Solidaritas untuk Sri Lanka

48

HIDUPKATOLIK.com – Jumlah korban serangkaian serangan bom bunuh diri di Sri Lanka, hingga tulisan ini diturunkan, sudah mencapai 359 orang. Jumlah yang melebihi korban Bom Bali tahun 2002. Ucapan dukacita dan simpati masih mengalir dari segala penjuru dunia, termasuk dari Indonesia (ada doa bersama lintas iman “pray for Sri Lanka”). Semuanya mengecam keras dan mengutuk serangan mematikan dan menghancurkan kemanusiaan itu. Paus Fransiskus pun menyampaikan dukacita yang sangat mendalam. Ia mendoakan keselamatan jiwa para korban yang meninggal dunia, kesembuhan bagi korban terluka, dan penghiburan bagi keluarga korban, yang sebagian besar adalah umat Katolik yang sedang merayakan Paskah pada Minggu, 21 April 2019 di tiga gereja di Colombo.

Sesungguhnya kita juga masih berduka atas penembakan puluhan umat Muslim di Christchurch, Selandia Baru, Maret lalu oleh seorang teroris. Gerakan solidaritas dunia membuncah seketika itu. Muncul tagar-tagar di media sosial yang bernada ‘kita bersama umat Muslim’. Kendati jumlah korban lebih kecil dibandingkan dengan Sri Lanka, namun bukan itu duduk soalnya. Ini bukan soal jumlah korban. Hal yang ini kita sampaikan adalah
bahwasanya serangan terorisme kini menjadi ancaman paling serius kemanusiaan di seluruh seluruh dunia. Ditengarai, serangan di Sri Lanka telah cukup lama dirancang. Tahun 2014 sudah ada alarm dengan munculnya seorang tokoh National Thowheeth Jama’ath di Sri Lanka yang menyatakan kesetiaan kepada pemimpin Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS). Fakta ini yang juga menjadi perhatian serius: pelaku bom bunuh diri di Colombo berasal dari keluarga mapan dan berpendidikan!

Lantas, upaya-upaya apa yang bisa kita lakukan agar benih-benih radikalisme dan terorime ini tidak semakin berkembangbiak di Tanah Air kita. Sejumlah lembaga mensinyalir, sekolah-sekolah kita, dari TK sampai Perguruan Tinggi Negeri, telah terpapar oleh benih-benih ini. Begitu juga dengan Aparatur Sipil Negara. Ada kekuatiran, tantara dan polisi pun mengalami hal serupa. Sungguh hal ini cukup mencemaskan eksistensi NKRI dengan Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Perlu ada langkah-langkah konkret. Pemerintah telah membentuk Badan Pembinaan Ideologi Pancasila. Badan yang diharapkan mampu melakukan terobosan membumikan Pancasila pada semua kalangan. Namun hingga hari ini, kita belum melihat langkah-langkah strategis badan ini sejak dikukuhkan pada Juni 2017. Kepala Pelaksana Harian mengundurkan diri di awal jalan.

Lantas harus bagaimana? Keuskupan Agung Jakarta sudah bergerak lebih awal dengan Arah Dasar “Amalkan Pancasila”. Tahun ini tahun keempat, sila keempat. Andaikan saja, seluruh keuskupan melakukan gerakan yang sama, sebuah langkah besar telah diayunkan umat Katolik Indonesia.

Maka, seraya kita ikut merasakan duka dan derita saudara-saudari kita di Sri Lanka, seluruh elemen bangsa ini harus bahu-membahu membentengi diri agar peristiwa di Colombo tak terjadi di halaman rumah kita ini lagi.

HIDUP NO.18 2018, 5 Mei 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here