Perkembangan Perjanjian Sementara Vatikan-Tiongkok

268
Paus Fransiskus menyapa dua uskup asal Tiongkok dalam Sinode di bulan Oktober.
Perkembangan Perjanjian Sementara Vatikan-Tiongkok
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comPenandatanganan Perjanjian Sementara mengenai penunjukan uskup Tiongkok selangkah menuai nilai buah pastoral.

Sebuah artikel yang diterbitkan pada hari Sabtu oleh L’Osservatore Romano mengangkat berita mengenai Gereja Katolik di Tiongkok. Dalam laporan itu diceritakan tentang kegiatan pastoral yang dilakukan oleh para uskup Tiongkok, yang diterima dalam persekutuan dengan Gereja Roma. Paus Fransiskus sendiri telah mendapat laporan tentang ini dan menanggapinya dengan positif. Ia juga telah menandatanganani “Perjanjian Sementara” mengenai penunjukan uskup bagi Gereja di sana.

Pada 22 September 2018 di Beijing, Tiongkok, Takhta Suci dan pemerintah di sana menandatangani perjanjian itu. Sebelumnya, pada 8 September 2018, setelah banyak permenungan dan doa, Penerus St Petrus itu dengan murah hati menerima tujuh uskup Tiongkok yang ditahbiskan tanpa mandat kepausan.

L’Osservatore Romano menulis, berkaitan dengan konteks ini, Paus Fransiskus mengundang semua uskup untuk memperbarui kepatuhan total mereka kepada Kristus dan Gereja. Bapa Suci mengingatkan mereka, bahwa secara de facto, mereka adalah bagian dari rakyat Tiongkok. Oleh sebab itu, mereka terikat untuk menunjukkan rasa hormat dan kesetiaan kepada otoritas sipil. Sedangkan sebagai uskup, mereka dipanggil untuk setia kepada Injil sesuai dengan yang Yesus ajarkan yakni, “Berikanlah kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Mat 22: 21).

Selain itu, Paus menugasi tiap uskup, sebuah tugas pastoral dengan mempertimbangkan situasi lokal yang kompleks dan khusus. Mgr Joseph Guo Jincai dipanggil untuk melaksanakan pelayanan uskupnya sebagai uskup pertama Chengde, Mgr Joseph Huang Bingzhang sebagai uskup Shantou, Mgr. Joseph Liu Xinhong, sebagai uskup dari Anhui, Mgr Joseph Ma Yinglin sebagai uskup Kunming, Mgr. Joseph Yue Fusheng sebagai uskup Heilongjiang, Mgr. Vincent Zhan Silu sebagai uskup Funing atau Mindong, dan Mgr Paul Lei Shiyin sebagai uskup Leshan.

Bersama dengan ketentuan ini, Mgr Guo Xijin telah menjadi uskup auksilier Funing atau Mindong. Sedangkan Mgr Peter Zhuang Jianjian saat ini telah memasuki masa pensiun dan menjadi uskup emeritus dari Shantou. Berkenaan dengan tugas pastoral mereka, kesembilan uskup menerima restu dari Takhta Suci pada 12 Desember 2018 di Beijing.

Demi memahami arti penting Gerejawi dan pastoral dari peristiwa ini adalah tepat jika merujuk pada apa yang ditekankan Paus Fransiskus dalam pesannya kepada umat Katolik Tiongkok dan Gereja Universal pada 26 September 2018, “Guna mendukung dan mempromosikan pemberitaan Injil di Tiongkok seraya membangun kesatuan yang penuh dalam Gereja adalah penting untuk menangani masalah penunjukan para uskup.”

Seperti diketahui, sejarah Gereja Katolik di Tiongkok ditandai oleh ketegangan, kepedihan dan perpecahan mendalam terutama berpusat pada sosok uskup sebagai penjaga keaslian iman dan penjamin persekutuan gerejawi. Paus menekankan, betapa pentingnya hidup dalam persatuan di antara umat katolik. Hal ini penting agar terbuka kolaborasi persaudaraan untuk memperbarui komitmen pada misi pemberitaan Injil sebab Gereja ada demi memberikan kesaksian tentang Kristus.

Takhta Suci dalam artikel yang diterbitkan oleh L’Osservatore Romano, menegaskan untuk terus berkomitmen melanjutkan jalan dialog untuk membuat kehidupan Gereja Katolik di Tiongkok semakin normal. Dalam sebuah wawancara yang diterbitkan oleh surat kabar Vatikan dalam edisi Sabtu 2 Februari, Prefek Kongregasi Evangelisasi Bangsa Bangsa, Kardinal Fernando Filoni menekankan, nilai pastoral dari Perjanjian Sementara mengenai pengangkatan para Uskup.

Kardinal Filoni menjelaskan, Perjanjian Sementara adalah buah dari dialog kelembagaan yang panjang dan kompleks antara Takhta Suci dan otoritas Tiongkok seperti dilansir oleh Zenith, 2/2. Melalui proses ini, Takhta Suci menginginkan untuk mencapai tujuan spesifik dan pastoral Gereja, untuk mendukung dan memajukan pemberitaan Injil.

Felicia Permata Hanggu

HIDUP NO.07 2019, 17 Februari 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here