spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Karunia S³ (Sakinah, Sehat, Sejahtera) Lewat Ketenangan Mindset sebagai Salah Satu Solution Of Everyone (SOE)

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – KEHIDUPAN modern hari ini sering kali menghadirkan gelombang tekanan yang luar biasa. Di tengah realitas global yang penuh ketidakpastian – mulai dari krisis ekonomi, kompetisi sosial yang ketat, hingga berbagai persoalan hidup sehari-hari – manusia modern rentan terjebak dalam lingkaran kecemasan (stress). Persoalan-persoalan ini tidak hanya menguras energi fisik, tetapi juga merusak kedamaian batin. Dalam situasi semacam ini, manusia sering kali lupa bahwa anugerah terbesar telah disematkan dalam diri melalui Sang Pencipta. Tanpa karunia S³ (Sakinah, Sehat, Sejahtera) dari Tuhan, perjalanan hidup akan terasa hampa, berat, dan kehilangan arah.

Oleh karena itu, untuk menjembatani kerumitan hidup ini, kita memerlukan instrumen sederhana namun berdampak besar. Salah satunya adalah penerapan 3 kata ajaib (terima kasih, maaf, tolong) sebagai SOE (Solution Of Everyone) supaya – aku, kamu, kita – belajar untuk mengungkapkan 3 kata ajaib ini dalam interaksi sosial sehari-larinya. Kata-kata ini bukan sekadar etika sosial, melainkan kunci pembuka harmoni antarmanusia yang meredakan ketegangan kolektif di tengah dunia yang kian individualistis.

Harmoni Tubuh, Pikiran, dan Jiwa melalui Pendekatan MBA

Melangkah lebih jauh ke dalam dimensi internal manusia, kita mengenal konsep MBA (Mindset, Body, All intakes). Dalam diri manusia, terdapat integrasi utuh antara body (tubuh), mind (pikiran), dan soul (jiwa) serta hati yang spiritual. Jika salah satu elemen ini sakit atau terganggu, maka kondisi lainnya tidak akan harmonis.

Pikiran manusia – baik aku, kamu, maupun kita – terdiri dari dua lapis: pikiran sadar (conscious mind) dan pikiran bawah sadar (subconscious mind). Pikiran bawah sadar adalah potensi terbesar yang dimiliki oleh manusia karena 90 persen dari keseluruhan kekuatan pikiran manusia terletak di sana. Di tempat inilah tersimpan semua pengalaman, kepribadian, kebiasaan, harapan, ingatan, bahkan hal-hal yang diyakini dan dipikirkan secara tak sadar.

Maka, betapa pentingnya ketenangan dan keheningan dalam keseharian saat menghadapi berbagai kecemasan (stress) akibat berbagai persoalan hidup. Menghadapi realitas krisis yang silih berganti, Prof. Dr. dr. Luh Ketut Suryani membagikan tips ketangguhan mental di tengah pandemi dan situasi sulit lainnya, bahwa hampir semua orang mengalami perasaan cemas, bingung, sedih, dan takut. Tetapi, selalu ada sisi positifnya, terutama dengan berpengharapan pada Tuhan agar kita tetap tenang dan mampu menemukan jalan keluar yang terang.

Hal senada juga diingatkan oleh Prof. Erik Peper, Ph.D, yang menegaskan betapa pentingnya keharmonisan tindakan-jasmani, pikiran, jiwa, dan hati yang hening. Gelombang keheningan ini dapat diukur sesuai dengan formula neurotechnology dan terbukti mampu mendatangkan Solution of Everyone (SOE).

Kekuatan Senyuman dan Tawa sebagai Terapi Genetik

Agar bisa berlatih lebih kreatif, tetap sehat, dan lebih awet muda, senyuman adalah salah satu alternatif yang paling mujarab. Senyuman tulus adalah karunia gratis dari Sang Pencipta. Prof. Erik Peper, Ph.D mengatakan bahwa perilaku motorik dengan senyum yang ikhlas membantu merangsang pertumbuhan saraf otak. Jika hal ini diikhtiarkan secara PPP (Patience, persistence, and perspiration) – yakni kesabaran, kegigihan, dan kerja keras – maka kita perlu melatih pernapasan dengan sehat dan benar. Pernapasan diafragma harus dilakukan secara pelan, rata, dan tanpa paksaan, sebab saat ini gen kita (aku, kami, kita) sangat membutuhkan senyuman untuk bertahan hidup.

Bahkan, Prof. Kazuo Murakami, seorang ahli genetika terkemuka, mengungkapkan bahwa senyuman adalah sakelar terkuat yang bisa menyalakan gen kita menjadi on. Dalam pandangannya, tawa dan senyum bukan sekadar ekspresi emosional, melainkan indikasi dari emosi positif pada ekspresi gen (DNA). Dalam penelitiannya, ia menemukan bahwa 23 gen teraktivasi berkat tertawa, salah satunya adalah gen reseptor D4 dopamin (DRD4), yang dapat dikaitkan dengan terhambatnya enzim adenylyl yang berperan dalam meningkatkan glukosa darah.

Mengapa kita perlu tertawa? Karena kita hidup dalam kepenatan dunia. Oleh karena itu, tertawa harus dilakukan tanpa syarat. Tawa terbukti mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh; bahkan, 1 menit tertawa setara dengan berlari sejauh 1 kilometer. Di sisi lain, Dr. Lee S. Berk dari Universitas Loma Linda, California, AS, memperkuat temuan ini dengan menyatakan bahwa tawa membantu membunuh sel-sel alami yang merugikan di dalam tubuh.

Transformasi Hidup melalui Buah Senyum, Terima Kasih, dan Tawa

Sebab senyuman adalah ibadah atau senyum adalah obat yang manjur, maka buah dari Smile (S) dan Thank (T) – atau buah dari Smile, Exhale, Thank (SET) – membuktikan bahwa hati yang gembira adalah obat yang paling mujarab. Betapa dahsyatnya efek senyum dan terima kasih: dengan menabur senyum, kita akan menuai cinta kasih.

Orang dapat memperoleh berkah dari SET; SeT mendatangkan rezeki, membantu mengendalikan emosi, hingga mendukung proses penyembuhan dari berbagai penyakit fisik seperti wasir dan keluhan lainnya. Maka, jangan malas berlatih. Melalui TranCe (Transition Changing Experience), terjadi perubahan nyata dari rasa malas berlatih menjadi rajin berlatih, serta dari rasa putus asa menjadi kemampuan menemukan semangat hidup yang menyala-nyala.

Selain itu, tawa juga membuat seseorang tampak awet muda. Tawa dapat mengencangkan otot-otot perut dan memberikan pijatan alamiah yang sangat bermanfaat bagi kesehatan seluruh organ internal. Orang yang suka tertawa selalu tampak lebih ceria, ramah, dan bergairah dalam menjalani hari-harinya.

Pentingnya tertawa dan tersenyum ini juga dibuktikan oleh Prof. Dr. Shigeaki Hinohara, seorang dokter senior yang sukses menjalani hidup dengan usia melewati 100 tahun dalam keadaan sehat dan penuh energi, berkat kebiasaannya terus menebarkan senyum cerah. Senyum adalah bagian dari gerak tubuh yang diekspresikan secara alamiah. Sekali lagi, senyum adalah relation chemistry gratis dari Sang Pencipta. Bahkan, menurut Lee Seung Hwan, pakar peneliti gelombang otak dalam buku pernapasan otak, tersenyum adalah salah satu latihan otak terbaik yang bisa dilakukan oleh manusia.

Refleksi Kontekstual: Senyuman dalam Pelayanan dan Kehidupan Sehari-hari

Kekuatan transformatif dari senyuman, keheningan batin, dan olah pernapasan ini menemukan relevansinya yang sangat mendalam ketika ditarik ke dalam realitas pelayanan rohani serta kehidupan umat awam masa kini. Ironisnya, dalam realitas pelayanan pastoral sehari-hari, kita kerap menjumpai para Romo, pelayan altar, atau tokoh agama yang tampak begitu lelah, terbebani oleh rutinitas administratif gereja, hingga seringkali lupa menghadirkan senyuman hangat bagi umatnya. Wajah-wajah yang kaku, terburu-buru, dan kurang ramah terkadang tanpa sadar menciptakan jarak psikologis antara pelayan dan umat. Padahal, umat awam yang datang beribadah seringkali sudah membawa beban hidup, kecemasan (stress), dan persoalan berat dari rumah masing-masing.

Jika seorang pelayan rohani (Romo) mampu mengintegrasikan konsep MBA (mindset, body, all intakes) dan memancarkan senyuman tulus sebagai sakelar yang mengaktifkan gen positif (on), maka ruang peribadatan dan paroki akan berubah menjadi SOE (Solution of Everyone) yang menyejukkan. Senyuman seorang Romo bukanlah sekadar basa-basi sosial, melainkan relation chemistry gratis dari Sang Pencipta yang mampu meredakan kecemasan umat, menumbuhkan pengharapan, serta mencerminkan kerahiman ilahi itu sendiri. Sebaliknya, umat awam juga dipanggil untuk saling menebarkan energi positif ini di tengah keluarga dan lingkungan kerja mereka. Dengan mempraktikkan senyum, ucapan terima kasih, dan tawa yang tulus berlandaskan karunia S³ dari Tuhan, pelayanan gereja tidak lagi kaku, melainkan menjadi ruang perjumpaan yang menyembuhkan, memerdekakan, dan menghidupkan.

Yustinus Hendro W

Bersambung…

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles