spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Crab Mentality: dari Kritik ke Penghakiman

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Media sosial beberapa waktu terakhir diramaikan oleh pernyataan seorang WNI yang mengatakan, “cukup aku saja yang WNI, anak-anakku jangan.” Pernyataan ini memicu kemarahan publik karena dianggap merendahkan tanah air. Perempuan tersebut diketahui sebagai penerima beasiswa pemerintah Indonesia yang membawanya menempuh pendidikan di Inggris.

Reaksi publik pun meluas. Sosok yang kemudian dijuluki “Mba Saset” oleh netizen ini menjadi sasaran penelusuran, bahkan penghakiman di ruang digital. Tidak sedikit yang merasa tersinggung, dan itu dapat dimengerti. Siapa yang rela tanah kelahirannya direndahkan?

Kita memang harus jujur mengakui bahwa Indonesia belum sempurna. Persoalan korupsi, infrastruktur, hingga ketimpangan sosial masih menjadi pekerjaan rumah. Namun, ketidaksempurnaan itu tidak serta-merta menjadi alasan untuk merendahkan identitas kita sendiri. Apalagi, pendidikan yang diperoleh juga berasal dari dana publik yaitu dari pajak masyarakat.

Namun, di balik kemarahan itu, muncul pertanyaan yang lebih dalam: apakah reaksi kita masih dalam batas wajar, atau justru sudah melampaui batas dengan menghakimi pribadi seseorang?

Dalam iman Katolik, kita diingatkan, “Janganlah kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi” (Mat 7:1). Kritik tetap perlu, tetapi tidak boleh menghilangkan martabat manusia. Setiap orang tetap layak dihargai, bahkan ketika ia keliru.

Baca Juga:  Pesan Uskup pada Perayaan Misa Hari Kakek Nenek dan Lansia Se-dunia 2026 se-Dekenat Banjarmasin: Jangan Kecewa dengan Hidup!”

Fenomena ini tidak berhenti di satu kasus. Netizen kemudian meluas mencari tahu kontribusi para penerima beasiswa luar negeri: di Amerika Serikat, Inggris, Belanda, Australia, dan negara lainnya. Bahkan ketika ada figur publik yang menjelaskan kontribusinya, respons yang muncul tetap bernada meremehkan. Seolah-olah kontribusi itu tidak cukup “besar” untuk dianggap layak.

Pernyataan Cinta Laura tentang orang kaya yang sebaiknya tidak mengambil beasiswa pun kembali diangkat. Ada benarnya—banyak anak bangsa yang memiliki potensi, tetapi terbatas secara ekonomi. Namun, persoalannya tidak sesederhana itu.

Jika dicermati, fenomena ini menyerupai witch-hunt—pencarian kesalahan yang disertai tuduhan tanpa ukuran yang jelas. Dalam konteks sosial, ini sering berakar pada apa yang disebut sebagai crab mentality: kecenderungan untuk merasa tidak nyaman melihat orang lain berhasil, bahkan secara tidak sadar ingin “menarik turun”.

Padahal, dalam terang iman, hidup manusia tidak diukur hanya dari pencapaian yang terlihat. Gereja mengajarkan tentang martabat manusia yang melekat pada setiap pribadi (bdk. Gaudium et Spes, 27). Artinya, pilihan hidup seseorang – termasuk menjadi ibu rumah tangga—tidak bisa direduksi menjadi “tidak berkontribusi”. Setiap panggilan hidup memiliki nilai di hadapan Tuhan.

Baca Juga:  Usai Terpilih Sebagai Ketua Presidium PP PMKRI, Delvis Rettob Serukan Soliditas untuk Saling Membesarkan

Sayangnya, ruang digital sering kali tidak memberi ruang bagi kompleksitas itu. Perempuan, misalnya, kerap menjadi sasaran penilaian: ketika berkarier dikritik, ketika memilih keluarga pun dipersoalkan. Seolah-olah hidup harus selalu memenuhi ekspektasi publik.

Hal serupa terlihat dalam fenomena selebgram yang hidupnya dianggap “terlalu sempurna”: keluarga harmonis, kehidupan mapan, dan keseharian yang tampak bahagia. Tidak sedikit yang memilih berhenti mengikuti akun tersebut karena merasa terganggu.

Padahal, persoalannya sering kali bukan pada apa yang ditampilkan, tetapi pada apa yang kita rasakan. Hati yang dipenuhi iri akan mudah melihat segala sesuatu sebagai pamer. Sebaliknya, hati yang damai justru mampu bersyukur dan bahkan mendoakan kebahagiaan orang lain.

Media sosial pada dasarnya adalah ruang bebas. Orang berhak membagikan kehidupan mereka—selama tidak melanggar norma. Bahkan memamerkan barang mewah seperti Rolex, Richard Mille, atau Cartier pun tidak selalu salah, selama diperoleh dengan cara yang benar. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana kita meresponsnya.

Karena pada akhirnya, kita tidak bisa mengendalikan orang lain, tetapi kita bisa mengendalikan diri kita sendiri. Memang tidak mudah. Ketika kita membagikan prestasi, sering dianggap pamer. Padahal bisa jadi itu ungkapan syukur atas talenta yang Tuhan berikan, atau bahkan bentuk inspirasi bagi orang lain. Dalam situasi seperti ini, kedewasaan menjadi penting: tidak larut dalam komentar negatif, tetapi tetap jujur pada niat baik.

Baca Juga:  Konvenda III BPPG Samarinda di Keuskupan Banjarmasin: Terang Kristus di Bumi Borneo

Rasul Paulus pernah menulis, “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis” (Rm 12:15). Sebuah ajakan sederhana, tetapi mendalam – bahwa hidup bersama tidak diwarnai oleh iri hati, melainkan oleh empati.

Memasuki tahun 2026, kita sebenarnya diingatkan akan satu hal penting: belajar bijak dalam bermedia sosial. Tidak berlebihan dalam mengunggah, tidak berlebihan dalam bereaksi, dan belajar menerima diri sendiri dengan lebih utuh.

Barangkali yang perlu kita bangun bukan hanya citra di media sosial, tetapi juga hati yang lebih lapang. Berhenti mencari kesalahan orang lain, dan mulai fokus pada hal-hal yang sungguh membangun. Sebab pada akhirnya, membangun Indonesia tidak selalu dimulai dari hal besar. Ia bisa dimulai dari cara kita memperlakukan sesama: dengan lebih adil, lebih jernih, dan lebih manusiawi.

Caecilia Stella

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles