spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Uskup Maumere Mgr. Edwaldus Martinus Sedu: Apa yang Layak Dicari dalam Hidup

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Renungan Minggu, 26 Juli 2026, Hari Minggu Biasa XVII (Hari Orang Tua, Kakek dan Nenek Sedunia), 1Raj.3:5,7–12; Mzm.119:57,72,76–77,127–130; Rm.8:28–30; Mat.13:44–52 (panjang) atau Mat.13:44-46 (singkat).

DI tengah kehidupan yang bergerak cepat, manusia mudah percaya bahwa yang paling layak dicari adalah apa yang kelihatan: kestabilan, keberhasilan, pengaruh, atau rasa aman. Kita pun belajar sejak dini untuk mengejar sesuatu, membangun sesuatu dan mempertahankan sesuatu. Namun jarang kita berhenti cukup lama untuk bertanya: pada akhirnya, apa yang sungguh layak dicari dalam hidup?

Liturgi hari ini tidak menjawab pertanyaan itu dengan teori, melainkan dengan jalan rohani, sebuah peziarahan panjang di mana manusia dalam hidupnya membutuhkan kehadiran Allah. Jalan itu dimulai dari seorang raja muda yang sadar akan keterbatasannya, dilanjutkan oleh seorang pemazmur yang jatuh cinta pada firman Tuhan, diperdalam oleh Santo Paulus yang memandang hidup dalam terang rencana Allah, dan mencapai puncaknya dalam Tuhan Yesus yang menyebut Kerajaan Surga sebagai harta terpendam dan mutiara yang tak ternilai.

Salomo, dalam Bacaan Pertama, tampil bukan dalam kebesaran takhta, tetapi dalam kejujuran seorang hamba. Ketika Tuhan berkata, “Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu,” ia tidak memohon apa yang lazim dicari manusia: umur panjang, kekayaan, atau kemenangan atas musuh. Ia meminta hati yang memahami, hati yang mampu membedakan yang baik dan yang jahat. Justru karena itulah Tuhan berkenan kepadanya dan mengaruniakan hikmat yang besar.

Baca Juga:  PUKAT Keuskupan Banjarmasin: “Membangun Budaya Berkelanjutan Melalui Pertobatan Ekologis”

Teks ini memperlihatkan bahwa di hadapan Allah, yang paling berharga bukanlah tangan yang penuh, melainkan hati yang terbuka. Bukan banyaknya harta milik, melainkan kejernihan batin untuk mengenali kehendak-Nya. Permintaan Salomo ini menunjukkan apa yang sesungguhnya diharapkan oleh para orang tua, kakek dan nenek dari generasi muda masa kini, yakni bijak untuk memilih apa yang benar-benar dibutuhkan untuk masa depan mereka.

Mazmur 119 meneguhkan nada yang sama. Pemazmur bersaksi bahwa Taurat Tuhan lebih berharga daripada ribuan keping emas dan perak, dan bahwa penyingkapan Firman Tuhan memberi terang dan pengertian kepada orang sederhana. Firman Tuhan bukan sekadar aturan moral; ia adalah cahaya yang menolong manusia melihat kenyataan dengan benar. Tanpa terang itu, kita bisa tampak berhasil di mata dunia, tetapi jiwa kita binggung dan kehilangan arah.

Baca Juga:  Terpilih Dewan Nasional OFS Indonesia dalam Kapitel VII di Pontianak

Sementara itu dalam Injil, Yesus berbicara dengan bahasa yang sangat manusiawi: harta, mutiara, penemuan, dan keputusan. Kerajaan Surga seumpama harta yang terpendam di ladang; juga seumpama mutiara yang sangat berharga. Orang yang menemukannya menjual segala miliknya untuk memperoleh harta itu. Yang menggetarkan adalah alasan batiniahnya: ia melakukannya dengan sukacita. Jadi, pusat Injil hari ini bukan pertama-tama tentang kehilangan, melainkan tentang penemuan. Orang hanya berani melepaskan banyak hal bila ia telah melihat sesuatu yang jauh lebih bernilai. Di situ Yesus mengajar kita bahwa Allah bukan tambahan bagi hidup, melainkan harta yang membuat seluruh hidup memperoleh arti yang benar.

Selanjutnya Santo Paulus memberi dasar terdalam bagi semua ini. Ia menulis bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu mereka yang terpanggil menurut rencana-Nya. Bahkan tujuan akhir dari panggilan itu adalah agar manusia menjadi serupa dengan Anak-Nya. Maka pencarian Kristiani ternyata bukan sekadar usaha manusia menemukan Allah, tetapi juga misteri Allah yang lebih dahulu mencari, memanggil, membentuk, dan menuntun manusia kepada kepenuhan hidup dalam Kristus.

Baca Juga:  Mengapa Kejujuran Menjadi Nilai yang Sangat Penting bagi Kehidupan

Pada titik ini, Sabda Tuhan menjadi sangat pribadi. Mungkin kita tidak menyembah emas, tetapi bisa saja hati kita diam-diam dikuasai oleh banyak hal yang fana: keinginan untuk diakui, ketakutan akan masa depan, kebutuhan untuk selalu berhasil, atau dorongan untuk menguasai hidup sepenuhnya. Sabda Tuhan hari ini mengundang kita untuk menata ulang pusat pencarian kita. Bukan agar kita membenci dunia, melainkan agar kita tidak salah menilai. Sebab yang fana dapat dipakai, tetapi tidak dapat dijadikan tujuan akhir.

Jadi, apa yang layak dicari dalam hidup? Jawabannya adalah hikmat untuk mengenali kehendak Allah, firman yang menerangi langkah, dan Kerajaan Allah yang melebihi segala sesuatu. Ketika seseorang menemukan itu, ia tidak selalu memiliki hidup yang mudah, tetapi ia memiliki arah.

“Yang paling berharga bukanlah tangan yang penuh, melainkan hati yang terbuka.”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles