spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Andrea Bocelli: Jadikanlah Aku Alat Kehendak-Mu

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – ENAM puluh tujuh tahun silam, seorang perempuan muda asal Italia bernama Edi Bocelli tengah mengandung anak pertamanya. Akibat radang usus buntu ia dirawat di rumah sakit. Melihat kondisi Edi yang lemah, para dokter menyarankannya untuk mengugurkan kandungannya sebab berdasarkan hasil pemeriksaan, sang bayi akan lahir dengan suatu disabilitas.

Hatinya tentu hancur, tetapi sebagai seorang Katolik yang taat, Edi menolak anjuran itu. Meskipun setelah putranya lahir pada 22 September 1958, apa yang diperkirakan para dokter memanglah terjadi. Putranya yang diberi nama Andrea Bocelli itu lahir dengan glaucoma bawaan dan oleh karena itu menjadi sepenuhnya buta pada usia 12 tahun.

Meskipun tak dapat melihat, Andrea dilahirkan dengan anugerah lain. Salah satu yang sangat menonjol adalah suaranya. Suaranya disebut sebagai yang terindah di dunia. Hal ini diaminkan penyanyi ternama Celine Dion yang berujar, “Jika Tuhan memiliki suara untuk bernyanyi, maka suaranya pasti mirip dengan Andrea Bocelli.”

Dan memang, album-album Andrea Bocelli telah terjual lebih dari 90 juta kopi. Tercatat album tahun 1999-nya, Sacred Arias, merupakan album solo artis klasik terlaris dalam sejarah. Sementara singelnya tahun 1996, “Con Te Partirò” ‘Denganmu Aku akan Pergi’, menjadi salah satu singel terlaris sepanjang masa. Ia juga telah bernyanyi unutk para presiden, perdana menteri, dan Paus. Ia bahkan dinobatkan sebagai salah satu dari lima puluh orang tertampan di dunia oleh People Magazine.

Inspirasi

Pada tahun 2010, ia menceritakan kisah ibunya dalam sebuah video berjudul “Andrea Bocelli—His Unknown Story That Touches Hearts”. Duduk di depan piano, setelah menceritakan keputusan ibunya untuk tidak menggugurkan dirinya, ia menambahkan, “Mungkin saya berpihak, tetapi saya bisa mengatakan bahwa itu adalah pilihan yang tepat.”

Ia mengaku kepada sebuah surat kabar Italia bahwa ia terinspirasi untuk membagikan kisahnya berkat seorang misionaris di Haiti yang bekerja dengan anak-anak dan perempuan yang menghadapi kehamilan sulit. “Karena keyakinan pribadi saya sebagai seorang Katolik yang taat,” ungkapnya, “Saya bukan hanya melawan sesuatu, tetapi saya memperjuangkan sesuatu dan saya berpihak pada kehidupan.”

Video itu pun menjadi viral di tengah gerakan pro-choice yang semakin menggila. Bocelli berharap kisah tersebut dapat “memberi penghiburan bagi mereka yang berada dalam situasi sulit dan yang terkadang hanya perlu merasa bahwa mereka tidak sendirian.” Dengan cara ini, kisahnya membantu mengingatkan tiap orang pada karya penting pusat-pusat pendampingan kehamilan, yang juga hadir untuk mengingatkan para perempuan yang menghadapi kehamilan sulit bahwa mereka tidak sendirian. Dukungan dan penghiburan yang mereka berikan membantu para perempuan memilih kehidupan, sebagaimana yang dilakukan oleh ibunya.

Bunda Maria

Terutama pada masa seperti ini, kisahnya mengingatkan akan peran kehamilan yang penuh tantangan dalam kisah penebusan. Tentu sangat mudah dewasa ini untuk melupakan bahwa Tuhan memberi Bunda Maria pilihan untuk berkata “tidak.” Tetapi sebagai umat Katolik haruslah menjawab, “jadilah padaku menurut kehendak-Mu,” serupa dengan kata-kata yang digaungkan oleh Edi Bocelli dan tak terhitung banyaknya perempuan sepanjang zaman yang mempertahankan kehamilannya.

Dalam perjalanannya, Andrea merefleksikan bahwa iman bukan sekadar identitas belaka, melainkan pusat gravitasi hidupnya. Ia pernah mengutip Blaise Pascal terkait imannya, “Jika engkau menang, engkau mendapat segalanya; jika engkau kalah, engkau tidak kehilangan apa pun.”

Kalimat itu bukan sekadar refleksi intelektual tetapi cara hidup. “Iman adalah katalis kehidupan,” ujarnya dalam sebuah wawancara. “Tanpanya, hidup akan kehilangan arah.”

Namun iman Bocelli tidak berdiri sendiri. Ia bertumpu pada relasi yang personal, hangat, dan penuh devosi, khususnya kepada Bunda Maria.

Dalam kehidupan rohaninya, Maria bukan sekadar figur teologis, ia adalah ibu yang senantiasa hadir di tengah anak-anaknya, seorang perantara doa yang setia. “Seperti Maria bagi anak-anak di Fatima, ia juga hadir dalam hidup kita sehari-hari,” ungkap Andrea saat berbicara tentang film Fatima (2020) di mana ia menyanyikan salah satu soundtrack untuk film itu.

Bagi kebanyakan umat Katolik, kisah Maria di Fatima sudah tidak asing. Sejak Mei 1917, Bunda Maria menampakkan diri kepada tiga anak gembala di Cova da Iria, Fatima, Portugal—Lucia, Jacinta, Francisco . Penampakan itu mencapai puncaknya dalam peristiwa “mukjizat matahari” pada Oktober tahun yang sama.

Penampakan Bunda Yesus dengan gelar Bunda Maria dari Fatima di mana ia menyatakan dirinya sebagai ‘Bunda Rosario’ telah dinyatakan layak dipercaya pada tahun 1930 oleh uskup Leiria-Fatima. Paus Fransiskus pun mempercayakan dunia kepada Maria pada 11 Maret 2020, di awal krisis Covid-19.

Dalam film Fatima, musiknya digarap oleh komposer Italia ternama Paolo Buonvino, yang menciptakan dua lagu orisinal untuk film ini, “Gratia Plena” dan “Gloria”, lalu meminta Andrea Bocelli untuk menyanyikannya. Ini merupakan kontribusi pertama Bocelli dalam soundtrack sebuah film.

“Ini adalah pengalaman yang mengharukan. Syukur memang menjadi inti dari karya ini. Bagian pertama bersifat kontemplatif, mengingatkan kita akan mukjizat keberadaan dan betapa besar anugerah hidup,” jelasnya. Ia pun menegaskan bahwa kehadiran Bunda Maria dalam peziarahan hidup rohani adalah ciri khas Katolik yang sangat indah dan mendalam.

Untuk Andrea sekeluarga, devosi kepada Maria bukan hanya kata-kata. Ia hidup dalam praktik. Rosario menjadi bagian dari ritme harian. Doa bukan kewajiban, melainkan kebutuhan di mana dari doa itu lahirlah karya musik.

Andrea mengakui musik bukanlah sekadar seni melainkan bentuk doa. Dalam setiap nada, ia tidak hanya menyanyi melainkan bersaksi. Contohnya, ketika ia membawakan lagu “Gratia Plena” atau “Gloria” dalam film Fatima, ia tidak sekadar menyampaikan melodi, tetapi menghadirkan pengalaman spiritual di mana musik menjadi jembatan antara manusia dan yang Ilahi.

Ia bahkan menulis versi musikal dari Salutatio Angelica sebagai persembahan pribadi kepada Bunda Maria. Dalam tradisi Gereja, doa itu dikenal sebagai Ave Maria ‘Salam Maria’—doa yang juga ia ajarkan pertama kali kepada putrinya, Virginia. Doa adalah warisan iman yang terutama baginya dan keluarganya.

Didikan itu juga terlihat pada anak laki-lakinya Matteo yang kini mengikuti jejaknya sebagai penyanyi. Sebelum konser, Matteo selalu mengikuti Misa Kudus dan berdoa mohon penyertaan Bunda Maria.

Karya Nyata

Kisah Andrea tidak berhenti pada panggung musik. Ia juga membangun karya nyata melalui Andrea Bocelli Foundation. Yayasan ini lahir dari rasa syukur dan diarahkan untuk memberi harapan. Lewat yayasan itu, banyak sekolah dibangun agar anak-anak mendapatkan akses pendidikan dan musik digunakan sebagai instrumen pemberdayaan.

“Musik adalah bahasa universal,” sebutnya. “Ia membantu kita menjadi lebih baik.” Namun bahkan di tengah karya sosial dan kesuksesan global, Andrea tetap kembali pada satu hal, yakni keluarga dan iman Katoliknya.

Salah satu pengalaman paling mendalam dalam hidupnya adalah perjalanan ziarah sepanjang lebih dari 300 kilometer di Via Francigena yang ia dokumentasikan dalam film berjudul The Journey: A Musical Special from Andrea Bocelli. Bersama istrinya, Veronica, ia menunggang kuda dari Roma menuju kampung halamannya di Tuscani.

Perjalanan ziarah itu bukan sekadar olah fisik, melainkan doa yang bergerak. “Seperti doa yang hidup,” katanya. “Mengarah ke surga sambil tetap berpijak di bumi.” Dalam perjalanan itu, ia mengunjungi tempat-tempat suci, termasuk gereja-gereja kuno dan situs para martir. Salah satu yang paling membekas adalah Basilika Santa Cristina. Di sana, bersama putrinya, ia merenungkan iman para kudus yang rela mengorbankan hidup demi keyakinan iman.

Sebelum perjalanan ziarah itu dimulai, Andrea menerima berkat dari Paus Fransiskus. Bapa Suci memberikan rosario untuk menemaninya selama perjalanan ziarah. Pertemuan singkat itu meninggalkan kesan mendalam. “Kesederhanaannya menyentuh hati,” ungkapnya hangat.

Salah satu adegan paling menyentuh dalam film itu adalah ketika putranya, Matteo, membacakan surat kepada ayahnya. Surat itu sederhana, tetapi kuat yang menekankan tentang pentingnya kembali pada nilai-nilai dasar kehidupan.

Sekali lagi baginya, keluarga adalah tempat pertama iman ditanamkan. Dari orang tuanya, ia belajar tentang pengorbanan, kejujuran, dan harapan. Hal inilah yang Andrea teruskan sebagai warisan itu kepada anak-anaknya. “Keluarga kami sangat terberkati dengan kehadiran Bunda Maria di mana kami bisa semakin mengasihi Yesus,” terangnya.

Tak lupa, Andrea menguraikan bahwa semua talenta manusia adalah anugerah dari Tuhan. Ia tidak mengklaim jasa pribadi atas suara indahnya. Anugerah ilahi ini dimaksudkan untuk menghadirkan keindahan dan sukacita bagi dunia.

“Saya pernah menulis doa: ‘Bapa, jadikanlah aku alat kehendak-Mu.’ Hingga kini, saya terus mengucapkannya, berharap Tuhan menggunakan saya melalui suara yang telah Ia anugerahkan,” pungkasnya dengan senyuman.

 Felicia Permata Hanggu

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles