HidupTV Siaran Televisi Katolik Pertama di Indonesia yang dapat ditonton melalui Televisi yang menggunakan Parabola KU-Band. HidupTV bersifat Free to Air sehingga anda juga dapat menyaksikan siaran TV Nasional lainnya secara gratis. HidupTV dapat juga ditonton secara Streaming Internet melalui www.Hidup.tv atau www.HidupKatolik.com. INFO: (021) 5491537 atau WA: 0812-8926-7548 (HidupTV) atau email: [email protected]

Renungan Minggu, 23 Juli 2017 : Kesabaran dan Penghakiman Allah

64
[galafm.blogspot.com]
Renungan Minggu, 23 Juli 2017 : Kesabaran dan Penghakiman Allah
3.7 (73.33%) 3 votes

HIDUPKATOLIK.com -PADA hari Minggu ini, kita kembali diperkenankan mendengarkan Sabda Allah yang menakjubkan dan tak terselami. Bacaan pertama dari Kitab Kebijaksanaan dan Mazmur Tanggapan mewartakan kuasa Allah yang dahsyat, bukan pertama-tama untuk menindas atau membinasakan manusia berdosa, melainkan dengan berlaku sabar dan berbelas kasih terhadap manusia yang menentang kekuasaan-Nya.

Kepada orang berdosa yang dalam Injil diumpamakan “lalang” (Mat 13:24-43) tetap dibukakan pintu pertobatan, ditawarkan kekuatan dan harapan untuk mengubah hidupnya. Roh Kudus, kekuatan Allah, bekerja dalam Gereja dan setiap orang beriman. Dia menerima dan mengambil alih dari umat, doa dan keluhan-keluhan yang tak terucapkan, membawanya kehadirat takhta Allah dan menjadikannya terpahami (Rm 8:26-27).

Namun kesabaran Allah berakhir pada saat kehidupan di atas bumi ini berakhir. Ada “waktu menuai” atau “akhir zaman” (Mat 13:30, 39). Pada waktu itulah ada keputusan definitif mengenai nasib manusia. Yang baik, “gandum”, dikumpulkan ke dalam Kerajaan Bapa dan yang jahat, “lalang”, dikumpulkan untuk dibakar dan dibinasakan (Mat 13:43).

Gereja, dulu dan sekarang, menerapkan perumpamaan gandum dan lalang itu pada kehidupannya sendiri. Gereja sebagai Tubuh Kristus sekaligus mempelai-Nya adalah kudus dan terus-menerus disucikan-Nya. Di lain pihak, pada saat yang sama Gereja juga perlu terus-menerus menyucikan diri, ecclesia semper reformanda. Mengapa? Gereja adalah corpus mixtum, anggotanya adalah campuran segala macam orang, yang salah, belum salah, dan tidak salah.

Gereja, persekutuan orang-orang beriman, terdiri dari umat beriman Kristiani dan sebagian kecil adalah hierarki (Uskup, imam), biarawan dan biarawati. Mereka semua dipanggil menjadi sempurna (“gandum”), “sama seperti Bapa di sorga adalah sempurna” (Mat 5:48). Tetapi sejarah menunjukkan dan kehidupan sehari-hari mempertontonkan dengan gamblang bahwa dalam tubuh Gereja pun masih ada “lalang”. “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga” (Mat 7:21).

Menanggapi situasi itu, Yesus menegaskan bahwa bukanlah cara Allah untuk tergesa-gesa, serta-merta mengadili dan memisahkan lalang dari gandum. Ada “saat menuai” untuk menghakimi, yaitu pada “akhir zaman” (ay. 39-40). Hakimnya ialah Yesus sendiri; “Anak Manusia” (ay. 41). Bukanlah wewenang anggota-anggota Gereja, siapa pun juga, untuk menghakimi saudaranya dan menghukumnya. Pada saat penghakiman, pada akhir zaman akan terjadi kejutan-kejutan, di luar perkiraan manusia.

Sebaliknya, setiap anggota Gereja diundang untuk memberikan yang terbaik dari dirinya, siapa pun dia dan apapun kedudukannya, menyumbangkannya dengan sukacita dan ikhlas untuk membangun dan menumbuh-kembangkan Gereja. Biarlah Gereja yang bagaikan “biji-biji yang paling kecil” bertumbuh menjadi pohon besar dan rindang “sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya” (ay. 32). Maka seluruh bumi, khususnya Bumi Persada Indonesia biarlah menyaksikan dan mengalami bahwa Gereja sebagai keseluruhan dan setiap anggotanya menghembuskan napas kesejukan kepada siapa pun, kelompok mana pun, di negeri mana pun. Kesejukan itu mewajah dalam berbagai bentuk, seperti keadilan, belas kasih, persaudaraan, kemurahan hati dan pengampunan, kerelaan berkorban, ketulusan, dan keikhlasan.

Memang di berbagai pelosok dunia dan khususnya di ladang Indonesia ini masih subur berkembang biak “lalang” pemangsa ganas dengan berbagai tampilan, seperti kecurangan dan keculasan, kebohongan dan kemunafikan, korupsi, kebencian, dengki, balas dendam, dan banyak lagi. Situasi itu seharusnya melecut Gereja untuk semakin tekun setia tanpa takut menyampaikan Sabda kenabian dengan mengutip Mazmur 78:2: “Aku mau membuka mulut mengatakan amsal, aku mau mengucapkan teka-teki dari zaman purbakala” (bdk. Mat 13:35).

Hal memisahkan “gandum” dari “lalang” biarlah diselesaikan “Yang Empunya Kuasa”, pada waktu menuai, pada akhir zaman. “Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka” (Mat 13:43). Semoga kita semua adalah orang-orang benar itu, “gandum” yang tumbuh subur dan berbuah lebat di ladang Tuhan.

Mgr Petrus Boddeng Timang

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here