spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Menelisik Relasi Etika dan Bisnis

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Dalam teori etika bisnis, ada ungkapan “business is business, morality is morality”, artinya bisnis adalah bisnis, moralitas adalah moralitas. Ungkapan ini sering dipegang sebagai dasar pengakuan bagi penganut mitos bisnis amoral. Mitos ini sangat didengung-dengungkan oleh Milton Friedman melalui sebuah artikelnya berjudul “The Sosial Responsibility of Business is to Increase Its Profit” dalam Ethical Theory and Business (2009).

Maksud dari ungkapan “mitos bisnis amoral” adalah bahwa pelaku bisnis tidak melihat ada hubungan antara bisnis dan moral. Bisnis memiliki aturan sendiri, dan etika juga memiliki aturan sendiri, namun keduanya bukan satu kesatuan, tetapi berjalan sesuai arah dan jalan masing-masing. Karena itu, bisnis tidak berhubungan dengan etika, dan etikapun tidak bisa dihubungkan, apalagi mendasari bisnis.

Mitos Bisnis Amoral

Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi pengakuan mitos bisnis amoral tersebut. Pertama, sifat personal dan individual etika. Penganut mitos ini mengatakan bahwa sifat dan urusan etika berbeda dengan sifat bisnis. Etika itu bersifat personal, dan menyangkut urusan individu, sedangkan bisnis urusan umum atau hal-hal yang bisa diperdebatkan. Sebagaimana diperlihatkan oleh Milton Friedman dalam artikel yang disebutkan di atas, bisnis adalah urusan publik, sementara etika merupakan urusan personal atau individual. Karena itu keduanya lepas dan berjalan sendiri-sendiri.

Kedua, masih terkait butir pertama, etika dan bisnis memiliki dua dunia yang berbeda. Posisi berbeda ini mengisyaratkan bahwa bisnis dan etika merupakan dua hal yang terpisah, yang tidak mungkin dicampuradukkan. Bisnis  bekerja di ruang pasar bebas, dan tatakelolanya pun berbeda. Bisnis lebih didasarkan pada ilmu pengetahuan, sedangkan etika menyuarakan prinsip-prinsip religius atau prinsip-prinsip etis. Karena itulah hubungan keduanya tidak bisa terjalin. Etika bagi bisnis adalah berjalan sesuai dengan aturannya. Di luar itu bukan urusan bisnis. Yang penting karyawan bekerja untuk mencapai target. Mencapai target adalah bisnis yang terbaik, dan itu merupakan prinsip etis bisnis bagi mitos bisnis amoral.

Ketiga, bisnis yang baik sama dengan etika yang baik. Ini maksudnya, kualitas bisnis tergantung pada pelaksanaan mekanisme pengelolaan yang diberlakukan pada korporasi, termasuk aturan yang dibuat di dalamnya, bukan pada sesuatu yang ditanamkan dari luar baginya. Maka sandarnya adalah apakah berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku dalam korporasi atau tidak. Ketika segalanya berjalan sesuai dengan aturan yang ada, maka itu dianggap sudah etis.

Keempat, pebisnis dan karyawannya tidak diperlengkapi dengan kemampuan etis. Artinya, orientasi pebisnis hanyalah bagaimana memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dengan berbagai macam cara. Sasaran bisnis adalah mendapatkan keuntungan yang maksimal (profit maximization), bukan karitatif. Jadi teori etika yang mendasari penganut mitos ini adalah utilitarianisme dan legalistis.

Baca Juga:  Legioner Diajak Merawat Bumi, Sesama dan Iman

Kelima, bisnis itu lebih cenderung menggunakan komputer dan teknologi informatika. Bagi kedua alat ini tentu tidak relevan menuntut etika, karena alat ini bukan manusia, tetapi instrumen. Area mereka,  jika dikaitkan dengan etika,  adalah hal yang dipertanyakan. Instrumen ini hanya memiliki dimensi produktif sebagai pemberdaya dan pencerahan melalui paparan yang merata bagi informasi dan pengembangan efisiensi yang berkesinambungan.

Argumen Kontra

Namun kelima dasar argumen mitos bisnis amoral dapat dipertanyakan. Bahwa bisnis punya aturan dan tujuan sendiri ada benarnya. Bahwa moral bersifat personal, dan bisnis bersifat publik juga ada benarnya. Tetapi adanya aturan tidak secara otomatis sudah memadai secara etis. Cicero mengatakan “quid leges sine moribus”, artinya apalah artinya hukum kalau tidak disertai dengan moralitas. Problem etis bisa jadi mucnul di dalamnya, yakni bangkitnya sikap legalisme dan munafik.

Secara lebih jelas tiga dasar yang bisa diletakkan sebagai argumen kontra pada mitos bisnis amoral.  Pertama adalah subjek yang terlibat dalam bisnis. Benar bahwa bisnis menggunakan berbagai instrumen seperti komputer dan teknologi informatika dalam menjalankan bisnis. Tetapi satu hal yang tidak bisa dilupakan adalah subjek yang mengoperasikan itu adalah manusia. Artinya, yang bekerja bukan hanya mesin, tetapi juga manusia. Bahkan peranannya sangat mendasar dalam hal ini.

Kehadiran manusia dalam bisnis mengisyaratkan bahwa nilai-nilai etis seyogianya hadir di sana karena manusia itu berhubungan dengan etika. Benar bahwa teknologi tidak memiliki kemampuan untuk menentukan apakah yang dilakukan itu baik atau buruk. Hal itu justru ditentukan oleh manusia. Artinya, rekayasa dalam pemanfaatan teknologi dan informatika harus tetap memperhatikan nilai-nilai etika sendiri. Yang memiliki peran di sana adalah manusia juga.

Kedua, prinsip etika dibicarakan dalam konteks sosial juga, dan bukan hanya dalam konteks individual. Dalam hal ini diskusi-diskusi diperlukan, keterlibatan berbagai pihak di dalamnya dihidupkan. Joseph W Weiss dalam Business Ethics (2021) menegaskan bahwa individu adalah bagian dari masyarakat. Karena itu perilaku dan tindakannya tidak semata-mata bersifat individual, tetapi juga bersifat sosial.  Penegasan Weiss ini sebenarnya mengisyaratkan bahwa etika hadir dalam kehidupan bersama, bukan hanya untuk kehidupan individu. Bahwa perilaku itu bersifat individu ya, namun perilaku itu tidak hadir di ruang kosong. Tentang ini Weiss menulis, “Ït is also true that individual do not operate in a vacuum. Individual ethical choices are most often made and influenced in discussions, conversations, debates and group context”.

Baca Juga:  Seandainya Pater Vertenten Hidup Kembali

Ketiga, tujuan luhur dari bisnis itu sendiri. Bisnis hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Artinya, keberlangsungannya tergantung pada respon masyararakat padanya. Ketika kepentingan masyarakat tidak terpenuhi di sana bisnis mengalami ancaman dalam soal keberlangsungannya. Secara lain dapat dikatakan bisnis hadir untuk memajukan kehidupan masyarakat. Ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh John Mackey dan Rij Sisodia  dalam Conscious Capitalism: Liberating the Heroic Spirit of Business (2014) dengan ungkapannya  “Business has a much broader positive impact on the world when it is based on a higher purposes that goes beyond only generating profit and creating shareholder values. Purpose is the reason of a company exist” . Ketika pelaku bisnis menjauhkan diri dari masyarakat maka ia sendiri melakukan bunuh diri. Karena itu bisnis perlu dilandasi dengan prinsip-prinsip etis.

Nilai Moral dan Wadahnya

Nilai-nilai moral manakah menjadi fundasi dalam menjalankan bisnis? Dan bagaimana nilai-nilai moral itu dihadirkan dalam bisnis? Menjawab pertanyaan pertama, kita bisa menyebutkan minimal dalam tiga prinsip etika penting.

Pertama, keadilan. Keadilan dimaksudkan di sini adalah kehadiran bisnis membawa dampak positif bagi masyarakat sekitar. Artinya, keuntungan yang didapatkan dalam bisnis tidak hanya bisa dinikmati oleh pebisnis, tetapi juga dirasakan oleh masyarakat sekitar. Caranya bermacam-macam antara lain pembangunan sarana-prasarana umum bagi masyarakat, dan kesempatan yang luas bagi masyarakat sekitar untuk dipekerjakan di dalamnya dan pemberian beasiswa bagi anak-anak masyarakat sekitar perusahaan.

Kedua, kepedulian. Nilai ini bahkan mendasari nilai pertama, yakni keadilan. Perusahaan tidak boleh menjadikan masyarakat sebagai objek eksploitasi, melainkan dia harus ditempatkan menjadi subjek. Artinya, pebisnis perlu peduli kepada masyarakat, lebih-lebih kemajuan perekonomiannya dan pendidikannya. Ini juga bagian dari prinsip etika yang penting.

Ketiga, tanggung jawab moral atas kerusakan alam sekitar. Tidak bisa disangkal bahwa kegiatan bisnis berkaitan dengan alam, terlebih-lebih kualitas air sekitar pabrik didirkan. Tanggung jawab moral pebisnis adalah jangan sampai perusahaannya mencemari lingkungan hidup masyarakat. Karena itu ia harus membuat pengolahan limbah yang terjamin sehingga tidak mencemari lingkungan sekitar masyarakat. Tanggung jawab ini menyangkut tanggung jawab prospektif maupun tanggung jawab prospektif.

Menjawab pertanyaan kedua, kita bisa merujuk pada pandangan John Mackey dan Raj Sisodia. Dalam buku yang sudah disebutkan di atas, kedua penulis menunjukkan pengimplementasian etika itu minimal dalam dua hal berikut.

Pertama, dalam tata kelola. Tata kelola tidak terlepas dari fundasi etika. Ketika tata kelola lepas dari etika, maka di situ pintu kehancuran bisnis terbuka lebar.  Bahkan di sinilah letak fungsi bisnis modern bagi keduanya. Jadi keberlangsungan bisnis justru terletak pada hadir  etika sebagai fundasi.  Tentang hal ini Mackey dan Sisodia sangat jelas menyatakan dalam kalimatnya berikut “Conscious Capitalism provides an ethical foundation that is essential but has been largely lacking in business. We believe that business should lead the way in raising consciousness in the world. The larger the company, the greater its footprint and therefore its responsibility to the world”.

Baca Juga:  "Gerakan Rumah Bela Rasa Caritas": Pulihkan Martabat Penyintas Banjir Sumatra

Artinya, kapitalisme yang sehat didasarkan pada etika dan ini merupakan sesuatu yang mendasar. Etika ini bahkan semakin diperlukan ketika perusahaan semakin membesar dan meluas, karena dengan demikian kehadirannya semakin memiliki arti penting bagi masyarakat.  Yang mau ditegaskan Macky dan Sisodia jelas, yakni tata kelola tidak sekedar adanya aturan, tetapi lebih-lebih aturan itu memuat nilai-nilai etis yang disebutkan di atas yang terejawantah dalam prinsip-prinsip tata kelola sendiri, yakni transparansi, tanggung jawab, akuntabilitas dan fairness.

Kedua, kepemimpinan. John Mackey dan Raj Sisodia sadar betul bahwa peranan pemimpin sangat besar dalam menjaga keberlangsungan bisnis. Karena itu kualitas pemimpin bisnis haruslah terjamin. Menurut keduanya, pemimpin harus memiliki jiwa yang sadar etis. Hal ini ditandai dengan berbagai kecerdasan, baik kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Lebih penting dari itu ia harus memiliki kecerdasan yang bersistem yang disebut kedua penulis dangan system intelligence (SYQ), yakni kemampuan untuk memikirkan berbagai hal termasuk hal-hal negatif yang kemungkinan muncul dan melakukan sesuatu agar hal-hal negatif itu tidak terjadi, serta kesediaan untuk membuka diri pada semua orang, berintegritas dan memiliki sikap melayani.

Dari paparan di atas jelaslah bahwa etika dan bisnis bukan dua hal yang terpisah dan tidak memiliki hubungan. Sebaliknya keduanya justru berkaitan demi kemajuan masyarakat bisa terlaksana dengan baik dan keberlangsungan bisnis dapa terjaga. Bisnis yang sehat merupakan dasar bagi kelanggengan kegiatan perusahaan sekaligus yang membawa manfaat  besar bagi masyarakat, karena dengan demikian tanggung jawab sosial perusahaan terwujud dengan maksimal.

Dengan tanggung jawab moral dan sosial yang baik, masyarakat akan melindungi perusahaan dari gangguan. Jadi, jalinan baik etika dan bisnis melahirkan kepedulian perusahaan kepada masyarakat, demikian sebaliknya.

Kasdin Sihotang, Dosen Etika Bisnis di Fakultas Bisnis dan Inovasi Sosial (FBIS) Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta, Sekretaris HIDESI

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles