Dies Natalis ke-60, Rektor Sebut Atma Jaya Wajib Ikuti Hukum Gereja, Memperhatikan Kelompok Terpinggirkan

216
Kampus Unika Atma Jaya di Semanggi, Jakarta. Dok. Unika Atma Jaya
Dies Natalis ke-60, Rektor Sebut Atma Jaya Wajib Ikuti Hukum Gereja, Memperhatikan Kelompok Terpinggirkan
5 (100%) 1 vote

Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya tahun ini berusia 60 tahun, tepatnya tanggal 1 Juni mendatang. Dilansir dari situs resminya, Atma Jaya merupakan buah gagasan rapat para Uskup se-Jawa pada Juni 1952. Dalam pertemuan itu diutarakan kemungkinan pembentukan suatu perguruan tinggi Katolik di Indonesia.

Gagasan itu terwujud di ibukota Jakarta, sejak didirikannya Yayasan Atma Jaya oleh sekelompok cendekiawan muda Katolik pada tanggal 1 Juni 1960. Yayasan inilah yang mendirikan Unika Atma Jaya.

Dalam perjalanan waktu, nama Unika Atma Jaya selalu menghiasi peringkat lima besar kampus swasta terbaik di Indonesia. Rektor Atma Jaya, Agustinus Prasetyantoko, mengatakan sebagai universitas Katolik, Atma Jaya wajib mengikuti hukum Gereja Ex Corde Ecclessiae (ECE). ECE adalah Konstitusi Apostolik  tentang Universitas Katolik yang diterbitkan Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1990, setahun setelah kunjungannya ke kampus yang berpusat di Semanggi, Jakarta ini.

Paus Yohanes Paulus II saat mengunjungi Unika Atma Jaya, 12 Oktober 1989. Dok. Unika Atma Jaya

Dalam konstitusi ini Paus Yohanes Paulus II menyebutkan bahwa semua perguruan tinggi yang menggunakan landasan Katolik wajib memperhatikan masyarakat yang terpinggirkan (preferential option for the poor).

Menurut Agustinus Prasetyantoko, di era disrupsi saat ini, Unika Atma Jaya bertanggungjawab memastikan kemajuan bagi kelompok yang terpinggirkan.

Dia menjelaskan di tengah perkembangan teknologi yang luar biasa cepat serta meningkatnya kemampuan komputer memproses dan menyimpan, serta hadirnya teknologi di bidang big data, deep learning, Internet of Things dan derivasi kemajuan lainnya, perguruan tinggi menghadapi era-disrupsi dalam dua hal besar. Dua hal besar tersebut adalah kemajuan teknologi pembelajaran dan seluruh disrupsi yang membawa implikasi baik positif maupun negatif.

Rektor Unika Atma Jaya, Agustinus Prasetyantoko. Dok. Unika Atma Jaya

“Dalam konteks ini, Unika Atma Jaya mempunyai tanggung jawab untuk turut memastikan berbagai kemajuan tak meninggalkan kelompok yang kurang beruntung,” kata Agustinus Prasetyantoko dalam pernyataan pers yang dikeluarkan Unika Atma Jaya, Kamis, 28/5.

Rektor periode 2019-2023 ini juga menuturkan, di usia ke-60 tahun, Unika Atma Jaya memiliki tiga pilar program kerja, yaitu keunggulan akademik, transformasi organisasi dan kepedulian sosial, untuk pengembangan universitas dengan karakteristik profil lulusan yang menguasai digital, berwawasan global dan memiliki kepedulian pada masyarakat. “Be digital, go global, build society,” ujarnya lagi.

Dies natalis tahun ini Unika Atama Jaya mengangkat tema “Dari Atma Jaya untuk Indonesia: Transformasi Manusia Unggul dan Peduli”. Ketua steering committee Dies Natalis ke-60, Steve Ginting, mengatakan tema ini diterjemahkan ke dalam rangkaian kegiatan sepanjang tahun, baik kegiatan akademik maupun non-akademik, yang melibatkan pemangku kepentingan internal dan eksternal.

“Rangkaian kegiatan tersebut akan dilaksanakan di tiga kampus yang menjadi tempat transformasi mahasiswa untuk menjadi unggul dan peduli, yaitu Kampus Semanggi (Center for Nation Development), Kampus Pluit (Center for Health Development) dan Kampus BSD (Center for Human Development),” katanya menjelaskan.

Hermina Wulohering

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here