Jika Menghargai Kebinekaan Langit Tak Akan Runtuh

95
Imam Besar Mesjid Istiqlal KH. Nasaruddin Umar saat memperingati hari jadi ke 212 Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). Sabtu 4 Mei 2019. (FOTO DOK. KOMSOS-PC-GIT/AY TEGUH).
Jika Menghargai Kebinekaan Langit Tak Akan Runtuh
3.4 (68.57%) 7 votes

HIDUPKATOLIK.com
Jika menghargai kebinekaan, maka langit tak akan runtuh. Demikian kalimat yang disampaikan Imam Besar Mesjid Istiqlal KH Nasaruddin Umar, saat memberikan sambutan pada acara “Jalan Santai Kerukunan dan Kebinekaan Lintas Agama” di hari jadi Keuskupan Agung Jakarta yang ke 212. Sabtu, 4 Mei 2019, di halaman Gereja Khatedral Jakarta, yang diikuti sekitar 3.000 peserta dari berbagai macam lintas agama. Hadir diantaranya Uskup Agung Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo, Menteri ESDM Ignasius Jonan, Menteri Agama Lukman Hakim, dan Romo Antonius Suyadi.

Subhahanallah ucap Nasaruddin, seringkali pihak Gereja Khatedral membuka diri jika ada tamu Istiqlal berkunjung ke Khatedral, begitupun juga jika ada tamu Katedral, seringkali Romo Alexius Andang Binawan SJ, Vikaris Episkopal Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), mengajak untuk berkunjung ke Mesjid Istiqlal. Jika saja tidak ada jalan raya antara Katedral dan Istiqlal, mungkin akan lebih cantik jika tanpa pagar, itu pasti sangat Indonesia.

Ribuaan peserta “Jalan Santai Kerukunan dan Kebinekaan Lintas Agama” di hari jadi Keuskupan Agung Jakarta yang ke 212. Sabtu, 4 Mei 2019, di Gereja Khatedral Jakarta.
(FOTO DOK. KOMSOS-PC-GIT/AY TEGUH).

Toleransi lewat parkiran sudah dimulai sejak lama. Setiap kali hari raya keagamaan Katolik, Nasaruddin meminta agar parkiran di Istiqlal dibuka untuk umat Katolik. Begitu sebaliknya saat Idul Fitri, umat muslim bisa parkir di Katedral.

“Kami semua berbangga, karena dipimpin oleh menteri agama yang sangat memahami hubungan lintas agama di Indonesia,” ujar Nasaruddin bersemangat.

Lanjutnya, sebentar lagi umat Islam akan memasuki bulan suci Ramadhan, Nasaruddin meminta agar umat bergama lain bisa bertenggang rasa, untuk tidak melakukan sesuatu yang tidak diminta, namun atas keluhuran dan kebaikan budi pekerti bisa saling menghargai dan menghormati. “Indonesia harus dirawat dan buktinya saat ini, bisa berkumpul untuk merayakan perbedaan,” kata Nasaruddin.

“Perbedaan jangan diratapi, tapi harus disyukuri. Ibarat suatu lukisan, sangat tidak indah jika hanya warna putih monoton. Indahnya suatu lukisan jika ada konfigurasi warna yang dibingkai dalam satu bingkai suci yakni Bineka Tunggal Ika,” ujar Nasaruddin mengakhiri kata sambutannya.
(AY TEGUH/LOURENTIUS EP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here