Pesan Paus kepada para Imam: “Jaga Homili Singkat, Tidak Lebih Dari 10 Menit!”

6237
Paus Fransiskus di Lapangan Santo Petrus pada audiensi umum, Rabu 22/5/2015. [Dok.CNA/Stephan Driscoll]
Pesan Paus kepada para Imam: “Jaga Homili Singkat, Tidak Lebih Dari 10 Menit!”
3.9 (77.78%) 9 votes

HIDUPKATOLIK.com – Rabu, 7/2 waktu Vatikan, Paus Fransiskus telah menyentuh satu tema yang mengena bagi para pastor paroki dan umat gereja, dengan menawarkan suatu “resep” atau buah pikirannya mengenai bagaimana sebuah khotbah (homili) yang baik, yakni harus pendek dan dipersiapkan dengan matang.

Paus Fransiskus juga merujuk pada beberapa keluhan yang terjadi ketika orang tidak antusias mengenai homili, dengan setia meskipun-bahkan ketika bosan-mereka juga harus berusaha dengan mendengarkan secara aktif, dan bersabar dengan keterbatasan yang dimiliki oleh sang imam.

“Mereka yang mendengarkan haruslah melakukan bagian mereka juga,” tutur Paus pada Jumat (7/2 waktu kota Vatikan), mengatakan umat yang mengikuti misa harus memberikan perhatian yang tepat, dengan demikian mengasumsikan disposisi batin yang tepat, tanpa tuntutan subyektif, mengetahui bahwa setiap pengkhotbah memiliki kelebihan dan keterbatasannya masing-masing.

“Apabila terkadang ada alasan untuk merasa jengkel tentang homili yang terlalu lama, yang tidak fokus, atau yang tidak bisa dipahami, di lain sisi itu sebenarnya prasangka dari pendengar sendiri yang menciptakan hambatan,” katanya.

Namun, Paus Fransiskus turut mendesak kepada mereka yang memberikan homili, apakah itu seorang imam, diakon atau uskup, untuk mengingat bahwa mereka “menawarkan layanan yang nyata kepada setiap orang yang berpartisipasi dalam perayaan Misa.”

Homili telah menjadi sumber keprihatinan dan minat pastoral bagi Paus sejak awal. Dia mengabdikan sebagian besar pesan apostolik Sukacita Injil (dikenal dengan Evangelii Gaudium atau yang sering dilihat sebagai cetak biru untuk kepausannya pada tahun 2013) untuk homili.

Mengutip dokumen tersebut, Paus Fransiskus mengatakan bahwa homili itu “bukan wacana biasa, atau konferensi atau pelajaran,” tetapi lebih merupakan cara untuk melanjutkan “dialog yang telah dibuka antara Tuhan dan umat-Nya, sehingga menemukan pemenuhan dalam hidup.”

Lebih lanjut pemimpin Gereja Katolik dan sekaligus kepala negara Negara Kota Vatikan itu menyampaikan, “Siapa pun yang memberikan homili harus sadar bahwa mereka tidak melakukan hal mereka sendiri, melainkan mereka berkhotbah, memberikan suara kepada Yesus, mengkhotbahkan Dunia Yesus,” katanya. Karena itu, Paus menegaskan bahwa suatu homili “harus dipersiapkan dengan baik, dan harus singkat!”

Dalam kesimpulannya, Paus berkebangsaan Argentina ini mengisahkan kembali bagaimana seorang imam pernah mengatakan kepadanya bahwa ketika mengunjungi kota lain di mana orang tua dari para imam itu tinggal, sang ayah berkata, “Saya senang, karena saya dan teman-teman saya menemukan sebuah gereja dimana mereka melakukan Misa tanpa homili.”

Paus tergelitik untuk bertanya, “Berapa kali kita melihat orang tertidur selama homili, atau mengobrol di antara mereka sendiri, atau berada di luar merokok?” Katanya. Ketika orang-orang menertawakan tentang gagasan itu, Paus Fransiskus menjawab, dengan mengatakan, “itu benar, Anda semua tahu itu … itu benar!”

“Tolong,” katanya, “singkat … tidak lebih dari 10 menit, kumohon!” pinta Paus Fransiskus dalam audiensi umum mingguan di Aula Paulus VI Vatikan, melanjutkan katekese tentang liturgi. Setelah merenungkan Liturgi Sabda minggu lalu, hari ini ia fokus pada Injil (Gospel) dan homili.

Seperti halnya perayaan liturgi, dalam ayat suci disebutkan bahwa “Kristus adalah pusat dan kepenuhan,” kata Paus Fransiskus, bahwa “Yesus Kristus senantiasa ada di tengah, selalu.”

Pada bacaan, ia mencatat bahwa sementara semua bacaan penting, Injil menjadi sangat penting, yang dapat dilihat dengan fakta bahwa sang imam mencium teks dan mendupainya sebelum membaca bagian harian, dan jemaat berdiri untuk mendengarkan bacaan Injil.

“Dari tanda-tanda ini, Majelis Gereja mengakui akan kehadiran Kristus yang membawakan mereka kabar baik yang mempertobatkan dan mengubah,” katanya, menjelaskan bahwa kita tidak sekadar berdiri untuk mendengarkan Injil itu sendiri, melainkan Kristus yang berbicara kepada kita melalui pembacaan.

“Karena alasan inilah kami penuh perhatian, karena ini adalah suatu percakapan langsung,” tandas Paus Fransiskus yang memiliki nama lengkap “Jorge Mario Bergoglio”.

Karena itu, Injil tidak dibaca selama Misa hanya untuk “mengetahui bagaimana keadaannya,” tetapi untuk meningkatkan kesadaran kita bahwa ini adalah hal-hal yang dikatakan dan dilakukan oleh Yesus sendiri.

“Firman Yesus yang ada di dalam Injil itu hidup dan tiba di hati saya,” katanya. Dan karena Yesus masih berkomunikasi dengan kita melalui pembacaan Injil, maka pada setiap kesempatan Misa, kita harus memberikan tanggapan kepadaNya, kata Paus Fransiskus, menekankan bahwa “kita mendengarkan Injil dan kita harus memberikan tanggapan dalam kehidupan kita.”

Menurut Vatikan Gendarmerie, sekitar 8.000 orang menghadiri audiensi Paus. Setelah pidatonya, mereka semua disuguhi pertunjukan dengan atraksi juggling, aksi keseimbangan, dan sulap oleh anggota Rony Rollers Circus. Tontonan ini telah menjadi rutin dilakukan dalam audiensi umum, dengan penampilan dari grup sirkus yang berbeda, tampil disetiap beberapa minggu tertentu.

Paus Fransiskus juga mencatat bagaimana besok menandai Hari Doa Sedunia melawan Perdagangan Manusia dan menyuarakan dukungan untuk acara tersebut, yang diadakan setiap tahun pada Pesta St. Josephine Bakhita.

Tidak lupa Paus Fransiskus juga memberikan suara untuk even Olimpiade Musim Dingin (yang dibuka pada Jumat, 9/2) di Pyeongchang di Korea Selatan, yang akan dihadiri oleh Wakil Sekretaris Dewan Kepausan untuk Kebudayaan, Mgr Melchor Sanchez de Toca yang mewakili Takhta Suci.

Pertandingan tahun ini akan memiliki kepentingan khusus, mencatat bagaimana delegasi dari Korea Utara dan Selatan akan berbaris bersama di bawah satu bendera yang menggambarkan seluruh semenanjung Korea, dan akan bersaing sebagai satu tim.

“Fakta ini memberi harapan bagi dunia di mana konflik dapat diselesaikan secara damai dengan dialog dan saling menghormati, seperti yang diajarkan olahraga kepada kita,” kata Paus Fransiskus, seraya berdoa agar Olimpiade akan menjadi “perayaan persahabatan dan peristiwa olahraga yang luar biasa.”

 

Sumber: Elise Harris/catholicnewsagency.com (CNA)/ EWTN News
Penerjemah: Antonius Bilandoro

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here