Sejarah untuk Bersyukur | | HIDUPKATOLIK.com

Sejarah untuk Bersyukur

Hidup TV Siaran Televisi Katolik Pertama di Indonesia yang dapat ditonton melalui Televisi yang menggunakan Parabola KU-Band dan juga dapat ditonton secara Streaming di Komputer dan Handphone dengan mengakses www.Hidup.tv

Romo Agung memberikan potongan tumpeng ulang tahun kepada seorang umat.
[HIDUP/Stefanus P. Elu]
Sejarah untuk Bersyukur
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – KITA harus paham sejarah. Dengan paham sejarah, kita bisa bersyukur. Dalam perayaan 210 tahun Gereja Keuskupan Agung Jakarta, dirilis buku yang berisi sejarah paroki-paroki di KAJ. Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo mengajak umat untuk membaca dan mengucap syukur atas perjalanan Gereja Katolik Jakarta. Hal ini disampaikan Kepala Paroki St Paskalis Cempaka Putih Romo Robertus Agung Suryanto OFM dalam Misa Minggu, 28/5. Misa ini menjadi salah satu momen istimewa bagi umat Paroki karena merupakan perayaan syukur ulang tahun ke-65 Paroki Cempaka Putih dan pesta nama pelindung paroki.

Romo Agung mengajak umat supaya meneladani sikap dan keutamaan hidup St Paskalis. Paroki memfasilitasi dengan membagikan flyer biograsfi St Paskalis dan sejarah Paroki Cempaka Putih. “St Paskalis selalu menyempatkan waktu menggembala domba, berdoa, dan membaca Kitab Suci. Kita juga diajak agar tak lupa berdoa dan membaca Kitab Suci dalam kesibukan harian kita,” kata Romo Agung.

Apalagi, lanjut Romo Agung, kata orang muda sekarang ada Kitab Suci, ada juga HP suci”. Artinya, dalam gawai kita juga sudah ada Kitab Suci elektronik. Maka seharusnya gawai bisa memudahkan kita untuk membaca Kitab Suci dan berdoa. “Alat-alat komunikasi seharusnya makin memudahkan kita berkomunikasi dengan Tuhan,” urai Romo Agung menyinggung perayaan Hari Komunikasi Sedunia yang juga dirayakan pada Minggu kemarin.

Hari itu, umat datang ke gereja dengan mengenakan pakaian daerah masing-masing. Kata Romo Agung, pakaian daerah yang mereka kenakan menyimbolkan keberagaman Indonesia. Meski dalam lagu-lagu nasional kita tak ada lagu dengan syair “Bhinneka Tunggal Ika”, toh kita punya lagu “Dari Sabang sampai Merauke”. Ini simbol keragaman sekaligus kesatuan.

Stefanus P. Elu

Comments on Facebook