Suster Gerard Fernandez RGS : Teman di Ujung Ajal

306

HIDUPKATOLIK.com – Namanya masuk dalam jajaran “100 Inspirational Women 2019” versi BBC. Selama 35 tahun, ia berkarya dalam senyap menemani terpidana mati menjemput ajal.

Singapura diguncang peristiwa pembunuhan yang mengerikan medio 1981. Dua bocah dibunuh dengan cara keji. Mata media massa terus menelisik kasus pembunuhan ini. Pihak kepolisian Singapura juga bekerja keras membongkar dalang di balik pembunuhan itu.

Tak perlu waktu lama, polisi berhasil mengungkap sang pelaku. Adrian Lim bersama istrinya, Catherine Tan Mui Choo, serta seorang perempuan diduga sebagai pelaku. Dugaan itu menemukan
bukti-bukti kuat di pengadilan. Mereka bertiga dijebloskan ke dalam bui dan diganjar vonis hukuman mati di tiang gantungan.

Suster Gerard Fernandez mengikuti pemberitaan kasus ini. Ia kenal dengan salah satu korban yang masih berusia sembilan tahun. Ia juga mengenal ayah Catherine Tan. Tapi, Suster Gerard, demikian ia disapa, menyimak kasus itu dari kejauhan.

Titik Balik
Hingga suatu ketika, entah apa yang menggerakkan, biarawati dari Kongregasi Suster-suster Gembala Baik (Religious of the Good Shepherd/RGS) ini mengunjungi Catherine Tan di
Penjara Changi. Di dalam bui, mereka sempat berbincang serius. “Anda belum menghakimi saya, tolong bantu saya berubah,” ucap Suster Gerard
menirukan Catherine Tan.

Suster Gerard memegang tangan dan menatap tajam mata Catherine Tan. “Ternyata masih ada harapan di hati mereka. Pertemuan itu mengubah
hidup saya,” ucapnya. Perjumpaan itu menjadi titik balik karya Suster Gerard. Ia masih menemukan asa di hati para terpidana mati.

Hari-hari berikutnya, Suster Gerard makin kerap mengunjungi para terpidana mati. Ia mendampingi
Catherine Tan selama tujuh tahun; sampai pada hari Catherine Tan berjalan menuju tiang gantungan. “Kala itu, usia saya masih 36 tahun.
Saya berjalan mendampingi terpidana mati menuju kematian. Tapi inilah panggilan saya,” ucap suster kelahiran tahun 1938.

Sejak itu, Suster Gerard diutus menjadi pendamping bagi para terpidana mati di Penjara Changi. Selain Catherine Tan dan Adrian Lim, Suster Gerard juga mendampingi Flor Contemplacion yang membunuh sesama pekerja rumah tangga Filipina pada 1991, dan Van Tuong Nguyen, pedagang narkoba asal Australia yang
dihukum pada 2004. “Saya hanya mencoba menjadi teman, berjalan bersama mereka, mempersiapkan mereka menuju ajal, sehingga mereka siap,” ucap Suster Gerard seperti dilansir aleteia.org, (13/11).

Lebih dari tiga dekade, biarawati itu berjalan dengan 18 narapidana ke tiang gantungan. Terkadang menghabiskan malam-malam panjang bersama mereka dalam doa atau sekadar menjadi
teman bicara. Tak semua dari mereka beragama Katolik. Kumar, salah satunya. “Dia berkata, ‘Besok pagi, aku akan melihat Tuhan dan ketika aku bertemu Tuhan, aku akan memberitahu semua kebaikanmu’,” kenang Suster Gerard lembut.

Awal Panggilan
Kenangan Suster Gerard meluncur pada masa kanak-kanak. Di sanalah rupanya, ia menemukan panggilan itu. Kala masih berusia enam tahun, ayahnya yang fasih berbahasa Inggris selalu melatih pelafalan Inggris sembari menanti sarapan.

Suatu pagi, Gerard kecil diminta melafalkan, “Dan aku mengikatmu ke Penjara Sing Sing, di sana untuk digantung, ditarik dan dipotong-potong.” Sing Sing adalah penjara dengan keamanan tingkat tinggi di New York.

Gerard kecil tak menyukai kalimat itu. Ia tak mau mengucapkan kalimat itu. Ia memilih mengucapkan doa untuk Bunda Maria dalam bahasa Inggris.

Keping pengalaman masa kanak-kanak itu seperti baru saja terjadi kemarin sore. Ia tak menyangka, kalimat yang ia tolak justru menjadi jalan  panggilannya. Panggilan menemani mereka yang hendak menuju tiang gantungan.

Keluarganya hidup dalam iman Katolik. Selain Suster Gerard, dua saudarinya juga menjalani panggilan sebagai biarawati Fransiskan.

Panggilan itu tumbuh, ketika ia bersua para suster Gembala Baik yang mengelola Marymount Center
di Thomson, Singapura. Tempat itu menjadi tempat tinggal bagi perempuan dan remaja bermasalah. “Aku melihat seorang gadis remaja dengan kesedihan di wajahnya. Aku berkata kepada diriku
sendiri, ‘Di sinilah aku ingin bekerja, dengan gadis-gadis seperti dia’,” kenang Suster Gerard.

Pada 19 Mei 1956, dia memasuki gerbang Biara Suster Gembala Baik di Marymount. Saat itu, usianya 18 tahun. Setelah dua tahun dalam masa formasi, ia mengucap kaul pertama.

Ke Jakarta
Misi pertama pada 1962. Suster Gerard diutus ke Jakarta, Indonesia. Ia berkarya menangani remaja bermasalah selama empat tahun. Karyanya sempat tersendat lantaran letupan Gerakan 30
September.

Jakarta dan beberapa kota lain di Indonesia rusuh. Kekerasan demi kekerasan terjadi di mana-mana.

Gerakan kekerasan itu merembet ke segala penjuru. Bahkan Biara Gembala Baik di Jakarta, tempat dia tinggal, sempat menjadi sasaran. “Tetapi kami dilindungi oleh siswa. Itu adalah
pengalaman yang menakutkan,” kata Suster Gerard. Pada medio 1972 dan 1975, ia kembali ditugaskan ke Jakarta.

Awal 1970-an, penyalahgunaan narkoba merajalela di Singapura. Suster Gerard terpanggil untuk mendampingi para pecandu narkoba. Ia pun mengikuti beragam pelatihan dan kursus konseling. Bersama Pastor Brian Doro dan Pastor Patrick John O’Neill, ia mendirikan lembaga untuk
mendampingi para korban narkoba di penjara.

Sejak itu, Suster Gerard keluar masuk penjara. Ia menjadi teman bagi para narapidana pecandu narkoba. Sel-sel sempit dengan terali besi bukanlah hal asing bagi Suster Gerard. Ia menjalani
panggilan di penjara lebih dari 30 tahun.

Tetap Berkarya
Kini, ia memutuskan untuk “pensiun” dari karya di penjara. Namun, bukan berarti karyanya berhenti. Sudah jauh hari, ia menyiapkan penggantinya dalam karya ini. Ia telah menyerahkan tongkat estafet karya ini kepada rekan-rekannya. “Saya merasa ini saatnya untuk berhenti. Saya memiliki tim yang siap untuk mengambil alih,” katanya.

Hari-harinya saat ini diisi dengan mendampingi para remaja yang bermasalah dan membantu konseling bagi keluarga di Good Shepherd Place.
Meskipun ada ada sepuluh sekrup yang ditanam di punggungnya, ia tetap dan terus berkarya. Meskipun geraknya kini tak lagi cepat, Suster Gerard masih mau melayani mereka yang lemah.

Selama lebih dari tiga dasawarsa, biarawati penggemar cemilan cokelat ini, berkarya dalam senyap, mendampingi mereka yang berada di ujung ajal. Karyanya jauh dari mata kamera dan pena media massa, namun memberi asa bagi yang terpenjara.

Y. Prayogo

HIDUP NO.01 2020, 5 Januari 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here