Berkebun, Dekatkan Diri dengan Tuhan

Anak-anak TK Xaverius Lubuklinggau selalu bersemangat diajak ke kebun yang terletak di atas atap

HIDUPKATOLIK.com – HIJAU daun melon, timun, kacang panjang, dan aneka sayuran lain terlihat menghijau di lantai tiga gedung Taman Kanak-kanak Xaverius Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Segar dedaunan ini seakan menunjukkan keceriaan tangan-tangan mungil dari anak-anak TK Xaverius yang setia merawatnya. Di tempat inilah, anak-anak TK Xaverius diajarkan untuk bersahabat dengan alam sejak dini.

Ide mengajarkan anak-anak berkebun awalnya diungkapkan oleh Romo Freddy Bambang Soetarno. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengajak anak mulai mencintai lingkungan sekitarnya. Romo Freddy yang saat ini merupakan Ketua Yayasan Xaverius Lubuklinggau berpikir bahwa anak-anak diharapkan tidak hanya berkembang secara intelektual akademis. Dengan berkebun maka anak belajar untuk langsung mempraktikkan sesuatu.

Tak hanya sekedar berkebun, kegiatan ini juga dimasukkan dalam bidang pengembangan nilai-nilai agama dan moral. “Usaha untuk dekat dengan Tuhan bisa dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya berkebun,” ungkap Sr Ruth CB, salah satu pengajar di TK Xaverius.

TK yang terletak di Jalan Garuda No. 131 Lubuk Linggau Sumatera Selatan ini menjalankan kegiatan berkebun setiap hari Sabtu. TK yang berlokasi persis di depan Gereja Katolik Penyelenggaraan Ilahi Lubuklinggau ini menyiasati keterbatasan lahan dengan menanam di atap gedung sekolah. Alhasil, kini ruang kosong di lantai tiga yang beratapkan langit seluas 40×20 meter pun telah disulap menjadi kebun yang ditanami berbagai buah dan sayuran.

Menurut Romo Freddy, sebagian besar anak memiliki cita-cita menjadi pegawai atau pengusaha. “Sekarang siapa sih yang mau jadi petani? Padahal petani adalah profesi yang mulia dan bisa menyelamatkan bumi,” tambah Romo Freddy. Isu perubahan iklim, lanjut Romo Freddy dapat dijawab dengan cara ini. Setiap manusia harus mampu bersahabat dengan alam.

Yuliana Sumarmi mengungkapkan, saat berkebun, masing-masing anak diajak untuk bersentuhan langsung dengan tanah dan beragam sayuran. Kepala TK Xaverius ini melanjutkan, selama satu jam pada setiap hari Sabtu, mereka menyemai bibit, memupuk, menyiram, dan meletakkan dalam pot/polybag berisi tanah dengan arang sekam. “Di saat inilah ditanamkan juga kesadaran bahwa Tuhan yang menciptakan tanaman ini dan anak-anak yang merawatnya.”

Di saat panen tiba, anak-anak bisa langsung makan dan menikmati hasilnya. “Jadi anak sejak kecil sudah dikenalkan tanaman organik tanpa tersentuh obat-obatan kimia sehingga baik untuk kesehatan,” kata Yuliana.

Saat ini, lanjutnya, disiapkan pula alternatif lain, menanam melalui pipa pralon yang sudah dialiri air. Kegiatan yang baru dimulai dua bulan ini mendapat sambutan baik terutama orangtua siswa. Bahkan, jika panen tiba, hasilnya diberikan kepada siapa saja. “Anak-anak senang, selalu bertanya ‘kapan naik (ke lantai 3) lagi suster?’ mereka berebut menanam dan menyiram,” ujar Yuliana

Editor: Antonius E Sugiyanto

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*