Generasi Peranakan dari Teluk Naga

49
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Orang Tionghoa masuk ke Tangerang bermula dari Teluk Naga. Akulturasi budaya tercipta di sana. Bahkan tercipta generasi suku baru yang juga bermula dari sana.

Laju kendaraan yang kami tumpangi agak tersendat kala memasuki Kawasan Kuliner Pasar Lama, Tangerang, Senin sore, 16/1. Kendaraan
bermotor dan becak hilir mudik, orang berlalu-lalang, dan para pedagang menanti dan menjajakan dagangan mereka kepada para calon pembeli. Ibarat jantung, wilayah yang disebut Pecinan ini nyaris tak pernah berhenti berdenyut.

Menurut Aloysius Irwan Setiawan, yang kendaraannya kami tumpangi, mengatakan, kemacetan yang kami alami sekarang belum seberapa. “Pada akhir pekan, kalau (kendaraan) masuk ke kawasan ini tak bisa bergerak sama sekali,” ujar pria berusia 71 tahun sembari terkekeh.

Handinoto, dalam artikelnya “Perkembangan Arsitektur Tionghoa di Indonesia” yang dimuat dalam buku bunga rampai Peranakan Tionghoa Indonesia: Sebuah Perjalanan Budaya (edisi ketiga), kepadatan yang sangat tinggi merupakan salah satu ciri khas daerah Pecinan. Di tepian Timur Sungai Cisadane inilah warga Cina Benteng dari ilir hingga udik melebur sejak zaman VOC.

Benteng VOC
Sebutan Cina Benteng bagi masyarakat peranakan Tionghoa merujuk pada keberadaan benteng, yang dibangun oleh perusahaan dagang Belanda (Vereenigde Oostindische Compagnie/VOC), di pesisir timur Cisadane. Sebutan itu meluas ke pedalaman, seiring meluasnya permukiman Tangerang.

Mahandis Y. Thamrin dalam artikelnya “Sang Naga di Barat Jakarta”, yang dimuat dalam majalah National Geographic Indonesia (Februari 2014), menulis, garda pertahanan di barat Batavia itu dibangun sekitar 1683-1685 tatkala menegangnya
hubungan antara VOC dan Banten. Kemudian diperbesar dan diperkuat sekitar 1730-an.

Sayangnya, penanda peradaban kota itu telah lenyap. Namun demikian, beberapa ruas jalan yang membelah permukiman di sekitar bekas lokasi benteng itu bertoponimi “Benteng Makasar” karena personel kubu pertahanan VOC itu didatangkan dari Makasar.

Pada awal sejarah, lanjut Thamrin dalam tulisannya, mayoritas warga Cina Benteng mempunyai penghidupan agraris, bukan berdagang. Mereka berbaur dengan warga setempat sehingga selayang tak dapat dikenali lagi perbedaan ragawinya. Beberapa dekade terakhir ini, mereka beralih menjadi pengusaha, pedagang,
pemilik pabrik, buruh angkut, tukang becak hingga pengemis.

Thamrin menambahkan, dahulu kala, warga peranakan Cina Benteng merupakan komunitas kebanyakan yang menghuni Tangerang. Warga lokal yang bukan peranakan adalah Betawi udik. Umumnya mereka bertani. Bahasa yang mereka
gunakan tidak berbeda dengan dialek Betawi pinggiran.

Teluk Naga
Mona Lohanda (Pauline Monika Lohanda) dalam artikel “Menjadi Peranakan Tionghoa”, dalam buku Peranakan Tionghoa Indonesia: Sebuah Perjalanan
Budaya (edisi ketiga) membeberkan, kontak awal bangsa Tionghoa dengan wilayah di kawasan Selatan/Nanyang (Asia Tenggara, -Red.) terjadi pada sekitar abad kelima Masehi. Seorang musafir bernama Faxian dalam perjalanan pulang dari India
menuju Tiongkok singgah di Sumatera, tepatnya di Kerajaan Sriwijaya.

Ia tinggal sejak Desember 412-Mei 413. Catatan perjalananya dituliskan dalam buku Foguoji, Records of the Buddhistic Kingdom. Sejarahwan Denys Lombard juga menyebutkan, pada abad kelima itu sudah ada beberapa utusan dari Jawa ke Tiongkok, yaitu pada 430, 436, 437, dan 452. Utusan itu melaksanakan semacam penghormatan
kepada kaisar Tiongkok dengan membawa barang-barang dagangan yang ditukarkan dengan barang-barang produk Tiongkok.

Mona melanjutkan, pada abad kedelapan, Pendeta Yijing dengan ekspedisi ilmiahnya mencatat tempat-tempat yang dikunjunginya, termasuk wilayah Laut Selatan. Catatan-catatan tentang kawasan yang terletak di wilayah Nanyang selanjutnya muncul dari abad ke-12 yang disusun oleh mereka yang berurusan dengan pedagang asing, yaitu pejabat yang bertugas di kota-kota pelabuhan.

Paling menarik perhatian, tambah Mona, adalah Ma Huan yang menyertai ekspedisi armada Xheng He sebagai penerjemah. Tujuh ekspedisi besar itu
dilancarkan antara 1405 dan 1453. Pada 1451 Ma Huan mengeluarkan catatannya, Yingya Shenglan (Description of the Coast of the Ocean). Sesudah itu masih ada catatan tentang wilayah Laut Selatan yang dibuat tahun 1618 dan juga tahun 1822.

Dengan adanya catatan itu dapat diartikan bahwa sebetulnya kontak antara Tiongkok dengan wilayah Laut Selatan, termasuk kawasan Nusantara, dimulai dalam wujud perdagangan laut atau
perdagangan maritim. Dengan begitu permukiman awal orang Tionghoa tercipta dari hubungan dagang ini, sehingga lokasinya masih terpusat di kota-kota pelabuhan sepanjang pantai di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Asia Tenggara.

Hal ini sama dengan permukiman awal orang Tionghoa di Jawa yang juga terletak di daerah sepanjang pantai Utara, mulai dari Banten, Jayakarta, Cirebon, Semarang, Tuban, Gresik sampai ke Madura. Baru pada awal abad ke-20, migrasi orang Tiongkok lebih disebabkan oleh masalah politik.

Soal komunitas Tionghoa di Tangerang, dalam kitab sejarah Sunda, Tina Layang Parahyang, atau Catatan dari Parahyangan, dikatakan kelompok tersebut sudah ada sejak tahun 1407, atau awal abad ke-15. Kitab itu menceritakan tentang mendaratnya rombongan pertama dari dataran Tiongkok yang dipimpin Tjen Tjie Lung alias Halung di muara Sungai Cisadane, yang sekarang berubah nama menjadi Teluk Naga.

Kata Mona, saat ditemui di kediamannya, di Tangerang, Senin, 16/1, orang-orang Tionghoa datang dengan menggunakan kapal-kapal jukung (junk). Perjumpaan antarbangsa dan budaya membuahkan akulturasi di sana. Pembauran itu pada akhirnya melahirkan generasi suku baru antara Tiongkok dengan orang lokal lewat pernikahan.

Komunitas Peranakan
Komunitas peranakan itu kemudian tinggal di beberapa daerah di Tangerang, antara lain: Pasar Lama, Pasar Baru, Teluk Naga, dan sepanjang pesisir kali Cisadane.

Setelah enam abad lebih berlalu, Cina Benteng telah menjadi fenomena budaya tersendiri di Indonesia. Setiap tahun, terutama saat Tahun Baru Cina atau Imlek, di wilayah yang dihuni oleh kaum
peranakan, salah satunya di Pasar Lama Tangerang, menyulap kawasan tersebut manjadi kian riuh rendah dan tentu semakin macet.

Yanuari Marwanto/Karina Chrisyantia

HIDUP NO.04 2020, 26 Januari 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here