drh. Rajanti Fitriani : Dokter Pendengar Curhat Hewan

57
drh. Rajanti Fitriani.
[NN/Dok.Pribadi]
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Dengan mind powering, seseorang mampu mendengar perasaan hewan-hewan. Dengan memahami kemampuan otak alfa binatang, orang dapat mendengar kesusahan mereka.

Dalam cerita masa kecilnya, Rajanti Fitrianti sangat jarang berinteraksi dengan hewan. Tidak pernah ada hewan peliharaan di rumah. Kedua orangtuanya tidak suka hewan, karena rumah menjadi kotor dan merasa berdosa kalau tidak mampu memelihara dengan baik. Lagi, Rajanti kecil mengidap penyakit asma.

Namun siapa sangka, kini Rajanti justru menjadi seorang dokter hewan. Tidak sembarang dokter hewan, dengan kemampuan “mind powering” yang ia kuasai, ia bahkan bisa “berkomunikasi” dengan hewan.

Menurutnya, kemampuan ini bisa dilakukan siapa saja. Caranya pun dapat dipelajari secara ilmiah. Jika manusia dapat melakukannya dengan tepat, manusia dapat berkomunikasi dua arah secara nonverbal, merasakan emosi mereka, memberikan solusi untuk problem yang mereka hadapi, dan mempengaruhi mereka untuk mengubah perilakunya dengan tujuan mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Memahami Hewan
Tahun lalu, beberapa rusa tutul dibawa dari Istana Bogor, Jawa barat ke Stadion Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan tempat Asian Games pada 2018 lalu. Namun, entah kenapa beberapa rusa itu akhirnya mati tak lama setelah sampai di habitatnya yang baru. Padahal, binatang yang induk awalnya didatangkan oleh Sir Thomas Standford Raffles dari India tahun 1814 ini diharapkan menjadi daya tarik di tempat itu.

Setelah kejadian ini, Rajanti pun dipanggil. Tujuannya, agar ia dapat “mendengar curhat” rusa-rusa yang masih hidup perihal kematian beberapa teman-temannya. Alhasil, dengan metode mind power, Rajanti mencoba berkomunikasi dengan kawanan rusa lain yang masih hidup. “Rusa ini memiliki tingkat stres yang tinggi, saya rasa ini salah satu penyebab kematian mereka,” ujar Rajanti.

Rajanti membeberkan, rusa mengalami stres karena dibawa ke lingkungan baru. Dalam temuannya, ada pula induk rusa yang stres karena terpisah dari anaknya. Langkah selanjutnya, ia membujuk rusa-rusa itu untuk tenang. Keesokan harinya, kawanan rusa yang sebelumnya menjauh setiap ada manusia, akhirnya bisa mendekat. Rusa-rusa itu tidak lagi takut dan bahkan sudah berani makan buah dari tangan para dokter.

Teknik mind power dilakukan dengan cara masuk ke gelombang otak alfa pada binatang sambil memunculkan wajah satwa yang ingin digali informasinya. Dari sini, seseorang mampu mendapat gambaran lebih jujur dan tahu solusi apa yang sebaiknya diterapkan ke depannya terhadap hewan yang ditangani. Rajanti mengatakan, semakin rileks, informasi yang didapatkan akan semakin dalam. Menurutnya, tidak mudah berkomunikasi dengan makhluk berbeda. “Butuh ketelatenan, kita seperti menjadi detektif untuk mengkaji ulang informasi yang telah didapatkan,” ujarnya.

Di lain kesempatan, umat Paroki Santo Ambrosius Villa Melati Mas Serpong, Tangerang, Banten ini diminta mengecek gajah Way Kambas Lampung. Gajah-gajah itu bersikap agresif saat dipindahkan dengan digiring berjalan dari satu hutan ke hutan lain. Jika gajah sedang agresif, ia dapat merusak bangunan yang dilewatinya. Hal ini berisiko karena rute perpindahan gajah melewati pemukiman warga.

Dengan mind power, Rajanti mengetahui, bahwa kawanan gajah itu juga stres saat melihat mahout (penggembala gajah). Ia pun menyarankan untuk mengistirahatkan para mahout dan gajah seharian penuh. Saat tim akhirnya mengistirahatkan para mahout dua hari penuh, gajah-gajah itu dapat dipindahkan dengan mulus ke lokasi baru di Taman Nasional Way Kambas Lampung.

Dari Tragedi
Beberapa waktu sebelum lulus SMA, keluarga Rajanti mengalami musibah. Toko elektronik milik ayahnya ludes terbakar. Tidak cuma itu, Rajanti juga harus mengalami cedera dislokasio pada tempurung lututnya. Dengan cedera itu, ia harus memakai tongkat penyangga untuk bisa berjalan selama beberapa waktu. Tentu, hal itu sangat mengganggu mobilitasnya, terutama mencari tempat kuliah.

Beruntung, di kelas dua SMA, bungsu dua bersaudara ini menjuarai Lomba Karya Ilmiah Remaja Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Pemenang lomba itu ternyata bisa masuk ke Institut Pertanian Bogor (IPB) tanpa tes. “Saya kasihan kalau ayah harus menyekolahkan saya dan kakak sekaligus ke perguruan tinggi swasta dengan kondisi kami saat itu,” ungkapnya.

Sebenarnya Rajanti ingin memilih Fakultas Perikanan. Menurutnya, ia senang melihat perilaku ikan-ikan di laut. Namun, ia tidak masuk ke jurusan pilihannya itu dan masuk ke Fakultas Kedokteran Hewan. Sejak itu, ada yang berubah di rumahnya. Ia memutuskan memelihara seekor anjing. Beruntung, semua anggota keluarganya tiba-tiba saja jatuh cinta pada piaraan yang sangat setia itu. “Saat itu, saya menemukan ketertarikan pada dunia pet grooming, yaitu merawat, memelihara penampilan hewan,” ujarnya.

Lulus dari IPB, Rajanti pergi ke Australia dan Singapura untuk mendalami pet grooming. Sambil belajar, ia magang di salah satu rumah sakit hewan ternama di Singapura. Kembali ke tanah air, ia bekerja di jaringan pet shop Asia terbesar kala itu yang terletak di Kebon Jeruk, Jakarta Barat. “Saya kerja dari pukul tujuh pagi dan pulang pukul 10 malam, digaji Rp 350 ribu. Tetapi saya bahagia sekali,” ujar Rajanti.

Setelah setahun bekerja, Rajanti memutuskan memulai klinik sendiri di ruko yang ia sewa. Namun, ia akhirnya memutuskan untuk pindah praktik di rumah dan hanya melayani house call saja. Tahun 2011, ia mendirikan klinik hewan yang terintegrasi mulai dari klinik, grooming, penjualan dog food, dan acssesories, penitipan baik sehat maupun sakit.

Bukan Klenik
Dalam praktiknya sebagai dokter hewan, kemampuan mind powering tentu menjadi andalannya untuk memahami setiap “pasien” yang datang kepadanya. Suatu kali, ia diminta memeriksa kelinci yang mogok makan. Lewat mind powering, ia kemudian tahu bahwa sang kelinci ternyata enggan makan karena dipindahkan ke kandang baru.

Rajanti menjelaskan, mind power bukanlah klenik juga bukan mistik. Mind powering murni kemampuan otak kanan manusia yang luar biasa hebat. Caranya dengan mengambil data melalui gelombang alfa. Semuanya bisa dipelajari. Namun, keberhasilan mempelajari teknik ini tergantung kemampuan otak kanan masing-masing individu.

Otak kanan, kata Rajanti, bisa masuk ke gelombang alfa dan tetha. Gelombang alfa berguna untuk mencari informasi dan data dari makhluk lain sedangkan gelombang tetha untuk mempengaruhi. Tak hanya satwa, informasi dan data dari manusia lain pun bisa didapat dengan memanfaatkan gelombang alfa dan tetha ini.

Kelebihan Rajanti ini tak datang tiba-tiba. Sebelum mempraktikkan mind powering di kliniknya, ia terlebih dulu mempelajari tentang kemampuan otak kanan ini. Awalnya ia mengaku mempelajari linking awareness. Namun, karena ilmu tersebut terlalu abstrak baginya, ia tidak bisa menggunakan metode ini. Ia kemudian mencari metode sendiri. Ia pun mempelajari mind scape. “Metode ini lebih terarah, mungkin lebih cocok untuk saya yang biasa menggunakan otak kiri dalam kegiatan sehari-hari,” ujarnya.

Rajanti juga mempelajari energetic, yakni ilmu yang membedakan gelombang magnetik dalam tubuh. “Organ-organ yang sakit atau menderita kelainan akan memancarkan gelombang yang berbeda dibandingkan organ-organ yang sehat. Ilmu energetic ini sangat berguna untuk melakukan scan, sehingga dokter hewan dapat membuat perkiraan organ yang mengalami kelainan. Terakhir, ia melengkapi keterampilannya dengan mempelajari body talk. “Lantas, semua metode itu saya gabungkan, tambah, dan revisi sehingga lebih sistematis dan jadilah metode mind power,” ujarnya.

Pada dasarnya, kata Rajanti, terapi mind power bisa meminimalisasi penggunaan obat dan bermain dengan akar permasalahan utama pada hewan peliharaan. Emosi yang tidak stabil pada akhirnya menjadi penyakit. Dengan mengetahui emosi hewan, penyakit bisa dicegah dan disembuhkan.

drh. Rajanti Fitriani

Lahir : 24 November 1955
Lahir : Bogor, 21 Desember 1968
Suami : Andreas Andi Sidharta
Anak : Ray Agyra Jeremy, Christopher Areliano Shilo, Amaris Egidia Kiara
Pendidikan : Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (1992)

Frater Benediktus Yogie Wandono SCJ, Antonius E. Sugiyanto

HIDUP NO.31 2019, 4 Agustus 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here