Paroki Yohanes Penginjil Bengkulu : Pelopor Kebhinnekaan

420
Doa untuk Negeri yang diadakan umat Paroki St Yohanes Penginjil Bengkulu.
[Dok.Paroki St Yohanes Penginjil Bengkulu]
Paroki Yohanes Penginjil Bengkulu : Pelopor Kebhinnekaan
5 (100%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com – Tumbuh di masa penjajahan dan bertahan di tengah mayoritas semakin mendorong umat untuk memiliki sikap cinta tanah air melaui gerakan doa  bersama.

Sebuah patung setinggi lima meter menjulang tinggi di depan halaman Paroki Santo Yohanes Penginjil Bengkulu. Patung berwarna kuning gading itu menyambut setiap umat yang masuk. Jika ditilik dari sejarah, asal usul berdirinya paroki yang telah berusia 90an ini tidak terlepas dari kisah penjajahan Inggris di Bumi Rafflesia-sebuah sebutan khas untuk Kota Bengkulu.

Jejak hubungan Inggris dengan Bengkulu dimulai saat tiga orang utusan Inggris diutus untuk menjalin hubungan dagang pada tanggal 24 Juni 1685. Kemudian di bulan Agustus ditandatangani sebuah perjanjian yang mengatur hubungan antara Charles Baswell Esq dengan Pangeran Ingalu Raja dari Silebar. Kesempatan ini pun diperlebar Inggris dengan membangun Benteng York di antara laut dan Sungai Serut pada pertengahan tahun 1685. Dengan dibukanya hubungan dagang, Bengkulu pun menjadi daerah ramai yang banyak dikunjungi orang Eropa. Sebagian dari mereka juga menetap di sana dan beberapa diketahui menganut agama Katolik.

Oleh sebab itu, demi membangun iman masyarakatnya di tanah rantau, penguasa Serikat Dagang Inggris di Madras meminta para misionaris Ordo Theatin untuk melayani di Bengkulu. Pelayanan mereka khususnya ditunjukkan bagi para tentara dan orang Eropa di Benteng York. Sebagai jawaban, Pastor Martelli dikirim ke Bengkulu pada Desember 1702. Dalam suratnya, ia menyebutkan bahwa jumlah umat Katolik di Bengkulu berkisar 300 orang. Namun, kekatolikan perlahan redup dan berubah saat kedatangan para Jesuit di tahun 1887 oleh Pastor van Meyer yang dulu bekerja di Padang untuk mempersiapkan misi di daerah yang berbatasan langsung dengan Lampung.

Perubahan terjadi lagi di tahun 1881 hingga 1923 saat wilayah Bengkulu masuk dalam Prefektur Apostolik Sumatera yang berpusat di Padang. Saat itu Prefektur di pimpin oleh Prefek Apostolik pertama Mgr Libertus Cluts OFMCap. Maka, Ordo Kapusin diberi kepercayaan untuk melayani misi di Bengkulu di mana Ordo Theatin tidak dapat melanjutkan karya misinya selepas kepergian Inggris. Peralihan kembali terjadi di bulan Desember 1923 saat Bengkulu menjadi Prefektur sendiri dengn pusat misi di Tanjungsakti. Perkembangan itu pun membawa para misionaris Kongregasi Imam Hati Kudus Yesus (SCJ) melayani di Tanjungsakti.

Kepala Paroki Bengkulu, Pastor Paulus Sarmono SCJ menyampaikan bahwa secara keseluruhan paroki ini dibagi menjadi dua unit pastoral yakni di daerah Menareh dan Menaun. “Paroki ini memiliki daerah dari Bengkulu Utara hingga Selatan,” imbuhnya. Secara demografi, umat kebanyakan berasal dari suku Jawa, Batak, Tionghoa, dan Flores dengan tidak ada penduduk asli. Untuk membantu melayani umat yang beragam ini, Pastor Sarmono dibantu oleh dua rekannya yang berasal dari Diosesan Pangkal Pinang dan Konggregasi CSSR. “Sangat berwarna pelayan pastoral di paroki ini,” aku pastor yang baru melayani sejak bulan Agustus 2018 ini.

Tahun 2018 pun menjadi tonggak tradisi baru bagi Paroki Bengkulu dan umat beragama lainnya. Pasalnya, pada tanggal 10 November 2018 setiap agama bersama dengan wali kota sepakat untuk melaksanakan gerakan berdoa sepuluh juta umat untuk keselamatan bangsa. Gereja Katolik pun ditunjuk untuk menjadi penentu jam doa bersama ini yakni pukul 17.00 sore. Uniknya untuk pertama kali diadakan perarakan Bunda Maria dengan Rosario Merah Putih. Perarakan ini difasilitasi oleh pemerintah daerah berkerjasama dengan departemen lainnya. Pastor bersama sekitar seribu umat berjalan kaki sepanjang 2 km sambil berdoa Rosario. “Saya kira, ini kali pertama Gereja Katolik di sini mengadakan perarakan dan saya optimis akan menjadi tradisi tiap tahun,” ungkap Pastor Sarmono yakin.

Felicia Permata Hanggu

HIDUP NO.04 2019, 27 Januari 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here