Thomas Sukawan Aribowo : Berbagi Berkat dari Angkringan

224
Thomas Sukawan Aribowo : Berbagi Berkat dari Angkringan
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Menarik pembeli itu tak mudah. Ia sempat merasakan tantangan tersebut selama beberapa tahun. Awal Juni lalu, Presiden Joko Widodo dan keluarganya santap malam di warungnya.

Warung angkringan di Jalan Patangpuluhan 28 Yogyakarta sudah dikenal banyak orang. Apalagi setelah Presiden Joko Widodo dan keluarganya mampir untuk bersantap malam di sana. Kini, Waroeng Klangenan tersebut setiap malam suasananya tambah ramai dan meriah oleh pengunjung. “Sejak Pak Jokowi kemari, langsung tiga hari berturut-turut antrean pengunjung memanjang sampai di jalan masuk gang warung ini,” tutur pemilik Waroeng Klangenan, Thomas Sukawan Aribowo di warung jualannya, Minggu, 16/6.

Saat menikmati libur lebaran di Yogya, Presiden Jokowi beserta keluarganya pada Jumat, 7/6, malam lalu menyempatkan makan malam di warung angkringan itu. Waroeng Klangenan memang beda dengan warung angkringan umumnya yang banyak dibuka di pinggir jalan dengan gelaran tenda di atasnya. Warung ini tempatnya agak masuk gang, bangunannya bentuk joglo. Di bangunan itu disediakan meja-kursi, ada juga lesehan. Di belakang joglo areanya luas dan dikemas terbuka mirip taman. Nyaman bagi pengunjung yang jajan makanan di warung ini.

Menu makanan yang disediakan aneka ragam, selain nasi kucing juga dilengkapi bermacam lauk, serta minuman klangenan. Untuk nasi ada lima belas jenis, sedangkan sate ada dua puluh lima jenis, seperti sete gembus,sate tahu-tempe, sate jamur, sosis tahu, sate usus, kepala dan ceker ayam, serta sate otak-otak. “Pak Jokowi selain dhahar (makan) sate gembus, juga sosis tahu,” kata Thomas.

Olahan Sendiri
Di warung ini semua jenis makanan diolah sendiri. Tak ada dagangan titipan atau setoran dari luar. Ini dimaksudkan selain bisa mengontrol cara pengolahannya, juga menjaga kehigienisan menu yang disajikan. “Untuk nasi kucing saya bungkus daun pisang supaya kalau dibakar untuk dipanasi, aromanya tercium harum,” tuturnya.

Thomas menceritakan kenapa Presiden Jokowi dan keluarganya sampai tertarik santap malam di warungnya. “Karena saya kenal dengan Ibu Iriana. Dulu pernah jadi teman sekolah sewaktu di SMK 3 Solo,” kenang suami Margaretha Saptaningdyah yang dikaruniai tiga anak ini.

Menurutnya, sejak Jokowi masih menjadi Wali Kota Solo, teman-teman alumni SMK sudah mulai saling kontak. Kalau ada teman yang punya usaha bisnis, lainnya saling bantu memberi masukan. “Ibu Iriana memperhatikan satu per satu bisnis teman-teman,” terang pria kelahiran Solo, 4 Mei 1965.

Sehari sebelum Jokowi dan keluarga santap malam di warungnya, Thomas datang ke kediaman Jokowi di Solo untuk open house pada lebaran hari kedua itu. “Di Solo saya ketemu Bu Iriana dan Pak Jokowi. Beliau mengabarkan mau ke Yogya dan ingin mampir ke warung saya,” tutur umat Stasi Brayat Minulyo Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Pugeran, Yogyakarta ini.

Sejak itu, Thomas pun memonitor acara kedatangan Jokowi ke Yogya. “Kamis malam itu, saya jam sepuluh ditelepon Paspampres, katanya diutus Ibu Iriana untuk survei tempat. Paginya ditelepon petugas Polsek dan Polresta karena sudah ada kabar kalau Pak Jokowi jadi mau ke warung ini,” katanya.

Pada Jumat pagi jam sepuluh belum diperoleh kabar kepastian apakah Presiden jadi datang atau tidak ke warungnya. Menyusul kemudian petugas Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) disertai sekuriti kepresidenan memeriksa semua makanan di warungnya. Hasil pemeriksaan BPOM semua oke. Artinya, semua makanan di Waroeng Klangenan dinyatakan lolos uji Balai POM. Meski begitu, tetap saja belum ada kepastian Jokowi akan datang.

Baru, pada pukul tujuh malam, muncul kepastian bahwa Jokowi segera meluncur ke Waroeng Klangenan. “Saya kembali ditelepon Paspampres untuk siap-siap karena Presiden Jokowi dan keluarganya segera akan berangkat dari Istana Kepresidenan Gedung Agung Yogyakarta. Dari Gedung Agung ke warung ini kan dekat jaraknya dan cepat sampai,” tutur Thomas.

Thomas menyambut kedatangan tamu istimewanya itu. Ia berterus-terang kepada Presiden bahwa tempat dan menu makanan di warungnya biasa-biasa saja. Jokowi menjawab, tidak apa-apa karena niatnya memang mau menikmati makanan angkringan di warung ini. “Pak Jokowi suka di tempat yang merakyat. Beliau-beliau itu duduk dan menikmati makanan di meja tiga. Tiba di warung ini jam setengah delapan malam, sampai hampir jam sembilan malam,” beber Thomas.

Thomas mengaku, sebetulnya dirinya sudah menyiapkan hidangan menu khusus untuk keluarga presiden. Tapi, ternyata, Jokowi dan keluarganya mengambil sendiri menu makanan yang disajikan Thomas dan karyawannya untuk para pembeli umum.

Berbagi Tugas
Suasana santap malam Jokowi dan keluarganya di Waroeng Klangenan malam itu bisa dilihat lewat akun twitter resmi @jokowi yang diunggah sehari kemudian. “Malam di Yogyakarta, menikmati sate gembus bersama keluarga di Warung Klangenan. Di warung ini, Anda dapat memanggang sendiri sate pada tungku di atas meja. Kami berbagi tugas. Saya merekam, Ibu Iriana menyantap sate, Kaesang yang mengipasi bara apinya,” tulis Jokowi.

Usai menyantap menu angkringan, Jokowi memberi kesempatan foto bareng untuk kenang-kenangan. “Selesai dhahar kami diminta foto bareng. Justru beliau yang minta untuk foto bersama keluarga kami di depan warung,” tutur Thomas.

Waroeng Klangenan biasanya buka sejak sepuluh pagi. Tapi, karena waktu itu masih suasana Lebaran dan karyawannya belum masuk semua, maka sementara hanya buka mulai pukul empat sore hingga 11 malam.

Luas lahan tempat usaha Thomas sekitar 1100 meter persegi. Thomas memperoleh tanah itu secara tak sengaja. Pada 2013, Asih, seorang perawat homecare yang dipanggil Thomas ke rumahnya untuk menganti infus mertuanya, mengabarkan bahwa rumah orangtuanya mau dijual. Padahal sudah banyak ingin membeli termasuk pengusaha kelas kakap di Yogya.

Thomas dan sang istri saat melihat tanah dan rumah tua yang ditawarkan merasa tidak mampu membeli karena tanah dan bangunannya terlampau besar. “Kami matur pada yang punya tanah, sebenarnya suka tapi tidak mampu membeli. Tapi kemudian kami dihubungi Mbak Asih. Dia bilang kalau ibunya berkenannya kami yang beli,” tutur Thomas.

Akhirnya lewat proses yang panjang terbelilah tanah pekarangan itu setelah istri Thomas yang bekerja di bank nekat pinjam uang dan harus melunasi selama bertahun-tahun. “Kami beli tanah pekarangan ini di bawah harga pasar. Sepertinya Tuhan ikut campur tangan,” ungkap Thomas yang bekerja di perusahan plain wood.

Setelah rumah dan pekarangan terbeli, Thomas tidak buru-buru membuka usaha angkringan yang disebutnya usaha sambilan itu. “Mau apa? Duit simpanan kami berdua sudah habis untuk beli tanah?,” katanya.

Meski demikian, Thomas yang berlatar belakang arsitek, akhirnya mulai mencoba untuk membuka usaha pada tahun itu. Rumah khas Jawa itu pun dibersihkan dan ditata.

Klangenan adalah istilah Jawa, artinya sesuatu yang menjadi kesenangan. Thomas menyasar konsumen kelas menengah ke bawah dan mahasiswa. “Kami sajikan menu makanan yang murah, tapi tidak murahan,” katanya. Maka pengolahan makanan diproses sendiri supaya bahan baku terkontrol dan bisa menekan harga jual, sehingga dagangannya terjangku konsumen. “Sate gembus per tusuk cuma seribu rupiah, padahal tarif parkir motor sudah dua ribu rupiah,” ungkapnya sembari tertawa.

Banyak Kendala
Pada awal membuka angkringan, Thomas akui banyak menghadapi kendala. Ini karena lokasinya yang agak menjorok masuk, sehingga tak diketahui orang kalau di dalam gang masuk itu ada warung. Dan, ketika calon pembeli memasuki kawasan itu yang dilihat warung angkringannya terkesan mewah, sehingga orang menyangka harganya pun mahal. “Beberapa tahun kami berjuang, baru tiga tahun terakhir pengunjung mulai ramai,” ucapnya.

Pelanggan Waroeng Klangenan datang mulai dari sepeda hingga mobil mewah. Meski begitu, warung ini akan tetap mengembangkan konsep sama, menyediakan tempat makan dengan harga menu makanan murah tapi bukan murahan soal rasa. Sebagian keuntungan usaha, Thomas salurkan ke panti-panti asuhan dan panti jompo saat Natal dan Paskah. Thomas dan keluarganya pun menjadi donatur Seminari Mertoyudan.

Keluarga Thomas menjalani hidup mengalir sesuai pemberian Tuhan. Mereka menyadari, anugerah Tuhan tersedia bagi umat-Nya, namun tetap harus berusaha. “Saya meyakini anugerah Tuhan harus dikejar dan diusahakan. Kemudian berkat yang diberikan-Nya, kita bagikan kepada sesama,” katanya.

H. Bambang S

HIDUP NO.26 2019, 30 Juni 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here