HIDUPKATOLIK.COM -Ribuan umat Katolik asal Flores Timur dan Lembata yang menetap di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) berkumpul dalam Misa Syukur Tahbisa Episkopal Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, di Graha Zenit, Minggu, 26 Juli 2026. Perayaan bertema “Dalam Satu Pengharapan, Kita Dipersatukan” – Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes – itu menjadi momentum perjumpaan iman sekaligus penguatan persaudaraan di antara umat diaspora Keuskupan Larantuka.
Kurang lebih 2.500 umat menghadiri perayaan tersebut. Mereka datang membawa kerinduan akan kampung halaman sekaligus sukacita menyambut gembala baru Keuskupan Larantuka. Mgr. Yohanes Hans Monteiro ditahbiskan sebagai Uskup Larantuka pada 11 Februari 2026 di Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka, setelah ditunjuk oleh Paus Leo XIV pada 22 November 2025.

Kemeriahan sudah terasa sejak kedatangan Mgr. Hans. Sang Uskup disambut dengan tarian hedung, tarian tradisional Flores Timur yang melambangkan keberanian, penghormatan, dan persaudaraan. Tua-tua adat Larantuka kemudian melaksanakan upacara penerimaan secara adat sebagai ungkapan hormat dan sukacita masyarakat Flores Timur-Lembata atas kehadiran gembala mereka.
Selepas prosesi adat, perayaan Ekaristi dimulai. Mgr. Hans bertindak sebagai selebran utama dan didampingi 12 imam konselebran asal Keuskupan Larantuka. Nuansa budaya Flores terasa kuat melalui tata perayaan, nyanyian kor, tarian, serta keterlibatan umat dari berbagai kelompok usia. Orang tua, kaum muda, hingga anak-anak mengambil bagian dalam perayaan tersebut.
Rosario: Harta Umat Larantuka
Dalam homilinya, Mgr. Hans merefleksikan bacaan Injil Matius 13:44–52 tentang Kerajaan Surga yang digambarkan sebagai harta terpendam, mutiara yang sangat berharga, dan pukat yang dilabuhkan ke laut. Perumpamaan itu kemudian ditempatkannya dalam pengalaman umat Flores Timur dan Lembata yang meninggalkan kampung halaman untuk bekerja dan membangun kehidupan di tanah perantauan.
Menurutnya, para perantau mungkin tidak akan menemukan harta karun secara harfiah ketika kembali ke Flores. Namun, masyarakat Katolik Flores sesungguhnya telah membawa sebuah kekayaan rohani yang selalu menyertai perjalanan mereka: rosario.
“Kekayaan umat Katolik Flores yang dibawa ketika merantau adalah rosario,” ujar Mgr. Hans.

Rosario bukan sekadar benda yang disimpan di dalam tas atau digantungkan di leher. Di balik setiap butirnya tersimpan doa, iman keluarga, kenangan akan orang tua, dan pengharapan kepada Tuhan. Rosario menjadi bekal yang menghubungkan para perantau dengan akar iman mereka – baik ketika mengalami keberhasilan maupun saat berhadapan dengan kesulitan hidup di kota besar.
Mgr. Hans menegaskan bahwa manusia diciptakan menurut citra Allah atau imago Dei. Karena itu, tidak ada harta duniawi yang dapat melampaui martabat manusia sebagai ciptaan Allah. Namun, harta terbesar yang harus ditemukan dan dipertahankan umat beriman adalah Yesus Kristus.
“Harta yang utama ada di dalam Yesus. Untuk memperoleh harta yang lebih besar, kita perlu tinggal di dalam Dia agar memperoleh kehidupan kekal,” katanya.
Ia mengingatkan umat bahwa kekayaan duniawi bukan tujuan terakhir kehidupan. Segala sesuatu yang diperoleh melalui kerja keras – jabatan, harta, pendidikan, maupun keberhasilan – perlu digunakan untuk membangun kehidupan yang lebih bermartabat dan menjadi bekal menuju kehidupan surgawi.
Untuk menemukan “mutiara-mutiara berharga” itu, lanjut Mgr. Hans, manusia membutuhkan kebijaksanaan. Kebijaksanaan menolong seseorang membedakan mana yang hanya menyenangkan sesaat dan mana yang sungguh bernilai bagi kehidupan. Iman kepada Kristus menjadi penuntun agar manusia tidak kehilangan arah di tengah tuntutan hidup dan persaingan dunia.
Pertemuan tersebut juga menegaskan bahwa diaspora Flores Timur-Lembata tidak sekadar dipersatukan oleh kesamaan daerah asal, bahasa, atau kebudayaan. Mereka terutama dipersatukan oleh satu iman, satu Roh, dan satu pengharapan. Di tengah kesibukan hidup di Jabodetabek, perayaan itu menjadi ruang untuk kembali menemukan identitas, mempererat persaudaraan, serta merawat hubungan dengan Keuskupan Larantuka.
Pesan sang gembala, “Umat boleh pergi jauh meninggalkan kampung halaman, tetapi jangan sampai meninggalkan akar imannya.” Sebab, rosario yang dibawa dalam perjalanan dan Kristus yang tinggal di dalam hati merupakan harta yang tidak akan pernah habis – sebuah kekayaan yang dapat menuntun para perantau pulang kepada Tuhan.
Yusti H. Wuarmanuk






