Masih Punya Kepahitan Hati? Baca Homili Paus Fransiskus: Ekaristi adalah Antibodi Kesedihan

122
Paus Fransiskus mengangkat monstran selama Adorasi Ekaristi di akhir Misa di Domus Sanctae Marthae, Vatikan pada 5 Mei 2020. |CNS / Media Vatikan
Masih Punya Kepahitan Hati? Baca Homili Paus Fransiskus: Ekaristi adalah Antibodi Kesedihan
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.COMHari Raya Tubuh dan Darah Kristus dirayakan dalam sunyi tahun ini di Vatikan. Hanya segelintir umat yang hadir. Terlihat mata Paus Fransiskus penuh harap saat memandang hosti kudus yang ditahtakan dalam Monstran. Kilaunya begitu agung menandakan hosti itu sungguh adalah Tubuh dan Darah Kristus. Dalam kesempatan itu pula, Bapa Suci menyatakan bahwa Ekaristi dapat memulihkan ingatan buruk yang mencegah orang terbuka untuk menerima cinta Allah. Ingatan itu termasuk kesalahan masa lalu yang menimbulkan luka hingga hati menjadi keras dan acuh tak acuh.

Berbicara mengenai pentingnya sebuah memori, Paus bertanya dalam homilinya pada Minggu, 14/6, “Bagaimana jika rantai transmisi ingatan terputus? Bagaimana kita dapat mengingat apa yang baru saja kita dengar padahal kita belum pernah mengalaminya sendiri?.” Paus menyatakan Allah tahu betapa sulitnya itu. “Allah tahu betapa lemah ingatan kita, namun Ia melakukan sesuatu yang luar biasa. Ia meninggalkan sebuah kenangan lewat kata karena mudah untuk melakukan apa yang kita dengar. Dia tidak hanya meninggalkan tulisan suci karena mudah melupakan apa yang dibaca. Dia pun tidah hanya meninggalkan tanda karena apa yang kita lihat dapat dilupakan. Sebaliknya, Allah memberi kita makanan karena sulit melupakan sesuatu yang telah kita cicipi. Roti yang Allah tinggalkan sungguh menghadirkan-Nya. Roti itu hidup dengan seluruh rasa kasih Kristus tercurah,” tuturnya. Untuk itu, Ekaristi begitu penting dalam hidup iman Katolik sebab perayaan itu adalah peringatan akan Allah. “Ekaristi menyembuhkan ingatan kita yang terluka,” tegas Paus lagi.

Jenis Memori Buruk

Merefleksikan pada berbagai jenis ingatan yang terluka, Bapa Suci menuturkan Ekaristi pertama-tama menyembuhkan ingatan para yatim yang dihasilkan dari kurangnya cinta dan kasih sayang atau kekecewaan pahit yang disebabkan oleh mereka yang seharusnya memberi mereka cinta. “Kita ingin kembali dan mengubah masa lalu, tetapi kita tidak bisa. Hanya Allah yang dapat menyembuhkan luka-luka ini dengan menempatkan dalam ingatan kita cinta yang lebih besar: cinta-Nya sendiri, ”katanya.

Jenis memori lain yang dikatakan Paus disembuhkan oleh Ekaristi adalah memori negatif. Ingatan ini berkutat pada kesalahan yang pernah dibuat dan meninggalkan persepsi serta perasaan tidak berguna. “Yesus datang untuk memberi tahu kita bahwa ini tidak benar,” ucap Paus. Ia pun bersikeras bahwa setiap kali Ekaristi diterima telah menjadi pengingat bahwa setiap orang berharga dan menjadi sahabat dekat Allah.

Ekaristi hadir bukan hanya karena Allah murah hati, tetapi karena Ia sungguh mencintai manusia. Allah melihat dan mencintai keindahan dan kebaikan kita. Allah tahu bahwa kejahatan dan dosa tidak mendefinisikan siapa kita. Ingatan buruk adalah infeksi yang menyebabkan penyakit. “Dengan Ekaristi, Allah datang untuk menyembuhkan manusia yang terluka. Ekaristi mengandung antibodi yang mengatasi ingatan negatif kita,” ucap Paus lagi.

Yesus adalah obat. Dengan Yesus,manusia bisa menjadi kebal terhadap kesedihan. Bapa Suci melanjutkan, “Kita akan selalu mengingat kegagalan, masalah di rumah dan di tempat kerja, impian kita yangbelum terwujud. Namun bobot mereka tidak akan menghancurkan hidup kita karena Yesus hadir lebih kuat dan melindungi kita dengan kasih-Nya.” Paus percaya bahwa Ekaristi mampu mengubah umat Kristen menjadi pembawa kebahagiaan. Paus Fransiskus mendorong umat untuk bertanya pada diri sendiri apa yang telah mereka bawa ke dunia, apakah itu kesedihan dan kepahitan, kecenderungan untuk mengasihani diri sendiri atau sukacita Allah yang dapat mengubah hidup.

Selain itu, Bapa Suci juga berbicara mengenai tentang “ingatan tertutup”. Ingatan ini terdiri dari luka yang disimpan di dalam batin dan menciptakan masalah tidak hanya bagi diri snediri, tetapi juga orang lain. Ingatan ini membuat pribadi seseorang menjadi diliputi ketakutan dan kecurigaan yang akhirnya menjadi sinis diikuti sikap acuh tak acuh. “Luka kita dapat berpengaruh terhadap orang lain. Luka ini ditutupi dengan nuansa kesombongan. Hidup dalam ilusi bahwa dengan cara ini dapat mengendalikan situasi,”  jelas Paus. Luka demikian hanya dapat disembuhkan oleh cinta Allah. Cinta dapat menyembuhkan rasa takut hingga ke akarnya dan membebaskan manusia dari sikap mementingkan diri sendiri yang sebenarnya memenjarakan jiwa.

Kekuatan Ekaristi

Dalam Ekaristi, Yesus muncul dalam kesederhanaan untuk melucuti sang tuan rumah. Tidak hanya itu, Yesus pun memecahkan cangkak keegoisan. Paus menambahkan, “Yesus mengajar bahwa dengan membuka hati, manusia dapat dibebaskan dari hambatan internal dan kelumpuhan hati.

Paus Fransiskus juga memperingatkan umat Kristen agar tidak mengejar ilusi yang kita pikir tidak dapat melanjutkan hidup tanpanya, namun hal itu justru membuat hati merana di dalam. Umat Kristen harus memiliki keyakinan bahwa Ekaristi mampu memuaskan keinginan untuk hal-hal materi dan menghidupkan kembali keinginan untuk melayani orang lain. “Ekaristi membangkitkan kita dari gaya hidup yang nyaman dan malas. Ekaristi mengingatkan kita bahwa kita tidak hanya diberi makan melalui mulut, tetapi juga tangan untuk memberi makan orang lain,”ungkapnya.  Kedekatan tulus diperlukan bak ikatan solidaritas sejati sebab dalam Ekaristi Yesus mendekat kepada kita. Untuk itu sebagai penerima hosti kudus,  janganlah berpaling dari orang-orang di sekitar kita.

Bapa Suci pun menutup homilinya dengan mendesak umat beriman untuk meluangkan lebih banyak waktu dalam adorasi Ekaristi. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari Misa. “Adorasi akan banyak membantu kita karena membantu menyembuhkan dari dalam. Apalagi sekarang, ketika kebutuhan akan Allah begitu besar.”

Felicia Permata Hanggu

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here