Yosep Benediktus Deddy Herlambang : Berjuang untuk Transportasi Bermartabat

324
Yosep Benediktus Deddy Herlambang : Berjuang untuk Transportasi Bermartabat
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Melayani Tuhan tidak melulu di dalam Gereja. Deddy melakukannya lewat usaha menciptakan transportasi yang manusiawi.

Siapa yang menyangka, warga Bekasi, Jawa Barat harus merogoh sekitar 30 persen gaji mereka, untuk ongkos angkutan umum. Ini disebabkan pertumbuhan sistem transportasi di sana yang belum baik. Pemerintah harus memikirkan sebuah transportasi yang terintegrasi. Data ini diperoleh dalam sebuah survei yang dilakukan setiap tahun di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) sejak 2015. Bisa jadi, kondisi ini terjadi di lebih banyak kota di Indonesia.

Oleh karenanya, kepedulian pada terciptanya transportasi yang manusiawi harus menjadi kepedulian lebih banyak orang. Pemerintah tentu harus menjadi yang terdepan. Namun tak ada salahnya, kesadaran ini juga muncul dari masyarakat luas.

Salah satu yang memiliki kepedulian pada terciptanya transportasi yang bermartabat adalah Yosep Benediktus Deddy Herlambang. Menurut Deddy, keberhasilan pembangunan suatu bangsa tidak hanya diukur dari nilai ekonomi, seberapa besar pendapatan pertahunnya. Indikator lainnya yang harus diperhatikan adalah bagaimana bangsa itu bertransportasi di jalan raya.

Kuliah Arsitektur
Karena memiliki hobi menggambar, setelah lulus SMA Deddy memilih kuliah di Jurusan Arsitektur Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY). Selama kuliah, ia aktif sebagai anggota Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI). Ia menjabat sebagai sekretaris PMKRI Yogyakarta (1992-1993).

PMKRI adalah organisasi kemahasiswaan untuk edukasi politik rakyat. Sebagai sekretaris, Deddy sering membuat press release yang dimuat di media cetak untuk mengontrol dan mengkritik pemerintah. PMKRI Yogyakarta saat itu memberdayakan anggotanya untuk menjadi pengurus di organisasi intra-kampus.

Belum selesai kuliah, Deddy mengambil cuti selama empat tahun. Selama itu, ia belajar sambil bekerja menjadi arsitek serta kontraktor perumahan di Yogyakarta. Ia juga sempat berkecimpung dalam bisnis ekspor furnitur pada masa krisis moneter 1998. Ia mengingat, pasar ekspor sangat menjanjikan kala itu.

Namun, sang ayah memaksa Deddy kembali ke kampus. Ia pun nurut. Usahanya pun membuahkan hasil, ia menyelesaikan studi sarjananya dan diwisuda pada tahun 1999. Setahun setelahnya, ia kembali bekerja di perusahaan ekspor mebel di Solo, Jawa Tengah. “Untung bapak memaksa saya balik kuliah, kalau tidak mungkin tidak akan lulus,” tutur Ketua Senat Mahasiswa UAJY periode tahun 1992-1994 ini.

Berawal dari Hobi
Persinggungan Deddy pada dunia transportasi berawal dari hobinya di bidang perkeretaapian. Sejak tahun 2002, ia menekuni hobi itu dan bergabung dalam organisasi Indonesian Railway Preservation Sosiety. Komunitas ini memberi perhatian pada aset-aset perkeretaapian yang tidak terurus. Secara khusus, Deddy memberi perhatian pada perawatan lokomotif uap peninggalan Hindia Belanda.

Deddy lalu mendirikan Indonesia Steam Locomotive Community (ISLC) pada tahun 2010, untuk merawat lokomotif-lokomotif uap di museum transportasi karena tidak ada anggaran dari negara untuk perawatan. Ia dan teman-temannya merawat lokomotif dengan tenaga dan biaya sendiri. “Sayang sekali kalau dibiarkan mangkrak, padahal lokomotif itu sangat berharga. Kolektor-kolektor kereta uap dari Eropa sangat berminat membelinya,” ujar anak pertama dari lima bersaudara ini.

Dengan adanya ISLC, masyarakat menjadi sadar akan sejarah transportasi di Indonesia. Menurut Deddy, perkeretaapian merupakan perusahaan transportasi tertua yang ada sejak tahun 1990-an, sebelum ada perusahaan angkutan darat, laut, dan udara. “Kereta api merupakan angkutan massal yang ramah lingkungan, menghindari kemacetan jalan, waktu perjalanan yang terukur. Dari situlah saya mulai belajar tentang transportasi darat hingga kini,” jelas Deddy.

Sejak tahun 2009, Deddy juga aktif sebagai anggota forum Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), sebuah organisasi profesi di bidang transportasi. Lembaga ini bekerja untuk menggali ide-ide inovatif mengenai pengembangan transportasi di Indonesia. Awalnya, ia aktif di bidang advokasi publik, khususnya pengguna Kereta Api Komuter dalam wadah KRL mania. Ia kemudian dipilih menjadi Direktur Eksekutif MTI.

Sebagai direktur eksekutif, Deddy terlibat dalam riset dan penelitian untuk endorsement kepada pemerintah dalam bentuk konten regulasi atau naskah akademik. Beberapa regulasi yang telah terbit, antara lain Peraturan Presiden (Perpres) No. 103 / 2015 tentang Badan Pengelola Transportasi dan Perpres No. 55 / 2018 tentang Rencana Induk Transportasi Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Transportasi Bermartabat
Pada tahun 2011, Deddy bersama beberapa rekannya mendirikan Koalisi Pejalan Kaki (KoPK). Pembentukan organisasi ini berangkat dari keprihatinan akan hak-hak para pejalan kaki yang terabaikan. Mulai dari minimnya trotoar hingga penyalahgunaan trotoar sehingga hak pejalan kaki tersisih. Dari total 6.690 km ruang jalan di DKI Jakarta, hanya 420 km yang memiliki trotoar yang aman, nyaman, teduh, tidak licin, dan tidak diserobot untuk kepentingan lain.

Aksi pertama yang dilakukan Koalisi Pejalan Kaki adalah memblokir trotoar di seberang BNI Stasiun Kota Jakarta Barat bagi pengendara motor nakal yang sering melintas di trotoar bila sedang macet. Pada 2012, Koalisi Pejalan Kaki menjadikan aksi menghadang pengendara motor sebagai kegiatan rutin mingguan setiap Jumat. Tujuannya adalah untuk mengedukasi dan mengembalikan kesadaran pengguna jalan untuk tertib berlalu lintas.

Terkadang, Deddy harus berdebat dengan padagang kaki lima atau ojek yang parkir sembarangan di trotoar. Pengendara motor kerap menuding mereka sebagai kelompok bayaran, orang gila, sok jagoan, atau tidak mempunyai pekerjaan. “Kami sudah kenyang menghadapi makian pengendara motor yang tidak senang ditertibkan,” kisah umat Paroki Santa Monika Bumi Serpong Damai, Tangerang ini.

Selain trotoar, hak pejalan kaki lainnya adalah zebra cross. Deddy bersama rekan-rekannya beraksi membawa poster dan menghadang pengendara motor yang mencoba berhenti melewati batas zebra cross. Mereka juga mengecat zebra cross yang telah pudar warnanya. Pengecatan dilakukan supaya pejalan kaki dapat lebih jelas terkait haknya.

Menurutnya, sektor transportasi berhubungan dengan kualitas pendidikan dan sosial budaya suatu bangsa. Deddy berpendapat, idealnya pelajaran budi pekerti di jalan raya juga mulai diajarkan sejak SD. Mahir berkendara belum tentu santun di jalan raya.

Deddy benar-benar merasakan campur tangan Tuhan dalam setiap karyanya. Ia percaya, Tuhan selalu membimbing ke arah yang benar dan tepat, kendati secara duniawi banyak yang mencaci. Gerakan-gerakan sosial yang ia lakukan, ia yakini sebagai pekerjaan untuk melayani Tuhan. “Melayani Tuhan tidak melulu di dalam gereja. Bisa juga dilakukan dengan berjuang mengadvokasi masyarakat yang tertindas, terpinggirkan, tidak ada yang mengurus seperti pejalan kaki, kaum difabel, dan kelompok rentan, yang sebenarnya adalah hak-hak mereka untuk menggunakan fasilitas transportasi publik,” tutur Deddy.

Yosep Benediktus Deddy Herlambang

Lahir : Semarang, 26 Desember 1970
Istri : Dionesia Atik S. N.
Anak : • Rafael Gavrilla Tadya Herlambang, Mikhael Bryan Emanuel Herlambang

Kiprah Organisasi :
• – Sekretaris Jenderal PMKRI DPC Yogyakarta (1992-1993)
• – Koordinator Indonesian Railway Preservation Society Wilayah Semarang (2005-2007)
• – Aktivis KRLmania (2009 – 2012)
• – Pendiri Koalisi Pejalan Kaki (2011)
• – Litbang Assosiasi Penumpang Kereta Api (2010-2012)
• – Pendiri dan Koordinator Indonesia Steam Locomotive Community
• – Direktur Eksekutif Masyarakat Transportasi Indonesia (2014-2017)
• – Peneliti Institut Studi Transportasi (2014-sekarang)
• – Pendiri CLmania (2014-sekarang)

Pekerjaan:
• – Usaha ekspor impor (1998-2007)
• – Account Marketing IngRail, BV Nederland, Rail Consultant (2007-2009)
• – Assistant EVP EB PT Kereta Api Indonesia (KAI-Persero) (2009-2010)
• – French consultant & engineering di PT Egis Internasional Indonesia (2010-2014)
• – Freelance consultant (2014-sekarang)
• – Aktif sebagai narasumber dalam forum-forum di BUMN, Pemerintah dan media

Fr. Benediktus Yogie Wandono, SCJ

HIDUP NO.42 2018, 21 Oktober 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here