Potret Keluarga dan Permasalahannya

1
Bina Kesetiaan: Pasangan suami-istri mengikuti Misa Hari Ulang Tahun Perkawinan.
[NN/Dok. Paroki Alam Sutera]
Potret Keluarga dan Permasalahannya
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Komunikasi dalam keluarga menjadi salah satu hal yang perlu dijaga. “Banyak keluarga mengabaikan waktu bersama untuk berbicara dan saling mendengarkan dengan penuh cinta.

Saya seorang suami dan ayah dari dua anak. Saya berusia 45 tahun. Usia pernikahan kami sudah memasuki tahun ke-15. Orang melihat relasi saya dan istri baik. Kadang muncul pertengkaran kecil karena beda pendapat mewarnai biduk rumah tangga kami. Namun, itu bisa diselesaikan setelah kami duduk bersama untuk bicara dari hati ke hati. Saya dan istri sama-sama bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga kami di ibu kota ini.

Hingga suatu hari karena pekerjaan, saya harus pergi ke luar kota dengan rekan kerja saya, seorang perempuan selama beberapa hari. Kedekatan kami pun terjalin dan berlanjut pasca tugas di luar kota itu. Kami sering bertukar pesan melalui media sosial seperti twitter, facebook dan BBM. Bahkan juga mulai saling memuji. Rasanya ada yang hilang dan kurang nyaman jika tak menyapa. Hal ini juga dirasakan oleh kekasih gelap saya.

Sementara di rumah, komunikasi saya dan istri memang terbatas. Istri yang juga bekerja kadang sibuk dengan pekerjaan yang harus diselesaikan dan mengurus anak-anak. Hal ini membuat saya kian nyaman dengan kekasih gelap saya. Di rumah, saya sering mencuri waktu untuk menyapa perempuan itu lewat BBM. Bahkan seiring waktu, kami mulai berani pergi berdua usai jam kantor.

Kisah itu diceritakan oleh seorang lelaki yang tidak mau disebut namanya. Ia sadar, dirinya mengingkari janji pernikahannya yang kudus di depan altar. Ia mengaku sangat menyayangi istri dan anak-anaknya, dan tak akan pernah meninggalkan mereka. Namun di sisi lain, ia pun sangat menyayangi dan tak mau menyakiti kekasih gelapnya itu. Perempuan itu pun tahu, kekasihnya tak mungkin menikahinya. Mereka berdua sebenarnya menyadari telah terperosok dalam kubangan yang dalam, berjuang untuk keluar, tapi merasa tak sanggup.

“Keluarga Berbicara”
Ketidaksetiaan dalam pernikahan menjadi salah satu permasalahan yang kian mendera keluarga zaman ini, termasuk keluarga Katolik di Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). Dalam keluarga terjadi krisis sosial dan spiritual. Ketua Komisi Keluarga (Komkel) KAJ, RP Alexander Erwin Santoso MSF mengungkapkan, kehidupan berkeluarga di Jakarta tak mudah untuk dirumuskan, mengingat begitu kaya dan ragamnya corak hidup keluarga metropolitan. Ada keluarga yang sangat kaya, dan ada yang sangat miskin.

Maraknya penggunaan gadget atau alat komunikasi elektronik berbasis internet dalam komunikasi menjadi salah satu fenomena yang dijumpai hampir di seluruh keluarga di Jakarta, tanpa pandang status sosial ekonominya. Banyak sekali keluarga mengalami kesulitan berkomunikasi, justru karena pengambilan sikap yang salah terhadap penggunaan gadget ini. Bahkan perselingkuhan bisa muncul hanya lewat komunikasi dan jejaring sosial.

“Masalah yang kami tangani akhir-akhir ini ialah munculnya beberapa persoalan mengenai perselingkuhan istri dengan laki-laki yang lebih muda atau dengan laki-laki lajang, atau juga sebaliknya. Perselingkuhan itu sering menggunakan alat-alat komunikasi dan juga jejaring sosial di internet,” ujar Romo Erwin. Permasalahan itu muncul karena miskinnya komunikasi yang terjalin dalam keluarga. “Banyak keluarga mengabaikan waktu bersama untuk berbicara dan saling mendengarkan,” tandasnya.

Menjawab kebutuhan ini, Komkel KAJ mengembangkan tema “Keluarga Berbicara” selama dua tahun terakhir ini. Hal ini bertujuan untuk mengajarkan dan menganimasi keluarga di KAJ untuk mulai berbicara dengan lebih sadar dan penuh cinta. Bukan palsu atau hanya basa-basi saja.

Selain perselingkuhan, masalah lain yang dihadapi keluarga di KAJ antara lain: hidup bersama di luar nikah, single parent, perkawinan beda Gereja, beda agama maupun beda suku, homoseksualitas, pergeseran konsep tentang keluarga, gagasan sipil tentang pernikahan dalam aturan negara yang berbeda dengan paham sakramentalitas Gereja Katolik, dll.

Selain demi peningkatan kerasulan keluarga, daftar masalah itu dirumuskan Komkel KAJ untuk menjawab kuesioner dari Panitia Sinode Keluarga di Roma. Keuskupan diharapkan mengevaluasi proses evangelisasi keluarga yang telah di buat. Evaluasi ini akan digodok sebagai bahan dalam Sinode yang bertajuk “Tantangan Pastoral Keluarga dalam Konteks Evangelisasi” pada 5-19 Oktober 2014 di Roma.

Aneka Keprihatinan
Permasalahan dan keprihatinan yang dirumuskan Komkel KAJ secara umum terjadi di paroki-paroki. Permasalahan ekonomi, komunikasi, perkawinan beda Gereja dan beda agama, perselingkuhan, dan perceraian sipil, seakan lalu lalang mewarnai keluarga. Bahkan di suatu paroki KAJ, ada keluarga yang menolak kunjungan pastor paroki maupun umat lingkungan.

Kepala Paroki St Arnoldus Bekasi, RP Anselmus Selvus SVD mengungkapkan, mayoritas umat di parokinya tergolong keluarga muda kelas menengah ke bawah.“Mayoritas umat di sini bekerja sebagai karyawan, entah istri ataupun suami. Mereka pergi pagi-pagi pulang petang penghasilan pas-pasan potong pinjaman (Keluarga P10 –Red),” ungkap Romo Ansel . Dalam kondisi keluarga P-10, waktu untuk anak dan keluarga sangat terbatas, sehingga pendidikan moral dan iman anakpun kadang luput dari perhatian secara khusus.

Hal ini mempengaruhi komunikasi yang terjalin antara suami-istri dan anak-anak. Kemajuan teknologi tak pelak turut mengkontaminasi relasi dalam keluarga. Boleh jadi, saat istri mengajak suaminya berbicara, sang suami justru asyik dengan gadget-nya, pun sebaliknya.

Minimnya komunikasi dalam keluarga bisa menimbulkan berbagai macam efek. “Kasus perselingkuhan itu terjadi. Saya tak bisa memberikan persentase, tapi yang datang mengeluh pada kita (pastor – Red) itu banyak. Penyebab perselingkuhan seringkali karena kurangnya kebersamaan, tidak saling paham, tuntutan ekonomi, suami datang tapi istri tak terlalu menerima dengan baik, atau istri bekerja dan suami di rumah. Kasus perceraian ada, tapi presentasenya terbilang kecil,” ujar Romo Ansel. Tahun 2013, ada lima pasangan yang datang padanya untuk mengurus perceraian.

Sementara Ketua Seksi Kerasulan Keluarga (SKK) Paroki St Yakobus Kelapa Gading, Jakarta Utara (2013- 2016), Kristoforus Kristanto Aspin mengungkapkan, secara umum soal ekonomi menjadi problem yang dialami keluarga di Paroki Kelapa Gading yang terdiri dari 34 wilayah dengan 129 lingkungan ini.

Demi memenuhi kebutuhan keluarga, suami-istri sibuk bekerja. “Ini juga membuat waktu berkualitas orangtua dengan anak-anak atau pasangan menjadi permasalahan tersendiri,” tutur Kristanto. Vinsensia Santy, istri Kristanto sekaligus Wakil Ketua SKK Paroki Kelapa Gading menambahkan, problem komunikasi menjadi salah satu keprihatinan yang mengkhawatirkan di paroki ini. “Suami-istri berkumpul, keluarga berkumpul, tapi lebih asyik dengan gadget-nya masing-masing.”

Menurut Kepala Paroki Kelapa Gading, RP Antonius Gunardi MSF, masalah komunikasi dalam keluarga perlu mendapat perhatian khusus. “Kecanggihan teknologi komunikasi bisa menimbulkan sikap individualistis semakin meningkat, yang mungkin bisa menimbulkan macam-macam akibat,” ujar Romo Anton. Permasalahan lain yang terjadi ialah perceraian dalam keluarga. “Bahkan ada pasangan yang datang sudah membawa surat cerai sipil,” tandasnya.

Selain itu, perkawinan beda Gereja, beda agama dan beda suku juga dijumpai sebagai masalah keluarga di paroki ini. Keprihatinan lain yang muncul ialah adanya pasangan Katolik yang menikah secara Katolik, tapi anaknya tidak dibaptis.

Pasutri Grace Irawaty-Marthen Ramba mengungkapkan, perkembangan iman anak mestinya mendapat perhatian orangtua. Grace masih menjumpai anak-anak yang seharusnya sudah menerima Komuni Pertama, tapi belum menerima Komuni Pertama.

“Kami mendorong orangtuanya dan mengajak anak-anak ini untuk ikut persiapan Komuni Pertama. Kami melihat, anak-anak cenderung kurang mendapat bimbingan orangtua dalam hal belajar berdoa dan Kitab Suci. Kadang hanya diminta untuk membuka Kitab Suci dan mencari bacaanpun mereka tidak tahu,” kisah Grace, Koordinator SKK Lingkungan St Frumentius II Paroki Kelapa Gading (2013-sekarang).

Melihat permasalahan dan keprihatinan kian membelit keluarga, Romo Anton menandaskan, pastoral keluarga perlu lebih digalakkan, antara lain dengan melakukan pendampingan pada keluarga melalui kotbah, kunjungan keluarga, menyapa umat dan keluarga usai Misa di paroki, dan melalui kegiatan seminar keluarga, kuis Kitab Suci keluarga, serta Misa Hari Ulang Tahun Perkawinan. Romo Anton melanjutkan, ia gembira bahwa di metropolitan pada zaman semodern ini, masih ada keluarga yang mampu mempersembahkan waktu untuk doa bersama, mengikuti Misa Lingkungan dan Misa di Gereja bersama-sama dengan anggota keluarga yang lain. Katekese tentang keluarga dan di dalam keluarga itu sendiri menjadi hal yang tak boleh diabaikan.

“Saya berharap, para pasangan suami- istri konsekuen dan konsisten! Ketika menikah secara Katolik, mereka juga mesti mengajarkan nilai-nilai kekatolikan pada anak-anak mereka,” demikian Romo Anton.

Maria Pertiwi
Laporan: Yanuari Marwanto

HIDUP NO.12 2014, 23 Maret 2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here