spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Ribuan Umat Berziarah ke Bukit Pena: Bersama Bunda Maria Menuju Kekudusan

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Sekitar 2.000 umat Katolik mengikuti pawai lilin di Bukit Pena, Mamasa, Sabtu malam, 31 Oktober 2026. Kegiatan tahunan yang menjadi tradisi devosi umat kepada Bunda Maria ini berlangsung dalam suasana doa, persaudaraan, dan sukacita, sekaligus menjadi bagian dari rangkaian ziarah yang berpuncak pada Perayaan Ekaristi, Minggu, 1 November 2026.

Mengusung tema “Bersama Bunda Maria Berziarah Menuju Kekudusan”, kegiatan ini mengajak umat tidak sekadar menempuh perjalanan fisik menuju tempat ziarah, tetapi juga memperbarui perjalanan batin untuk semakin dekat dengan Tuhan.

Rangkaian ziarah diawali dengan ibadah singkat di Gereja Paroki Santo Petrus Mamasa, dilanjutkan dengan perarakan patung Bunda Maria menuju Bukit Pena. Penampilan drumben dari SMP Katolik Mamasa turut mengiringi perarakan. Meski rintik hujan turun, para pelajar tetap tampil penuh semangat, sementara umat mengikuti perjalanan dengan tertib.

Setibanya di Bukit Pena, rombongan disambut Uskup Agung Makassar, Mgr. Fransiskus Nipa, Pr., bersama Vikaris Episkopal Sulawesi Barat, P. Oc. Sam Bureny, Pr. Malam harinya, sekitar 2.000 peziarah membawa lilin dan berjalan bersama menyusuri kawasan ziarah hingga tiba di depan patung Bunda Maria Segala Bangsa. Rangkaian malam ditutup dengan penghormatan kepada Sakramen Mahakudus dan doa Salve.

Keesokan paginya, umat mengikuti Jalan Salib yang dibagi dalam lima kelompok. Puncak ziarah ditandai dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin Mgr. Fransiskus Nipa. Perayaan berlangsung khidmat dan meriah, didukung pelayanan koor dari Paroki Messawa, wilayah Sumarorong, dan kelompok kelas Retorika Seminari.

Baca Juga:  Budaya “Kan, Cuma Bercanda”

Kekudusan Dimulai dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam homilinya bertepatan dengan Hari Raya Semua Orang Kudus, 1 November, Uskup mengajak umat merefleksikan perjalanan iman masing-masing. Ia mengajukan pertanyaan mendasar: “Saat ini, kita sedang berada pada tahap mana dalam perjalanan menuju kekudusan?”

Menurut Uskup, Bunda Maria merupakan teladan ketaatan dan penyerahan diri kepada Allah. Jawaban Maria kepada Malaikat Gabriel, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu” (Lukas 1:38), memperlihatkan kesediaan untuk menerima dan melaksanakan kehendak Tuhan.

Uskup mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu sama dengan ukuran yang ditawarkan dunia. Kekayaan, rumah besar, tanah yang luas, dan berbagai fasilitas kehidupan tidak dapat dibawa ketika manusia meninggal. Sebaliknya, Yesus mengajarkan kebahagiaan melalui kerendahan hati, kepedulian, kelemahlembutan, dan kesediaan untuk tetap setia kepada Allah dalam berbagai keadaan.

Untuk memperjelas makna kepedulian, Uskup berkisah tentang seorang peziarah yang mencari kehidupan abadi. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan tiga makhluk ciptaan Tuhan. Kera menawarkan pisang, sapi memberikan susu, sedangkan ayam kampung, meskipun tidak membawa apa-apa, menyambutnya dengan ramah dan bahkan bersedia mengorbankan diri demi kelanjutan perjalanan sang peziarah.

Baca Juga:  Naraya Ajang Kreatifitas di Domsav

Kisah tersebut menegaskan bahwa kasih tidak hanya diukur dari apa yang dimiliki atau diberikan, tetapi juga dari ketulusan, pengorbanan, dan kesediaan untuk menolong sesama.

Uskup juga menegaskan bahwa kekudusan bukanlah sesuatu yang baru dimulai pada masa tua atau hanya menjadi milik orang-orang tertentu. Sejak dibaptis, setiap orang Katolik telah dipanggil untuk hidup kudus. Panggilan itu diwujudkan hari demi hari melalui doa, pertobatan, partisipasi dalam Ekaristi, serta tindakan kasih yang konkret.

Kekudusan dapat tumbuh dalam keluarga melalui sikap saling mengampuni, dalam diri guru melalui pendidikan yang penuh kasih dan keteladanan, serta dalam kehidupan umat melalui kepedulian terhadap mereka yang membutuhkan. Menjaga alam ciptaan juga merupakan bagian dari tanggung jawab iman.

Karena itu, berziarah bersama Bunda Maria tidak cukup hanya dengan membawa lilin, mengikuti doa, atau mengunjungi tempat suci. Umat perlu meneladani ketaatan Maria dan menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan, baik dalam sukacita maupun dalam penderitaan.

Estafet Pelayanan dan Harapan ke Depan

Dalam rangkaian penutupan, panitia menyampaikan apresiasi kepada Uskup, Vikep, para imam, biarawan-biarawati, umat, pemerintah setempat, para donatur, serta seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan ziarah.

Baca Juga:  Ziarah Berakhir, Perjalanan Iman Berlanjut

Alex, selaku Ketua BP3KAMS, menyampaikan bahwa Ziarah Bukit Pena telah memasuki usia ke-39 tahun dan pada 2027 akan mencapai pancawindu atau 40 tahun. Ia mengajak umat memberikan perhatian lebih besar terhadap pengembangan sarana dan prasarana tempat ziarah, termasuk kebutuhan kursi bagi para peziarah.

Pada kesempatan yang sama, Vikep Sulawesi Barat, P. Oc. Sam Bureny, ., menyerahkan pataka kepada P. Jimmy Sattu, Pastor Paroki Santo Yosef Polewali, yang akan menjadi koordinator kepanitiaan ziarah tahun 2027. Penyerahan ini menjadi simbol estafet pelayanan dan tanggung jawab bersama dalam menjaga keberlanjutan tradisi ziarah.

Uskup menyampaikan terima kasih atas partisipasi seluruh umat dan komunitas yang terlibat. Ia juga mendorong pengembangan kegiatan Gereja yang semakin memperhatikan kekayaan budaya setempat melalui pendekatan inkulturatif dan inklusif, tanpa kehilangan identitas iman Katolik.

Ziarah Bukit Pena akhirnya mengingatkan umat bahwa perjalanan menuju kekudusan tidak berakhir ketika mereka meninggalkan tempat ziarah. Perjalanan itu berlanjut dalam keluarga, lingkungan Gereja, masyarakat, dan alam ciptaan.

Bersama Bunda Maria, umat dipanggil untuk terus berjalan menuju kekudusan dengan menjadikan doa sebagai kekuatan, ketaatan sebagai teladan, dan kasih kepada sesama sebagai buah iman.

Anton Ranteallo (Mamuju, Sulbar)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles