HIDUPKATOLIK.COM – BAGAI bunga-bunga yang mekar di pagi hari, menyambut fajar baru dengan penuh harapan, demikian pula umat Keuskupan Larantuka, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyambut kehadiran gembala utama yang baru, Mgr. Yohanes Hans Monteiro. Kehadirannya seolah berpadu dengan deburan ombak yang bergulung di Pantai Larantuka, menandai babak baru perjalanan Gereja di Kota Reinha Rosari.
Keuskupan Larantuka kini dipimpin oleh seorang putra daerah. Mgr. Yohanes Hans Monteiro lahir dan dibesarkan di tanah Larantuka, dan kini diutus Paus Leo XIV untuk menggembalakan umat di dua kabupaten. Ia ditahbiskan menjadi Uskup Larantuka oleh pendahulunya, Mgr. Fransiskus Kopong Kung, pada Rabu, 11 Februari 2026. Sejak saat itu, tongkat penggembalaan resmi berada di tangannya.
Pesta pentahbisan berlangsung khidmat dan meriah. Hadir para uskup dari berbagai keuskupan, Pelaksana Tugas Kedutaan Besar Vatikan di Jakarta, Mgr. Michael Pawlowics, ratusan imam, biarawan-biarawati serta puluhan ribu umat dari tiga dekanat di Keuskupan Larantuka: Dekanat Larantuka, Dekanat Lembata, dan Dekanat Adonara. Mereka memadati kompleks Gereja Katedral Ratu Rosario Tersuci Larantuka dan seluruh Kota Larantuka, menjadikan peristiwa ini sebagai momen iman yang bersejarah.
Kerinduan umat akan sosok gembala yang lebih muda dan berkarakter kuat bukan tanpa alasan. Tantangan yang dihadapi Keuskupan Larantuka tidaklah ringan. Hal ini ditegaskan oleh Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, dalam khotbahnya yang mendalam dan bernas. Ia menyoroti berbagai persoalan sosial dan politik yang dihadapi umat, mulai dari tantangan merawat kesatuan, merangkul mereka yang kehilangan makna hidup, hingga memberi perhatian khusus kepada anak-anak dan kelompok dewasa yang menjadi korban kekerasan serta kemiskinan—baik kemiskinan harta, relasi, empati, perhatian, maupun waktu.
Lebih konkret lagi, Mgr. Budi menyinggung cengkeraman tengkulak, praktik lembaga keuangan yang merendahkan martabat manusia seperti pinjaman online dan koperasi harian/mingguan, perdagangan orang, perusakan hutan, pencemaran air, serta eksploitasi kekayaan alam yang merusak ekosistem dan menggoyahkan kesatuan sosial.
Kondisi sosial, ekonomi, dan politik Keuskupan Larantuka tentu telah banyak berubah dibandingkan dengan kondisi lebih dari dua puluh tahun silam, ketika tongkat penggembalaan diteruskan dari Mgr. Darius Nggawa, SVD kepada Mgr. Fransiskus Kopong Kung. Di bawah kepemimpinan Mgr. Frans, umat mengalami berbagai proses transformasi dan pertumbuhan.
Kini, harapan baru diletakkan di pundak Mgr. Hans. Sebagai anak Larantuka, ia diyakini memahami denyut kehidupan umat dari berbagai dimensi. Dengan kerja sama para imam, kaum religius, umat lintas agama, serta pemerintah setempat, Keuskupan Larantuka diharapkan bangkit membangun kehidupan yang lebih bermartabat. Semua itu sejalan dengan motto penggembalaan Uskup Hans: Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes — Satu Tubuh, Satu Roh, Satu Harapan.
Sumber: Majalah HIDUP, Edisi No.09, Minggu 1 Maret 2026






