spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Pastor Johanis Mangkey Merayakan HUT Ke-45 Imamat dengan Cara yang Berbeda

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Tahun 1966, ada 40 orang lulusan sekolah rakyat masuk Seminari Menengah Kakaskasen. Tiga di antaranya, setelah melanjutkan pendidikan di Seminari Tinggi Pineleng dan proses laiinnya bisa ditahbiskan menjadi pastor pada 29 Juni 1981 oleh Uskup Manado Mgr. Theodorus HAJ Moors MSC di Gereja Katedral Manado.

Ketiga imam tersebut adalah Pastor Johanis Mangkey MSC, Pastor Aloysius Roong MSC dan Pastor Fransiskus Rares MSC. Kedua nama yang disebutkan terakhir (Pastor Roong dan Pastor Rares) telah meninggal dunia. Yang tertinggal hanya Pastor Yance (panggilan akrab Pastor Johanis Mangkey)

Memperingati 45 Tahun Imamatnya, Pastor Yance mengadakan acara syukuran di kompleks seminari, yang menjadi pintu awalnya untuk pelayan Tuhan sebagai pastor.

Pastor Yance ingin datang ke seminari almamaternya untuk bersyukur bersama para seminaris dan staf serta kenalan, yang sebenarnya sudah direncanakan 5  tahun lalu, namun karena situasi Covid-19, perayaan tersebut dibatalkan.Rencana tersebut baru bisa direalisasikan pada Sabtu (18/7/2026).

Perayaan Ekaristi yang dipimpin Uskup Manado Mgr. Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC di dampingi 18 pastor. Pastor Yance (paling kiri) (Foto: HIDUP/Lexie Kalesaran)

Kehadiran Pastor Yance bukan hanya sekedarnya semata tapi ada sesuatu yang ingin diwujudnyatakan, yakni ingin memberikan makna tertentu untuk almamater tercintanya.

Baca Juga:  FABC: Asia Terluka, Gereja Dipanggil Menjadi Jembatan

Sesuatu yang dimaksud adalah ingin berziarah ke makam dua rekan imam seangkatannya yang telah meninggal, yang dikuburkan di area pekuburan bersama puluhan imam yang terletak di belakang kompleks seminari serta menyumbangkan donasi untuk pembangunan aula, yang berfungsi sebagai tempat  para seminaris berekreasi.

Ada donasi dengan jumlah tertentu yang langsung diserahkan tapi ada juga yang berupa hasil penjualan buku tulisannya (45 Tahun Imamatku: Hendaknya Terangnu Bercahaya di Depan Orang) yang dilaunching pada peringatan 45 tahun imamatnya di Kompleks Seminari Kakaskasen.

Selain dua acara tersebut, peringatan syukur tahbisan imamatnya diwarnai pula dengan perayaan ekaristi yang dipimpin Uskup Manado Mgr. Benedictus Estephanus Rolly Untu, MSC di dampingi 18 imam termasuk Pastor Yance dan Rektor Seminari Kakaskasen Pastor Danny Surentu MSC.

Para pastor yang mendampingi Mgr. Rolly saat perayaan ekaristi menperingati HUT ke-45 imamat Pastor Yance (HIDUP/Lexie Kalesaran)

Dalam samburannya, Pastor Yance menjelaskan perjalanan panjang mulai dari saat ia masuk Seminari Kakaskasen, setelah lulus Sekolah Rakyat Katolik Tataaran II hingga keberadaannya saat ini.

Baca Juga:  Terobosan Keuskupan Purwokerto, Selamatkan Keluarga dari Jerat Finansial

Dalam perayaan ini, Pastor Yance mengambil panduan refleksi teks Kitab Suci yakni Hendaknya terangnu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatannu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di Surga (Matius 5 : 16).

Dikemukakan, ungkapan Yesus, yang merupakan bagian dari kotbah di Bukit tentang Sabda-sabda  Bahagia tersebut menginspirasinya untuk direfleksilan secara lebih mendalam serta menemukan maknanya dalam penghayatan dan pengamalan imamatnya.

“Saya ingin agar terang itu bercahaya melalui pelayanan dan perbuatan baik agar Bapa di Surga yang dimuliakan,” ujar mantan Provinsial MSC Indonesia ini.

Uskup Manado dalam sambutannya mengatakan, apa yang sudah dibuat oleh Pastor Yance selama dalam tugas panggilannya sebagai imamat sungguh luar biasa.

Lewat motto tahbisan imamat Pastor Yance yakni ‘Ia harus semakin besar tetapi aku harus makin kecil,’ sebut Mgr. Rolly,  kita melihat kebesaran yang dibuatnya dengan spiritualitas yaitu semangat yang dihidupi dan dijiwai serta dirangkum dalam rupa-rupa sudut pandang dan lain-lain, yang kemudian menjadi kesaksian bagi kita semua yang hadir pada perayaan ini.

Baca Juga:  Mencermati Actus Immoralis Pejabat Publik

Selain itu, apa yang dibuat Pastor Yance, menurut Mgr. Rolly, juga sesuai dengan bacaan yakni Sekiranya aku hendak bermegah juga, aku bukan orang bodoh lagi, karena aku mengatakan kebenaran.

Setelah menempuh perjalanan di Seminari Kakaskasen dan Seminari Pineleng, sebut Mgr. Rolly, terlihat tanda-tanda kebijakan dan kecerdasan Pastor Yance, seperti yang sudah disebut Pastor Dammy Pongoh  saat menyampaikan homili dan Pastor Danny Surentu saat memberi sambutan.

Ia  berharap, kelebihan seperti yang ditunjukkan Pastor Yance bisa menjadi pedoman bagi para seminaris dan para imam dalam berkarya, menjalankan panggilan imamat.

Motto tahbissn imamat Pastor Yance, menurut Mgr. Rolly, menunjukkan kerendahan hatinya, seperti yang telah ditunjukkan Yesus Kristus, yang menanggalkan kemuliaan dan kesetaraanNya dengan Allah yang turun untuk mengangkat kita agar memperoleh kebahagiaan keilahian Yesus sendiri. “Saya kira, ini menjadi dan mewarnai sepak terjang Pastor Yance,” ujarnya.

Lexie Kalesaran (Manado)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles