Caecilia Ratnawati Sasmita : Melayani Itu Pilihan

159
Bantu Korban Banjir: Caecil (paling kiri) bersama ibu-ibu Cawang Kavling menyiapkan nasi bungkus untuk mendukung Posko Banjir Paroki Bidaracina.
[HIDUP/R.B.E. Agung Nugroho]
Caecilia Ratnawati Sasmita : Melayani Itu Pilihan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Sejak muda, jiwa pelayanan tertanam dalam dirinya. Jadilah ia, aktivis perempuan yang mencurahkan tenaga dan pikiran melayani sesama yang kurang beruntung. Usia senja, kobaran api pelayanan itu tetap berbinar.

Pada paruh kedua era 1970-an, seorang ibu muda dipanggil oleh Kepala Paroki St Antonius Padua Bidaracina, Jakarta Timur, Pastor H.J. Sondermeijer SCJ (1977-1989). Ia adalah Ketua Seksi Sosial Paroki (SSP) – sekarang Seksi Pengembangan Sosial Ekonomi (SPSE). Ia ditugaskan untuk mengurusi ‘kredit macet’ yang cukup besar, yakni uang paroki yang dipinjamkan pada umat.

Ketua SSP itu bingung atas tugas barunya. Sempat terlintas dalam benaknya, Ketua SSP hanya menjadi ‘tukang tagih’. Tak mudah memikul tanggung jawab itu di sela-sela kesibukannya sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah Wanita Katolik Republik Indonesia (DPD WKRI) Jakarta. Belum reda pening yang menggelayuti pikiran, Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) menariknya sebagai anggota tim PSE KAJ.

Untuk mengatasi ‘kredit macet’ di Paroki Bidaracina, ia punya ide mendirikan Koperasi Kredit (Kopdit). Ia pun berkolaborasi dengan beberapa koleganya yang mumpuni di bidang koperasi, hingga lahirlah Kopdit Paroki. Alih-alih didukung Pastor Sonder, usaha ini justru ditentang keras. Kala sang pastor pergi ke Lampung, mereka nekad menghelat pendidikan koperasi tanpa restu Kepala Paroki. Karena ada 40 orang yang berminat, lahirlah Kopdit Paroki yang menjadi embrio Credit Union Bina Seroja (CUBS). Cerita ini dikisahkan kembali oleh Caecilia Ratnawati Sasmita, anak keempat dari lima bersaudara yang dikenal getol berkecimpung di bidang sosial dan kegiatan di lingkungan Gereja. Caecil juga melibatkan diri dalam pelayanan sebagai Pengawas Yayasan Lembaga Daya Dharma (LDD). Awal 2014, ia undur diri dari tugas ini.

Aktivis Perempuan
Awalnya Caecil merasa hidupnya hampa meski sudah tekun berdoa, bahkan bernovena. Melalui perkenalan dengan para Suster Ursulin (OSU) dan biarawan Salib Suci (OSC), ia menemukan falsafah hidup yang memotivasinya terjun dalam bidang sosial. Adik kandung Sr Francesco OSU ini menyandarkan keyakinan pada sabda “Iman tanpa perbuatan adalah mati” (bdk Yak 2:26).

Sejak kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Parahyangan Bandung, Jawa Barat, ia pun bersentuhan dengan pelayanan sosial. Bersama rekan-rekannya, ia menggerakkan kegiatan karitatif di lingkungan sekitar kampus. Lambat laun kelahiran Cirebon, Jawa Barat, 23 Juli 1942 ini bisa membatinkan semangat belarasa pada sesama yang membutuhkan.

Seiring waktu, falsafah hidupnya kian erat ia genggam. Hingga membangun bahtera keluarga, keyakinan itu tak pudar. Beberapa seniornya di WKRI pun turut menguatkan dan membentuk kematangan sosialnya. Umat Paroki Bidaracina ini mulai terjun di WKRI sebagai Ketua Ranting, lalu Ketua Cabang St Antonius Padua Bidaracina, dan akhirnya didudukkan sebagai Ketua DPD Jakarta. “Cil, jika suami kita sudah mencukupi kebutuhan kita, sebaiknya kita aktif di lingkungan Gereja,” kenangnya menirukan pesan salah satu seniornya di WKRI.

Selain punya andil dalam penyemaian benih CUBS, mantan Ketua Lingkungan St Caecilia, Wilayah III St Yohanes (kini Lingkungan St Florianus Wilayah VI St Andreas) Paroki Bidaracina ini juga mencetak terobosan kala menjadi komandan SSP Bidaracina. Saat itu, Pastor Sonder memintanya untuk mendampingi para Pembantu Rumah Tangga (PRT), agar punya bekal ketrampilan untuk memperbaiki ekonomi keluarga. Secara kreatif, tugas itu ia terjemahkan dengan membuka kursus ketrampilan.

Ia sempat ragu, “Apakah menarik mengadakan kursus bagi PRT? Belum lagi, apakah majikan mereka mengizinkan dan mendukung?” Namun, dengan berani ia memulai kursus ketrampilan dengan modal awal dua mesin jahit. Ternyata peminatnya banyak. Dukungan atas kegiatan ini pun mengalir hingga kursus ketrampilan ini tumbuh menjadi salah satu kegiatan favorit bagi kaum perempuan.

Kursus ketrampilan itu terus berlangsung hingga kini. Materi pembekalannya sudah beranekaragam: menjahit, memasak, rias pengantin, merangkai bunga, membuat parcel, dll. Sudah ratusan alumnae lulus dengan ketrampilan memadai. Peserta kursus pun mencakup lintas agama dan paroki.

Usaha yang dimulai dengan modal keberanian ini sungguh dipelihara Tuhan. “Rahmat-Nya pasti mencukupkan usaha umat-Nya yang dilakukan dengan tulus dan demi kebaikan sesama dalam kegiatan sekecil apapun,” tandas mantan Ketua Wilayah III St Yohanes (kini Wilayah V St Yohanes Pembaptis dan Wilayah VI St Andreas) Paroki Bidaracina.

Manis Dikenang
Pengalaman pahit Caecil rasakan saat putra bungsunya mengalami thalasemia minor pada usia tiga bulan. Terpaksa, ibu dua putra buah cinta dengan Ignatius Andi Suria Sasmita ini menunggui baptisan si bungsu oleh Romo Aloysius Siswopranoto SJ di RS Sint Carolus Jakarta pada 25 Desember 1969. Itulah hadiah Natal yang cukup berat bagi Caecil dan suami. Ia hanya bisa berdoa, “Tuhan berikanlah yang terbaik untuk anakku ini. Jika Engkau berkenan, kupersembahkan dia bagi-Mu.”

Selang 27 tahun, si bungsu Ignatius Hadimulia Sasmita memutuskan masuk Novisiat di Syracuse, New York, Amerika Serikat. Alumnus Master Industrial and Engineering Statistics dari George Washington University, Washington DC (1995) ini bergabung dengan Ordo Serikat Jesus (SJ) Provinsi Maryland dan kini telah ditahbiskan menjadi imam. “Saya tak pernah sangka, buah dan berkat-Nya kini manis untuk dikenang,” tutur Caecil.

Sebagai aktivis berbagai kegiatan Gereja, Caecil berkisah, dulu ia pergi ke manapun dengan naik bis. Tak jarang ia dicerca banyak orang dan dianggap bodoh karena melayani tanpa menghasilkan untung berupa materi. Ia pun harus membagi waktu dengan keluarganya. “Kadang saya kasihan pada anak-anak yang saat itu masih kecil dan sering saya tinggal karena kesibukan saya. Tapi Tuhan sungguh tahu kebutuhan umat-Nya dan menyelenggarakan segalanya. Syukurlah suami bisa memahami kondisi saya. Dulu mamanya kan juga aktivis, sibuk menjadi Majelis di Gereja Protestan.”

Sementara itu, sang suami hanya bisa mengingatkan Caecil untuk menjaga kesehatan. “Dia memang bagus, tapi keras kepala. Hasilnya, sakit maagnya lumayan berat. Kalau dia sibuk, ya harus terima makannya telor ceplok terus,” tutur lelaki kelahiran Purwakarta, 27 April 1933, sembari melepas tawa.

Tak Henti Melayani
Sosok Caecil dikenal baik di daerah Cawang Kavling, Jakarta Timur. Bukan sekadar berpredikat ‘orang lama’, tapi ia berkontribusi dalam pertumbuhan iman dan gerakan kemasyarakatan di sana. Ia pernah didaulat sebagai Ketua RT selama enam tahun ketika daerahnya rawan pencurian. Lalu perempuan yang meniti biduk rumah tangga sejak 4 Oktober 1967 ini memberlakukan sistem keamanan dengan menyewa satpam profesional pada malam hari. Alhasil, wilayahnya pun aman. Sistem ini tetap berjalan hingga kini. “Malah penanggung jawabnya diserahkan masyarakat pada orang Katolik,” ungkapnya.

Ketika banjir melanda Jakarta lepas medio Januari 2014, rumah Caecil digunakan sebagai basecamp bagi ibu-ibu di daerah Cawang Kavling. Mereka menyiapkan nasi bungkus setiap pagi dan sore masing-masing 200 paket. Di tempat inilah dulu Bina Iman Anak (BIA) Cawang selalu diadakan.

“Ya inilah ibu-ibu yang bantu-bantu untuk korban banjir. Paket nasi ini dikirimkan ke Posko Paroki Antonius, lalu mereka yang mendistribusikan. Kita jadi orang jangan hanya mau dilayani, tapi juga harus mau melayani,” paparnya menirukan pesan Suster Ursulin yang pernah mendampingi masa mudanya di Bandung.

R.B.E. Agung Nugroho

HIDUP NO.06 2014, 9 Februari 2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here