spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Prapaskah dan Panggilan untuk Mendengarkan

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – MEMASUKI Masa Prapaskah tahun 2026,  Paus Leo XIV membekali umat Katolik dengan pesan rohani: Mendengarkan dan berpuasa: Masa Prapaskah sebagai Waktu Pertobatan. Komunitas Kristiani, bagi Bapa Suci, adalah tempat di mana jerit dari mereka yang tertindas mendapat tempat, dan mendengarkan adalah tanda pertama membangun relasi dengan sesama.

Hanya manusia yang sekaligus bisa berbicara dan mendengarkan, kata Aristotles. Kalau Descartes berkata: “saya berpikir, maka saya ada”, maka dalam konteks ajakan Bapa Suci ini, bisa kita katakan: “saya didengarkan, maka saya ada”. Roland Barthens tegaskan, ketika kita meminta untuk didengarkan, kita sebenarnya sedang meminta untuk mengakui bahwa kita ada. Jadi tindakan mendengarkan sangat eksistensial dan memanusiakan.

Paus Leo XIV

Mendengarkan, bagi Paus Leo XIV, selain merupakan disposisi hati untuk menggapai kebebasan, juga adalah tanda pertama bahwa kita ingin membangun relasi dengan sesama. Mendengarkan di sini tidak sekadar mensendengkan telinga, tetapi seperti kata Paus Fransiskus, “mendengar dengan hati” pada mereka yang tak mampu bersuara; mereka yang suaranya diabaikan.

Baca Juga:  Paus di Monako: Kunjungan kepada Pangeran, Pertemuan Kaum Muda, Misa di Stadion

Seruan Bapa Suci ini aktual dan relevan. Pola relasi manusia sedang beralih dari “aku-engkau” ke relasi “aku-materi”. Waktu berinteraksi dengan telepon genggam terasa lebih berharga daripada berinteraksi secara nyata dengan sesama. Hape bukan hanya menyita waktu, tapi juga rasa peduli dan empati. Orang tua ketiadaan waktu buat anak-anak. Demikian juga sebaliknya. Kehadiran orang tua dianggap menyita waktu berselanjar di dunia maya. Byung-Chul Han katakan, manusia semakin sendirian, kesepian dan batin yang kosong, sehingga pola komunikasi menjadi kompulsif, berlebih-lebih dan sulit dimengerti.

Para pemimpin punya waktu untuk mendengarkan rakyat hanya pada masa kampaye. Suara-suara keprihatinan sosial dianggap kritikan tanpa data; karena iri dan antek asing yang mengganggu kewibawaan bangsa. Sebaliknya, bagaimana bisa mendengar suara para pemimpin, jika suara-suara itu justru, seperti kata, Chuang Tse, “membuat telinga menjadi gila dan akhirnya harus ditutup”. Jadi, mendengarkan, menurut Paus Leo XIV adalah ungkapan kemurahan hati dan perlawanan terhadap sikap masa bodoh dan tidak peduli dan memanusiakan sesama.

Baca Juga:  "Gerakan Rumah Bela Rasa Caritas": Pulihkan Martabat Penyintas Banjir Sumatra

            Berkaitan dengan mendengarkan kenyataan sosial, Bapa Suci menulis: “mendengar Sabda dalam liturgi mendidik kita untuk lebih peka dan lebih jujur dalam mendengarkan kenyataan hidup”. Kembali mengingatkan apa yang pernah beliau katakan, “keadaan orang miskin adalah jeritan yang, dalam sejarah manusia, terus-menerus menggugah hidup kita, masyarakat kita, sistem politik dan ekonomi, dan tidak kalah penting-juga Gereja” (Dilexi te, no. 9).

Komitmen mendengarkan jeritan orang yang tertindas perlu terus diberi ruang hati dan dengan serius ditanggapi, karena yang dipertaruhkan adalah nyawa orang miskin dan tertindas; mereka yang kekurangan sumber daya material, yang terpinggirkan secara sosial, kemiskinan moral, spiritual dan budaya; yang berada dalam kondisi rapuh secara pribadi dan sosial, yang tidak memiliki hak, ruang dan kebebasan. Ini adalah ketidaksetaraan yang menjadi akar penyakit-penyakit sosial (GE, 203).

Banyak suara jeritan orang yang tertindas berlalu bagaikan menggenggam air, tak tersisah dan tanpa bekas. Namun, kondisi hidup mereka perlu menjadi syarat keputusan politk dan dasar kebijakan publik. Tanpa mendengarkan kenyataan sosial, ketidaksetaraan akan tetap ada; ketidakadilan akan sulit diberantas. Senjata pemberantasan jeritan kaum tertindas bukan dengan belas kasihan dalam bantuan sesaat, tetapi menegakkan prinsip keadilan sosial sesuai amanat Pancasila. Paus Fransikus mengingatkan, “pertumbuhan dalam keadilan membutuhkan keputusan, program, mekanisme, serta proses yang memacu pemerataan pendapatan yang lebih baik, penciptaan kesempatan kerja dan kemajuan seutuhnya orang-orang miskin yang melebihi pemberian bantuan belaka” (GE, 204).

Baca Juga:  Menelisik Relasi Etika dan Bisnis

Jadi, mendengarkan jerit orang yang tertindas tidak sekadar seruan moral-etis demi kebaikan bersama, melainkan panggilan iman untuk keabadian. Dalam Masa Prapaskah, kita perlu merasa dipanggil untuk terus mendengarkan kenyatan hidup bukan hanya dengan doa dan kemauan baik saja, tetapi juga dengan komitmen iman yang diwujudkan di semua dimensi kehidupan.

Mendengarkan jerit orang yang tertindas tidak sekadar seruan moraletis demi kebaikan bersama, melainkan panggilan iman untuk keabadian.

Pastor Chris Surinono, OCD
Biarawan Karmel Tak Berkasut,
tinggal di Roma, Italia

Sumber: Majalah HIDUP, Edisi No. 09, Minggu, 1 Maret 2026

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles