Bruder Honorius Suyadi FC: Kehadiran Allah di Panti Rehabilitasi Jiwa

420
Bruder Honorius Suyadi FC.
Bruder Honorius Suyadi FC: Kehadiran Allah di Panti Rehabilitasi Jiwa
5 (100%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com – Pelayanan kepada penyandang gangguan jiwa tak sepopuler karya karitatif lain. Justru di sanalah motivasi pelayanan, iman, dan kesetiaan kepada Tuhan diuji. Sanggupkah?

Memperhatikan dan melayani orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) bukan karya populer. Tak ayal, jika karya ini tidak dilirik banyak orang. Beruntung, meski sedikit, masih ada pribadi-pribadi yang mengulurkan tangan kepada ODGJ. Satu di antara sedikit orang itu adalah Bruder Honorius Suyadi FC.

Cinta pertamanya kepada karya para bruder Karitas (Fratrum Caritatis/FC) –satu di antaranya adalah ODGJ– bersemi saat tahun terakhir di Seminari Menengah St Paulus, Keuskupan Agung Palembang. Kala itu, ia membaca profil dan ragam karya karitatif bruder Karitas di majalah Katolik. Tak ada yang menyangka, informasi itu ternyata menyentil sanubari Honor, sapaannya.

Dia teringat pesan Yesus kepada murid-murid-Nya, apa yang kamu lakukan untuk sesamaku yang paling hina ini, kamu melakukannya untuk Aku. Bungsu dari lima bersaudara itu lantas menjatuhkan pilihan untuk bergabung dalam komunitas para bruder Karitas. Usai mengikrarkan kaul pertama pada 2001, tarekat mengirimnya untuk mendalami ilmu keperawatan jiwa di Belgia.

Tugas Khusus
Berbekal ilmu dan pengalaman yang didapat di Belgia, Bruder Honor ditugaskan secara khusus oleh tarekatnya sebagai perawat ODGJ di Panti Rehabilitasi Pela_yanan Penderita Sakit Jiwa Kronis “Sahabat Kita”, di Purworejo, Jawa Tengah,pada 2013. Panti rehabilitasi yang diresmikan sejak 2005 ini merupakan karya Bruder Karitas.

Kebahagian terdalam bagi setiap perawat, termasuk Bruder Honor, adalah kesembuhan pasiennya. Dia menceritakan, ketika melihat residen pertama kali masuk ke panti, ada juga di antara mereka sebelumnya dipasung oleh keluarga sendiri, rasanya sulit bagi mereka untuk sembuh. Tapi, kekhawatirannya keliru. Berkat bantuan medis dan aneka terapi yang ada di panti, misal terapi memasak dan bermain musik, ada perubahan signifikan yang dialami oleh ODGJ. “Mereka bisa menyanyi, kerja bakti, dan berbelanja ke pasar,” beber Bruder Honor.

Keluarga residen, lanjutnya, juga tak menyangka kerabatnya itu bisa berubah. Orang yang semula datang ke panti dengan peranggai agresif tapi berubah menjadi sopan. Bagi bruder yang juga sempat terlibat dalam mendirikan Panti Rehabilitasi Narkoba “Kunci” di Nandan Yogyakarta, kesembuhan para penghuni panti merupakan kegembiraan yang tak sanggup dilukiskan dengan kata-kata.

Pola pendampingan di Sahabat Kita adalah melatih para residen untuk hidup mandiri dan disiplin. Daya nalar dan keterampilan mereka juga diasah lewat latihan memori, bernyanyi, kerja bakti, kesehatan, kepribadian, dan memasak. Praktik ini diharapkan agar para residen mampu menemukan jati diri dan arti hidup begitu mereka pulih dan kembali ke tengah keluarga atau masyarakat.

Ada satu pengalaman tak terlupakan Bruder Honor. Pernah ada pasien perempuan yang jatuh cinta kepadanya. Residen itu hampir selalu mengikuti langkah Br Honor. Tapi, situasi itu memudahkannya untuk mendampingi perempuan itu. Semua yang diminta Bruder Honor pasti dia turuti, seperti minum obat teratur, disiplin, rajin mandi dan mengikuti terapi.

Buahnya segera dirasakan. Pasien itu membaik. Dia bisa mengendalikan emosi dan afeksinya. “Kini dia sudah kembali ke keluarganya secara baik. Dia pun sudah lupa pernah jatuh cinta kepada saya,” ujar bruder yang berkaul kekal pada 30 Juni 2007, sembari tertawa.

Beda Pandangan
Bruder Honor saat ini melayani ODGJ di Panti Rehabilitasi Gangguan Jiwa “Renceng Mose”, di Ruteng, Flores, Nusa Tenggara Timur. Nama Renceng Mose berasal dari bahasa Manggarai, yang berarti berarti hidup bersama. Sesuai nama panti itu, para bruder berharap dalam kebersamaan ada kebangkitan, kesembuhan, dan kemampuan hidup sehat bersama.

Mendampingi ODGJ di Purworejo dan Ruteng amat berbeda. Di Purworejo, kebanyakan pasien berasal dari kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Yogyakarta. Gangguan jiwa dalam pandangan masyarakat di kota-kota itu dianggap sebagai penyakit. Namun di Ruteng atau Flores pada umumnyya –bukan seluruh masyarakat–, menganggap ODGJ disebabkan karena kemasukan roh-roh nenek moyang.

ODGJ di sana harus mengikuti upacara adat. Di Ruteng, terang Br Honor, ada pelayanan pasien dengan gangguan jiwa yang disebut pendoa. Setelah dibawa ke pendoa berkali-kali namun tidak ada perubahan, maka jalan terakhir untuk mereka adalah dengan dipasung. “Namun setelah Panti Rehabilitasi Renceng Mose hadir, pandangan mereka mulai berubah
Mereka kian yakin setelah melihat banyak pasien begitu dirawat dua hingga tiga bulan menjadi lebih baik dan bahkan normal kembali”, ujar bruder yang pernah menempuh studi keperawatan di Universitas Respati Yogyakarta ini.

Panti Sahabat Kita hanya menerima residen laki-laki. Sedangkan di Renceng Mose menerima ODGJ laki-laki dan perempuan. Semula Bruder Honor mengaku canggung ketika harus memandikan pasien perempuan. Namun lama-kelamaan, dia bisa beradaptasi dengan keadaan itu. Pengagum St Paulus ini menyadari, pelayanan harus dilaksanakan dengan sepenuh hati sehingga ODGJ sungguh merasa diperlakukan selayaknya manusia yang bermartabat.

Putra pasangan Aloysius Ali Mursidi-Maria Pariyem merasa miris dan prihatin karena peran pemerintah belum optimal menangani ODGJ. Selain minim fasilitas dan tenaga medis, obat untuk ODGJ juga langka. Sehingga kampanye “bebas pasung” yang digaungkan pemerintah bakal lamban terealisasi jika tak diimbangi dengan kebutuhan tersebut.

Tiga “Istri”
Br Honor merasa bersyukur mendapatkan kesempatan untuk melayani Tuhan yang hadir dalam diri ODGJ. Dia tak menampik, kadang rasa jenuh hinggap di dirinya. Tapi, dia sadar, di situlah iman dan kesetiaannya diuji. “Siapa mengasihi sesamanya yang paling hina dan tidak bisa membalas, itulah yang menjadi pelayanan untuk Tuhan,” ujar biarawan kelahiran Lampung, 22 Desember 1971 ini

Hidup sebagai seorang religius, kata Br Honor, memiliki tiga “istri” yang harus diperhatikan dengan adil. Ketiga “istri” itu adalah yaitu doa, komunitas, dan apostolik. Kalau hidup doa sudah baik maka harusnya hidup komunitas dan karya kerasulan juga harus seperti itu. Tiga “istri” itu yang bersamanya di tengah ODGJ. “Dalam diri merekalah, sesungguhnya Allah hadir,” pungkasnya.

Ivonne Suryanto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here