Romo Vincentius Kirjito : Memanfaatkan Air Hujan

157
Pastor V. Kirjito sedang meneliti air hujan.
[HIDUP/H. Bambang S]
Romo Vincentius Kirjito : Memanfaatkan Air Hujan
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Selain gratis dan mudah didapat, air hujan punya banyak manfaat. Ini sudah diteliti dan dibuktikan.

Sejak 2012, ketika mendapat penempatan di Paroki Roh Kudus Kebonarum Klaten, Keuskupan Agung Semarang (KAS), Romo Vincentius Kirjito, mulai memfokuskan perhatian pada pembelaan masyarakat budaya air hujan di Lereng Merapi timur. “Terakhir ini saya meneliti oksigen, untuk mengetahui kualitas air hujan yang aman dan menyehatkan itu apanya? Apakah kandungan pH, mineral, atau oksigennya,” kata Romo Kir, sapaan akrabnya, saat ditemui di Labora Udan 3060A kompleks Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan (PPSM), Sabtu, 25/5.

Ia meyakini, sejelek-jeleknya atau sekotor-kotornya air hujan yang ditampung di tandon air, kualitasnya masih lebih baik dibanding air tanah, sungai, atau bahkan yang diambil dari pengunungan untuk minuman kemasan sekali pun. “Langit kita itu bersih dibanding tanah, sungai, dan lainnya,” sebut pemerhati budaya air hujan ini. Imam Projo KAS mulai tertarik meneliti air hujan, setelah genap setahun bertugas di parokinya. “Orang mulai diremehkan, nyuguh air hujan saja malu, sampai ngapusi (membohongi), beli galon diisi air hujan,” katanya. Padahal, lanjutnya, sejak dulu kala nenek moyang di Lereng Merapi timur itu sudah mengonsumsi air hujan.

Manfaat Air Hujan
Faktor alam Merapi tua disebutkan sebagai penyebab warga yang tinggal di Merapi timur, khususnya Kecamatan Deles, Kemalang dan Jatinom atas, tak bisa memanfaatkan air tanah. “Saya tanya petugas BPPTKG (Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Gelologi). Menurut dia, ‘Merapi tua lempeng batunya sangat padat, tidak menampung air. Airnya mengalir di Kebonarum bawah saja. Yang di Merapi timur tidak ada air, ngebor sedalam 200 meter pun tak keluar air’,” katanya.

Di wilayah Merapi timur, penelitian budaya air hujan dilakukan Romo Kir bersama pecinta lingkungan di Klaten, Agus Bimo. Itu, menurutnya sebagai bentuk pembelaan pada masyarakat, khususnya yang tinggal di tiga kecamatan tersebut, yang kesulitan mendapatkan air bersih. “Kami bermaksud membantu masyarakat di mana pun yang kondisi alamnya sulit mendapatkan air bersih. Prioritasnya memanfaatkan air hujan. Jangan sampai budaya air hujan ditinggalkan. Air hujan yang warnanya sudah menghijau pun layak dikonsumsi,” tuturnya.

Ia mengungkapkan, meski memanfaatkan budaya hujan atau minum dari tandon tadah hujan, tapi masyarakat di Merapi timur rata-rata kondisi tubuhnya sehat-sehat dan kuat-kuat fisiknya, jarang kena stroke, serta ‘nyambung’ kalau diajak berdialog atau diskusi. Beberapa anak di daerah itu juga berprestasi “Mereka jauh lebih sehat, kalau rapat cepat nangkap,” kata Romo Kir, dalam kesempatan peluncuran bukunya yang diterbitkan PT Pohon Cahaya Yogyakarta, Kamis, 23/5.

Dalam launching bukunya berjudul Titik Balik Evolusi Budaya Air Hujan itu dihadirkan pula salah seorang warga Klaten yang belakangan mengonsumsi banyu udan (air hujan) setrum untuk penyembuhan penyakit yang dideritanya. Adalah Mbah Jelam yang mengungkapkan kesaksiannya memanfaatkan air hujan untuk kesembuhan penyakit kencing batu menahun.

Ia mengaku sudah enam kali menjalani operasi kencing batu, namun penyakitnya tak kunjung sembuh. “Kalau kecapaian kumat, sampai saya nekat mencoba dua kali bunuh diri dengan menggantung. Saya nglalu gantung diri di rumah sakit, tapi ketahuan perawat. Kedua di rumah dipergoki keponakan dan diselamatkan,” ucap Mbah Jelam yang kini sembuh penyakitnya berkat rutin minum banyu udan setrum temuan Romo Kir.

Romo Kir mengakui, meski beberapa warga mengalami kesembuhan penyakit setelah mengonsumsi air hujan, namun dirinya tidak akan mengarahkan air dari langit itu untuk tujuan pengobatan. “Memang banyak kesembuhan yang tidak terbayangkan, tapi saya meneliti air hujan untuk membela masyarakat yang kesulitan mendapatkan air tanah,” jelasnya.

Romo Kir sendiri mengaku, selama hampir enam tahun mengonsumsi air hujan dirinya tidak pernah merasakan pusing kepala meski terjadi pergantian musim. Tidur nyenyak dan bangun pun terasa segar. “Stamina saya juga meningkat, padahal sebelum mengonsumsi air hujan saya sudah pasang tiga ring jantung,” kata Romo Kir.

Membangun Solidaritas
Setelah hampir 3,5 tahun berkarya di Paroki Kebonarum Klaten, pada 2014 Uskup Agung Semarang waktu itu, Mgr Johannes Maria Trilaksyanta Pujasumarta, memberi tugas khusus kepada Romo Kir untuk meneliti budaya air hujan dan cahaya, dengan menempati ruang PPSM.

Dan, per Januari 2019, sejak memasuki purna tugas, imam kelahiran Kulonprogo, 18 November 1953 ini masih diizinkan oleh Uskup Agung Semarang saat ini, Mgr Robertus Rubiyatmoko, untuk melanjutkan penelitiannya itu.

Meneliti budaya hujan untuk solidaritas bagi masyarakat budaya hujan dan yang kesulitan mendapatkan air minum berkualitas menjaga kesehatan. “Penelitian yang saya lakukan selama ini bukan penelitian akademik, tapi penelitian budaya air hujan,” jelasnya.

Hasil penelitiannya menunjukkan kualitas air hujan lebih bagus daripada air tanah, termasuk air kemasan, itu ditularkan Romo Kir ke komunitas-komunitas lain secara meluas. Seperti Yogya, Purwodadi, Bogor, Solo, Semarang, Depok, Bandung, Bekasi Jatim, Bali, Toraja, dan Nabire Papua. “Di Semarang ada komunitas Udan, lalu di Purwodadi juga membuat laboratorium udan. Di Nabire Papua didirikan laboratorium udan. Di Jombang juga mendirikan pesantren air hujan,” sebutnya.

Menurutnya, selama enam tahun meneliti air hujan, paling tidak ia sudah melatih dan menyebarkan hasil penelitiannya kepada sepuluh ribu orang di seluruh Indonesia. “Saya tidak membentuk organisasi. Mereka belajar ke sini sampai jadi pembelajar lagi di daerahnya,” harapnya.

Imam yang telah tiga puluh tahun menggembalakan umat di enam paroki itu menyampaikan, ingin membudayakan air hujan terutama kepada masyarakat yang kesulitan mendapatkan air tanah. Nantinya mereka mampu memproses air hujan secara mandiri. “Air hujan kan banyak, maka harus dicadangkan untuk masak, mandi dan cuci. Kalau air minum harus yang berkualitas,” tuturnya.

Romo Kir juga pernah memberikan pelatihan air hujan kepada lembaga pemerintah, perbankan, dan lembaga swadaya masyarakat. “Minimal pelatihan selama delapan jam karena yang harus diubah pola pikir, perubuhan paradigma,” jelasnya.

Ia menganjurkan agar masyarakat minum air putih dari bahan air hujan, tidak beli air kemasan. “Ada yang pernah menghitung, mengeluarkan uang hingga Rp 8 juta per tahun hanya untuk membeli air minum kemasan,” sebutnya.

Romo Kir berharap, kemandirian atau swadaya air hujan menjadi pilihan keluarga. Caranya, membuat penampungan atau tandon air dan mengolahnya. Dengan begitu tiap rumah tangga punya simpanan air hujan khusus untuk minum selama satu tahun. Sehingga air hujan tak semuanya terbuang percuma di dalam tanah.

Penghargaan dari Negara
Romo Kir mengajak warga untuk mulai menampung dan mengendapkan air tersebut selama dua hingga tiga hari, kemudian dimasak lalu diminum. “Bisa juga air hujan dimasukkan ke dispenser. Meski belum optimal, tapi itu bisa dilakukan. Per hari paling kita hanya butuh dua liter air minum,” sarannya.

Ia mengandaikan, kalau sepuluh juta rumah penduduk Jakarta, masing-masing menampung sepuluh liter air hujan tiap turun hujan, maka banjir yang melanda Jakarta bakal berkurang. Atas kecintaan dan dedikasinya di bidang lingkungan hidup dan seni budaya, pada 2017, Romo Kir mendapatkan pengakuan dan penghargaan dari negara melalui Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila.

H. Bambang S

HIDUP NO.24 2019, 16 Juni 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here