,” katanya.

Baca Juga:  Mencermati Actus Immoralis Pejabat Publik

Ia menambahkan bahwa Gereja Asia juga perlu berani menyuarakan nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab publik di tengah persoalan korupsi. Korupsi bukan hanya perkara hukum atau politik, tetapi persoalan moral karena dampaknya paling berat dirasakan masyarakat miskin. Dana yang seharusnya digunakan untuk pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan pelayanan publik dapat hilang karena penyalahgunaan kekuasaan.

Krisis ekologis pun menjadi perhatian penting. Kerusakan hutan, pencemaran, perubahan iklim, bencana alam, serta eksploitasi sumber daya telah memaksa banyak masyarakat kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupan. Gereja, karena itu, dipanggil membangun jembatan antara kepentingan pembangunan dan perlindungan terhadap manusia serta alam.

Sidang Pleno XII FABC diikuti lebih dari 120 kardinal dan uskup yang mewakili 22 konferensi waligereja dan yurisdiksi gerejawi di Asia Tengah, Asia Timur, Asia Selatan, dan Asia Tenggara. Hadir pula perwakilan Takhta Suci, teolog, ahli, fasilitator, moderator, pengamat, dan anggota Sekretariat FABC.

Paus Leo XIV menunjuk Uskup Agung Emeritus Bombay, India, Kardinal Oswald Gracias, sebagai utusan khusus untuk menghadiri sidang ini. Pro-Prefek Dikasteri untuk Evangelisasi Kardinal Luis Antonio Tagle memimpin hari rekoleksi, sedangkan Sekretaris Jenderal Sekretariat Umum Sinode Kardinal Mario Grech menyampaikan paparan utama mengenai jalan-jalan penerapan sinode. Para peserta juga dijadwalkan menerima pesan video dari Paus Leo XIV.

Pertemuan ini diharapkan menghasilkan dua dokumen utama, yakni Dokumen Akhir yang dirancang sebagai pedoman praktis sinodalitas bagi Gereja-Gereja lokal di Asia dan Pesan kepada Gereja di Asia.

Yusti H. Wuarmanuk

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles