Rahmat Pengampunan

519
Rahmat Pengampunan
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Dalam Doa Bapa Kami terdapat kalimat, “Ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami. Dalam kalimat ini, terkesan kita minta Tuhan mencontoh tindakan pengampunan kita. Apakah tidak sebaliknya kita mencontoh pengampunan Tuhan?

Gracia, Balikpapan, Kalimantan Timur

Di dalam Injil Matius tentang Doa Bapa Kami diberi penjelasan tambahan sebagai berikut, “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di Surga juga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu” (Mat 6:14-15).

Penyataan tersebut tidak menunjukkan, bahwa Allah belajar mengampuni dari umat manusia, melainkan sebagai suatu tuntutan sikap, bahwa rahmat pengampunan itu barulah sungguh bisa dan layak diterima kalau umat manusia menghidupinya, sebab memang Allah lebih menghendaki kita menjadi pelaksana kehendak Allah, sebagai tanda pribadi yang bijaksana (lih Mat 7:24), memiliki dasar dalam dan kokoh dalam hidupnya (lih Luk 6:46-49). Tidak mengherankanlah kalau Yesus sendiri menyebut ibu dan saudara-saudarinya adalah mereka yang mendengarkan dan melaksanakan kehendak Allah (lih Mat 12:50; Mrk 3:35; Luk 8:21).

Oleh karena itu jika kita sendiri tidak berbelaskasih dan tidak mengampuni satu sama lain, maka pengampunan Allah pun tidak akan sampai kepada hati kita. Kalau kita menolak mengampuni sesama kita, dengan demikian hati kita menutup diri dan kekerasan hati itu menjadikan kita menutup diri pula dari kerahiman Ilahi. Itulah inti pendasarannya. Katekismus Gereja Katolik menyebut bahwa pengampunan adalah salah satu puncak buah doa Kristiani, sehingga hanya hati yang sesuai dengan belaskasihan Allah dapat menerima anugerah doa di dalam dirinya. Kisah Injil tentang pengampunan menggambarkan hal tersebut, “Bukankah engkau pun harus mengampuni kawanmu seperti aku telah mengampuni engkau? … Maka Bapa-Ku yang di Surga akan berbuat demikian juga terhadap kamu apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu” (Mat 18:33.35).

Kita memang meneladan kerahiman Allah, yang dalam belaskasihan-Nya menyatakan pengampunan-Nya kepada umat manusia. Karena itu, langkah meneladan Allah tersebut nyata kalau kita sendiri menghidupi kerahiman tersebut, dengan kerelaan hati kita untuk juga mengampuni. Pengampunan adalah salah satu tanda keselamatan, mengampuni karenanya adalah buah dari rahmat keselamatan tersebut. Kerahiman Allah tidak dapat sungguh meresap di hati sebelum kita sedia mengampuni. Malahan saat berdoa pun, mempersembahkan persembahan di altar Tuhan, kita diminta untuk berdamai terlebih dahulu, sebelum meneruskan mempersembahkan kurban di hadapan Allah (lih Mat 5:23-24). Allah tidak menerima kurban orang yang tidak rela berdamai, dan menjauhkan mereka dari altar, supaya berdamai terlebih dahulu, supaya melalui permohonannya yang cintai damai itu mereka juga menemukan perdamaian dari Allah. Demikian Bapa Gereja, Siprianus menyatakan.

Belaskasih pengampunan, yang dihidupi dengan semangat mengampuni itu, berbuah pula dalam tindakan kasih, seperti dalam kisah Yesus yang diurapi oleh perempuan berdosa (lih Luk 7:36-50). Tindakan kasih kepada sesama adalah tanda nyata dari diterima dan dihidupinya rahmat pengampunan, sebab memang pengampunan itu sendiri adalah tindakan kasih. Kesatuan dan persaudaraan hidup merupakan wujud dari kesediaan untuk mau saling mengampuni, demikian Yohanes Paulus II dalam dokumen tentang rekonsiliasi dan pengampunan. Pengampunan merupakan langkah membangun hidup, menuju ke masa depan, agar kehidupan bersama kita menjadi hidup bersama orang yang telah diperdamaikan di dalam Kristus.

Kita berdoa mohon diampuni dosa-dosa kita. Namun permohonan tersebut memuat ajakan dan tuntutan, agar kita pun menghidupi apa yang kita mohonkan: pengampunan. Kalau kita memohon kepada Allah, namun tidak mau menghidupi rahmat belaskasih pengampunan Allah, maka sebenarnya kita tidak siap dan tidak sedia menerima rahmat yang kita mohonkan dalam doa Bapa Kami tersebut. Kita hidupi rahmat itu, agar rahmat kita kita mohonkan itu semakin hidup dan berbuah dalam diri kita.

T. Krispurwana Cahyadi, SJ

HIDUP NO.49 2019, 8 Desember 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here