Laurencia Ika Wahyuningrum : Cinta pada ABK

197
Laurencia Ika Wahyuningrum.
[NN/Dok.Pribadi]
Laurencia Ika Wahyuningrum : Cinta pada ABK
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Kebakaran hebat sempat mengubur mimpinya membangun sebuah sekolah untuk anak berkebutuhan khusus. Namun, rasa cinta kepada mereka telah menyulut mimpi itu lagi.

Laurencia Ika Wahyuningrum hampir tidak pernah absen mendatangi Sekolah Cita Hati Bunda Sidoarjo. Di sekolah bagi anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) yang ia dirikan ini, ia sekaligus menjadi pengajar. Baginya, bercengkerama dengan anak-anak didikannya adalah kebahagiaan tiada tara.

Ika tertarik dengan ABK dan jatuh cinta pada mereka. Ia percaya, tidak ada ciptaan Tuhan yang tidak sempurna. Ia ingin menyempurnakan mereka, di saat banyak orang yang menganggap remeh.

Sudah sejak kuliah telah berkecimpung di dunia sosial, menumbuhkan cinta dan kedekatan Ika dengan anak-anak. Semakin lama, ia menemukan bahwa inilah dunia tempat ia dapat berkarya. Bagi Ika, ABK pun membutuhkan perhatian dan kasih sayang.

Langkah Awal
Tahun 2004, Ika mengajar di salah satu sekolah ABK di Surabaya. Di sinilah, kecintaan Ika pada ABK semakin bersemi. Sampai pada satu titik, ia terbersit untuk mendirikan sebuah sekolah khusus ABK sendiri. Sebagai langkah awal, ia membuka les privat di rumahnya. “Saya berpikir, mengapa tidak membuka sendiri lembaga terapi ABK, karena memang di Sidoarjo sangat jarang sekolah terapi ABK,” ujarnya.

Ika memanfaatkan sebuah ruang di rumahnya untuk menjadi tempat belajar. Ia pun melengkapi tempat itu dengan beberapa alat bantu untuk ABK, meski belum selengkap saat ini. Setelah ruangan itu siap, ada satu anak laki-laki penyandang autisme yang ditipkan kepadanya. Anak ini menjadi pijar pertama usaha Ika dalam merintis lembaga pendidikan ABK ini. “Anak itu memiliki semangat yang tinggi dalam belajar. Dia menjadi inspirasi saya untuk survive dengan pilihan membuka sekolah ABK sendiri,” ungkapnya.

Tidak disangka, jumlah siswa Ika semakin lama semakin banyak. Pada tahun 2007, Ika menyewa sebuah rumah dan menyulap menjadi Sekolah Cita Hati Bunda. Di balik nama itu terselip doa agar anak-anak yang dididik menjadi anak baik dan bahagia, sesuai dengan harapan orang tua. Belakangan, ia mengajak delapan guru lain untuk bergabung. Siswa pun bertambah menjadi 25 siswa. Ika juga mengurus surat izin ke dinas untuk pendirian sekolah. “Semua saya lakukan dengan bermodal uang tabungan saya sendiri,” ujar Ika.

Pada awal 2009, Cita Hati Bunda berpindah ke lokasi baru yang lebih luas dan nyaman di Bumi Citra Fajar. Sayang, baru dua tahun pindah, kebakaran hebat meluluhlantakkan bangunan sekolah itu. Tidak ada korban dalam tragedi kebakaran tersebut. Namun, kegiatan sekolah berhenti selama beberapa waktu. Ika terpuruk dan enggan membuka kembali sekolah itu.

Tersulut Lagi
Pasca kebakaran, semangat Ika seakan tersulut. Banyak orang tua yang memiliki anak ABK menghubunginya lagi. Mereka meminta Ika untuk menyudahi “masa libur”. Sontak hati Ika terketuk, ketika mendengar cerita dari beberapa orang tua itu. Didengarnya, beberapa anak yang tiada henti menangis setiap hari karena tidak bersekolah. “Saya sedih mendengarnya. Akhirnya, saya mengontrak rumah kecil untuk sekolah mereka,” katanya menjelaskan.

Setahun berselang, Ika kembali ke gedung terbakar itu. Ia salut terhadap para guru yang mengajar di Cita Hati Bunda. Ia sadar, telah meminta mereka resign. Ia sadar, ia tak kuat menggaji mereka. “Saya tidak bisa menggaji karena sedang membangun gedung ini lagi. Namun, mereka tetap bersedia menjadi guru,” ungkap ibu tiga anak ini.

Perlahan, Cita Hati Bunda bangkit. Siswanya kini mencapai 50 anak. Yang awalnya hanya tiga guru, sekarang sudah ada 30 guru. Idealnya, satu guru memang hanya mendampingi satu ABK agar lebih intens memberikan pembelajaran.

Tahun 2016, Ika membuka sekolah baru bernama Sebaya dengan siswa berjumlah 25 orang. Sebaya khusus untuk menangani anak-anak disleksia, yaitu mereka yang mengalami kesulitan membaca, menulis, atau mengeja. Nama “Sebaya” diambil dengan harapan ia dan para guru bisa menjadi teman sebaya dan sejajar bagi orang tua serta anak-anak disleksia yang membutuhkan. Saat ini, selain penyandang autis Cita Hati Bunda kini juga mendampingi penderita celebral palsy, tuna netra, dan anak yang sulit berkonsentrasi.

Dengan Hati
Sejak awal Ika telah bertekad mendirikan sekolah yang bukan murni bisnis atau komersil. Ia menerima semua ABK tanpa pandang bulu. Sekolahnya menerapkan subsidi silang dan semua anak yang masuk diperlakukan sama. “Ada beberapa murid yang memang digratiskan karena memang berasal dari keluarga yang tidak mampu.”

Saat menatap jauh ke masa awal perjuangannya, Ika menilai bahwa bekerja untuk ABK itu suatu amanah. Baginya, mengajar ABK berarti melihat dunia dari sudut pandang berbeda. Di sini, jiwanya sebagai orang beriman bekerja. Ia percaya bahwa setiap rancangan Tuhan pasti memiliki tujuan. “Saya tidak ingin mereka diremehkan,” ucapnya.

Dengan tegas, Ika menyatakan, bahwa “berkebutuhan khusus” bukanlah penyakit menular. ABK hanya memiliki kelainan sensorik dan motorik. Hal itu berimbas pada pola kehidupan sosial yang tidak normal pula. Ia menuturkan, untuk autisme, mereka mengalami empat gangguan, yaitu kesulitan berinteraksi sosial; gangguan berbahasa, berbicara, dan perilaku; serta ketidakseimbangan sensorik. Ia melanjutkan, aspek-aspek inilah yang mempengaruhi hidup mereka. “Mereka itu sangat unik, cara pembelajarannya pun sangat berbeda dengan anak-anak pada umumnya. ABK membutuhkan waktu yang sangat panjang,” kata Ika.

Untuk menjadi guru bagi ABK, Ika meyakini mereka harus memiliki empati yang besar. Syarat ini harus terpenuhi karena guru ABK harus menyelaraskan hati dan kemampuan agar dapat meningkatkan semangat berkorban. “Kalau kita punya hati saja tapi tidak punya kemampuan untuk mengajar anak-anak, tidak bisa. Punya kemampuan tapi tidak punya hati, juga tidak bisa jalan,” ujar umat Paroki Santa Maria Anuntiata Sidoarjo ini.

Untuk mendidik dan menghasilkan guru profesional, dibutuhkan pelatihan yang berkesinambungan. Demi membiayai pelatihan ini, Ika mencari dana dengan menjual bibit tanaman.

Bagi Ika, mendidik ABK tidak hanya secara akademik, tetapi menyeluruh, mulai dari keterampilan motorik, bina diri, sampai kepribadian. Termasuk di dalamnya mengajari cara makan. Ika juga mengajarkan sebuah kemandirian. Ini menjadi bekal sang anak di kemudian hari.

Salah satunya, Ika mengajar ABK untuk bisa memasak. Proses memasak diawali dengan proses berbelanja. Berinteraksi dan memilih sayuran menjadi kesempatan bagi anak untuk memilah keinginan secara mandiri. Memasak adalah salah satu kemampuan sosial yang fungsional untuk bekal mereka kelak. Ika juga menginisiasi pertemuan langsung ABK dengan masyarakat dan menampilkan potensi setiap anak. “Mengapa diawali dengan berbelanja? Saya ingin mengenalkan sebuah proses kepada anak-anak,” ujarnya.

Selain mendirikan sekolah, Ika menggagas Asosiasi Lembaga Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus (ALPABK) Sidoarjo pada 2012. Ika menuturkan, ALPABK didirikan untuk membuka jaringan bagi ABK, karena menurutnya tujuan ABK bersekolah adalah agar bisa survive di dunia luar. “Kalau hanya berinteraksi hanya dengan teman sekolah, ya sama saja. Saya mendirikan asosiasi ini supaya ada kegiatan rutin khusus untuk ABK di Sidoarjo, misalnya, lomba atau sharing antarlembaga,” ungkapnya.

Setelah berhasil mengajak lembaga pendidikan ABK, target Ika berikutnya adalah menggandeng pemerintah. Ia menambahkan, pemerintah saat ini masih belum peduli terhadap ABK dengan mengotak-ngotakkan ABK ringan, sedang, berat. “Mereka (pemerintah-Red) hanya mau menerima yang ringan. Lalu yang berat mau ditaruh mana?” keluh Ika.

Laurencia Ika Wahyuningrum

Lahir : Surabaya, 9 Desember 1977

Pendidikan :S1 Psikologi Universitas Surabaya

Penghargaan:
. Pemenang Kategori Social Entrepreneur Lomba Wanita Wirausaha Mandiri Femina 2012.
. Juara II Indonesia Womenpreneur Competition (IWC) Award yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP & PA) 2013.
. Wakil Indonesia pada Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) 2013 di Nusa Dua, Bali.

Fr. Benediktus Yogie Wandono SCJ

HIDUP NO.35 2018, 2 September 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here