Pastor Anton Silvinus dan Pastor Johanes Robini Marianto OP: Jangan Katakan Tak Ada Setan

3039
Pastor Anton Silvinus dan Pastor Johanes Robini Marianto OP, Tim Exorcista Keuskupan Agung Pontianak.
[NN/Dok.Pribadi]
Pastor Anton Silvinus dan Pastor Johanes Robini Marianto OP: Jangan Katakan Tak Ada Setan
2.5 (50%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com – Pelayanan dan katekese mengenai eksorsisme di Indonesia cukup langka. Sementara tak sedikit masyarakat masih hidup dan percaya kepada roh-roh gaib, klenik, dan supranatural.

Keuskupan Agung Pontianak merupakan satu dari dua keuskupan di Indonesia yang memiliki imam eksorsis. Mereka (imam-imam eksorsis) ditunjuk khusus oleh uskup setempat. Karya pelayanan ini tak mudah dan tak biasa, selain menuntut wawasan, imam eksorsis juga harus memiliki keutamaan hidup dan teladan iman yang baik. Wawancara dengan Pastor Anton dan Pastor Robini, sapaan mereka, dilakukan melalui surat elektronik, Senin, 7/5/2018.

Apa dasar eksorsisme dalam Gereja Katolik? Apakah di luar Gereja Katolik ada eksorsisme?

Gereja Katolik melakukan eksorsisme bukan tanpa dasar. Gereja Katolik sadar bahwa musuh Allah, yakni setan dan pekerjaan-pekerjaannya masih terus berkerja di dunia kita. Setan masih berkeliaran di zaman now ini. Kehadiran dan taktik-taktik setan kepada seseorang, komunitas-komunitas, masyarakat, dan bahkan peristiwa-peristiwa tertentu bisa terjadi.

Bapa Suci Yohanes Paulus II pernah mengatakan, “Setan memiliki banyak keahlian dalam dunia untuk menyebabkan manusia menolak keberadaan-Nya atas nama rasionalisme, dan setiap sistem pemikiran yang mencari pengertian-pengertian yang mungkin untuk menolak mengenal aktivitas-Nya.”

Dalam Kitab Suci, Yesus sering mengusir setan dalam beberapa pengajaran dan evangelisasi-Nya. Apa yang dilakukan Yesus dalam eksorsisme merupakan sebuah tanda akan kuasa Penyelamatan-Nya. Maka kuasa eksorsisme itu juga diberikan Yesus kepada para pengikut-Nya. Jadi, Gereja Katolik melakukan eksorsisme atas dasar perintah Yesus kepada para pengikut-Nya untuk mengusir setan atau roh-roh jahat (Mat. 10:1; Mat. 10:8; Luk. 9:1; 10:17; Mrk. 16:17).

Kita harus “percaya kepada Injil dan jangan pernah mengatakan bahwa setan tidak ada. Setan itu sungguh riil dalam dunia. Jangan mengatakan gagasan setan telah mati dan berakhir”, tegas Uskup Emeritus Rochester, New York, AS, Mgr Fulton John Sheen (1895-1979). Tindakan eksorsisme menghadirkan damai Yesus.

Bagaimana asal mula hingga Pastor menjadi imam eksorsis dan dipercaya oleh Mgr Agustinus Agus sebagai ketua Tim Exorcista?

Pastor Anton: pertama-tama harus saya katakan bahwa saya sendiri juga heran mengapa Bapa Uskup memilih dan mempercayai saya sebagai imam eksorsis sekaligus Ketua Tim Exorcista. Saya sendiri adalah imam yang biasa-biasa saja. Barang kali karena saya pernah ikut kursus dan pelatihan tentang eksorsisme selama tiga bulan bersama Tim Eksorsis Keuskupan Agung Manila Filipina di bawah bimbingan Pastor Jose Francisco C. Syquia.

Bisakah Pastor menceritakan secara detail apa itu Tim Exorcista?

Tim Exorcista kurang lebih seperti kelompok doa. Tim ini mewancarai “klien” yang datang untuk minta didoakan, memberikan tugas-tugas rohani kepadanya, seperti berdoa kepada Bunda Maria, pengakuan dosa, dan lain-lain, menentukan jadwal doa, mengunjungi dan mendoakan umat yang kerasukan setan.

Tim Exorcista baru terbentuk pada 10 Maret 2018. Tim ini tidak sama dengan komisi-komisi yang ada di keuskupan-keuskupan. Tim Exorcista hanya berkecimpung pada hal-hal yang sifatnya sakramentali.

Sudah berapa banyak tindakan eksorsis yang Pastor lakukan sampai sekarang?

Pastor Anton: Karena baru mendapat fakultas tentang eksorsisme, maka saya belum bisa menjawab berapa persisnya tindakan eksorsisme yang telah dilakukan. Tetapi, menurut cerita pengalaman Romo Robini, yang sudah lama menjadi imam eksorsis Keuskupan Agung Pontianak, bahwa tindakan eksorsis sudah cukup banyak. Hanya saja “pasien” yang sungguh kerasukan belum pernah ditangani. Kasus-kasus roh jahat akibat sihir dan bersentuhan dengan kuasa setan cukup sering, meski tak secara periodik (sehari atau sebulan). Umat yang datang untuk minta didoakan eksorsime berasal dari sejumlah keuskupan.

Dapatkah Pastor mendeskripsikan pengalaman dan ritual eksorsisme?

Pastor Anton: Duh, maaf, saya tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dari apa yang saya alami dan lalukan. Tetapi baiklah saya akan membagikan pengalaman ketika kursus eksorsisme di Filipina. Pada Februari 2018, saya menyaksikan seorang ibu yang sedang didoakan oleh seorang pastor eksorsis dengan memakai ritus doa minor exorcism (eksorsisme biasa).

Tiba-tiba, lidah ibu itu beraksi seperti ular. Semakin pastor mengulangi doa “Dalam nama Yesus, saya menghancurkan setiap kelekatan, hubungan, persengkongkolan dengan roh jahat antara (nama ibu itu) dan setiap sumber dan roh jahat”, ibu itu kian bereaksi. Sang imam terus melanjutkan dengan ritus doa solem exorcism (eksorsisme agung).

Doa tersebut menggunakan bahasa Latin. Imam itu lalu membacakan Injil, kemudian berdialog dengan ibu tersebut. Dia pun bertanya, nama dan mengapa masuk ke ibu itu. Tiba-tiba, suara ibu itu berubah menjadi aneh sambil berkata, “I am commono”, ‘Aku adalah Arokamor’, “Aku masuk untuk membinasakannya”.

Doa eksorsisme agung itu terus diulang sampai ibu tersebut benar-benar bebas dari setan itu. Kasus lain, pada Januari 2018, ada seorang anak berusia enam tahun. Dia sering ketakutan dan menangis tiap malam, tapi pada akhirnya sehat setelah didoakan oleh pastor.

Dalam melaksanakan praktek doa eksorsime, imam eksorsis idealnya harus selalu bersama dengan timnya. Selain itu, sebelum eksorsisme, imam eksorsis harus mempersiapkan batin, seperti melakukan doa pribadi dan mengaku dosa. Itu semua sangat dibutuhkan.

Apakah ada perasaan takut saat Pastor melakukan eksorsisme?

Semua manusia ada rasa takut, termasuk pengalaman pribadi sebagai imam eksorsis. Mengapa? Karena secara pribadi, kita tak bisa mengusir setan. Mampukah manusia melawan setan, yang dari segi kodrat kemampuannya melebihi manusia? Namun kita melakukannya karena iman akan karya dan kekuatan Tuhan; terutama iman akan Paskah Tuhan yang mengalahkan segalanya. Saya, kita, dan semua orang harus sadar akan peranan iman. Kita mengusir karena iman, bukan karena kekuatan manusiawi.

Apakah semua pastor bisa melakukan eksorsisme?

Kita harus membedakan dulu antara pengusiran (eksorsisme) dan pembebasan (deliverance). Kalau deliverance siapapun yang beriman kepada Tuhan dan Paskah Tuhan Yesus bisa melakukannya, ini karena iman personal. Namun, eksorsisme dalam arti mendoakan ritual eksorsisme milik Gereja (Roman Ritual of Exorcism) adalah lain. Dikatakan, hanya imam yang diberikan izin resmi oleh uskup atau ordinaris wilayah yang boleh mendoakan ritual resmi eksorsisme. Jadi ini harus dibedakan.

Bagaimana Pastor mengenali bahwa seseorang kerasukan setan?

Ada empat kategori seseorang bisa terkena pengaruh setan. Pertama, infestasi yaitu hadirnya pengaruh demonic di lokasi (misal, kasus rumah angker). Kedua, obsesi, orang merasa tanpa pengaruh pikirannya merasa ada kehadiran si jahat. Ketiga, opresi, yaitu seseorang dipengaruhi setan, misal penyakit (santet, dukun) atau masalah (emosi, psikologis, hidup rohani, relasi, pekerjaan). Keempat, possession (kerasukan), yaitu setan mengontrol penuh tubuh (bukan jiwa) seseorang.

Ritual eksorsisme mengatakan, ada empat indikasi yang sangat besar probabilitasnya seseorang kerasukan setan. Pertama, bisa mengetahui masa lalu, kini, dan akan datang tanpa informasi sebelumnya akan sebuah hal atau kejadian. Kedua, bisa atau fasih berbahasa asing padahal orang tersebut tak tahu dan bahkan tak pernah mempelajari bahasa tersebut. Ketiga, memiliki kekuatan melebihi manusia normal (indikasi ini tampak terutama ketika orang itu sedang didoakan). Keempat, tidak suka atau menolak dan bahkan menghujat hal-hal atau berhubungan dengan rohani, misal air kudus, salib, dan Kitab Suci.

Mengapa manusia bisa kerasukan setan?

Ini pertanyaan yang susah dijawab. Namun ada beberapa poin yang kiranya bisa dikatakan sebagai berikut. Pertama, seseorang dengan sengaja bersentuhan dengan dunia demonic, seperti perdukunan. Kedua, melakukan dosa secara habitual (kebiasaan). Ini masuk akal. Orang yang melakukan dosa habitual pasti tidak dekat dengan Tuhan. Ketiga, ada anggota keluarga (terutama hubungan darah) yang bersentuhan dengan dunia magis. Keempat, dikerjain orang (bahasa umum), misal kutuk, santet, teluh. Kelima, pemurnian dari Allah. Ada banyak kasus di mana orang kudus diizinkan Tuhan untuk dikuasai sejenak oleh setan demi perkembangan rohaninya.

Apakah setan menampakkan dirinya sendiri atau lewat perantara, misal melalui manusia, benda, atau binatang? Apakah rupa dan perawakan setan kurang lebih sama seperti di televisi?

Setan itu tidak berupa. Rupanya adalah ketiadaan. Mengapa? Ketika memberontak kepada Tuhan, mereka kembali menjadi ketiadaan, bahasa Inggrisnya “abyss”, yaitu nothingness yang luar biasa. Manifestasi setan bisa beda-beda. Dalam kasus tertentu binatang dipakai hanya sebagai manifestasi kehadiran, jadi bukan penampakan. Maka persoalannya bukan penampakan.

Masalahnya adalah tidak ada wujud dan ketiadaan yang mencekam. Kalau TV mencoba memvisualkan setan belum tentu sama dengan aslinya. Yang asli, (setan) lebih parah dan mencekam. Namun, ini bukan persoalannya, setan bisa memakai segala cara, wujudnya adalah kehampaan.

Apa saran Pastor agar umat tak sampai kerasukan atau berada dalam pengaruh setan?

Sederhana, hidupilah rahmat baptisan dengan serius dan sejati.

Yanuari Marwanto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here