HidupTV Siaran Televisi Katolik Pertama di Indonesia yang dapat ditonton melalui Televisi yang menggunakan Parabola KU-Band. HidupTV bersifat Free to Air sehingga anda juga dapat menyaksikan siaran TV Nasional lainnya secara gratis. HidupTV dapat juga ditonton secara Streaming Internet melalui www.Hidup.tv atau www.HidupKatolik.com. INFO: (021) 5491537 atau WA: 0812-8926-7548 (HidupTV) atau email: [email protected]

Catatan Romo Budi: Kejungkel Paling Meriah di Ungaran

17
Catatan Romo Budi: Kejungkel Paling Meriah di Ungaran
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – SELAMA dua puluh satu tahun menghayati program dan spirit kerasulan kunjungan keluarga (Kejungkel), Romo Aloys Budi Purnomo, Pastor Pembantu Paroki Kristus Raja Ungaran mengaku baru mendapat anugerah pengalaman kejungkel paling meriah pada Kamis, 27/7, yang lalu.

Dari sisi waktu, kejungkel dilaksanakan antara pukul.18.30 – 21.30 WIB. Namun dari sisi jarak tempuh tidak terlalu jauh. Sedangkan dari sisi jumlah rumah kediaman yang dikunjungi sebanyak 14 rumah. Dari sisi kepala keluarga, yang disapa, dikunjungi dan diajak berdoa bersama sebanyak 20 kepala keluarga, belum termasuk satu orang yang disapa melalui video-call, saat Romo Budi berkunjung ke keluarga Mak Hen atau Lucia Hendrarti.

Tiga Pemudi Diuji
Menurut Romo Budi, Yoga – Ketua Lingkungan Yohanes Rasul -begitu kreatif. Yoga melibatkan tiga pemudi yang diuji kedewasaan imannya sesudah menerima Sakramen Penguatan pada tanggal 14 Juli lalu. Mereka adalah Sinta, Shela, dan Sera.

Ketua Lingkungan melibatkan mereka untuk ikut kerasulan kunjungan keluarga malam itu. Bagi Romo Budi, keputusan Yoga melibatkan ketiga pemudi itu menjadi bagian dari ujian kedewasaan iman mereka. Mereka diajak terlibat dalam perutusan mengunjungi umat lain, khususnya yang sakit dan lansia.

Kepada ketiga pemudi masa depan Gereja itu, Romo Budi memberi tugas spontan agar mereka mendata dan mencatat nama-nama yang dikunjungi. Inilah data hasil catatan mereka. Nama-nama yang disapa dalam kejungkel di Yohanes Rasul adalah Lucia Hendrarti (lansia, ikut menerima kunjungan tiga anak, satu via video-call, empat cucu); Fransiskus Waras-Sri Ariningsih Caecilia (Mak Waras sakit, ikut menerima kunjungan satu anak dan dua cucu); Gregorius Hosea Suryanto (bersama istri dan dua anak, kakak Romo Lukas MSF); Petrus Supriyono, Th. Ananungsih dan Stefana Sri Banon (di sini Romo Budi mendoakan Ibu Sukati yang masih koma akibat kecelakaan); MF Katiyem, Fajar Trisanto-Anastasia Sri Lestari, dan Christina Sunarni yang sedang sakit stroke dan terbaring di tempat tidur; Sutrisno, Nemesus Gumaedi, Marsudi (istrinya masih dalam perawatan akibat kecelakaan); Sabina Ngatinem, dan Damasus Dugiono yang seorang seniman dan memiliki hobi bersepeda; Ch Nanik Suwarni dan Pak Agus; Yohanes Maruli Hendratmoko, Vedriana Menik Mumpuni, Aleksius Sukiran dan Keluarga Joko yang pernah meminta berkat sepeda motor barunya kepada Romo Budi; dan Ignatius Tri Priyo Waluyo yang sesudah dikunjungi langsung ikut bergabung bersama rombongan kejungkel untuk mengunjungi keluarga yang lain.

Ketiga pemudi (Sinta, Shela dan Sera) yang ikut rombongan kejungkel dan membuat catatan-catatan. (Dok. Pribadi)

 

Kunjungan Paling Meriah
Bagi Romo Budi, kejungkel kali ini merupakan momen kejungkel yang paling meriah sebab diikuti oleh 10 orang, termasuk tiga pemudi tadi. Mereka berjalan kaki dari rumah ke rumah mengunjungi, menyapa dan berdoa bersama Romo Budi untuk masing-masing keluarga.

Sesudah kunjungan, Romo Budi dan rombongan berkumpul di sebuah rumah yang menjadi tempat berkegiatan umat lingkungan. Rumah itu adalah milik keluarga Mak Hen yang kosong dan tidak ditempati. Sesampai di ditempat itu, sejumlah ibu-ibu sudah menunggu dan mempersiapkan hidangan makan malam. Mereka pun menikmati santap malam bersama.

Itulah kemeriahan kejungkel kali ini yang dirasakan Romo Budi sebagai kejungkel yang paling meriah selama ini. “Saya bahagia mengalami perjumpaan dengan mereka. Sebagian besar dari mereka sudah saya kenal sejak 25 tahun lalu, saat saya sebagai Frater yang sedang menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Ungaran kala itu,” ungkap Romo Budi kepada HIDUP.

“Mereka adalah orang-orang lama yang sudah mengenal saya sejak saya masih frater. Itu menjadi semacam reuni bagi saya. Terima kasih atas kebaikan dan doa-doa yang boleh dipersembahkan kepada Tuhan untuk dan bersama mereka,” pungkas Romo Budi.

(ANS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here