Kisah Dua Bersaudara yang Ditahbiskan Menjadi Imam: “Allah Memilih untuk Memanggil Kami”

322
Pastor Connor (kiri) and Father Peyton. (Dok. CNA)
Kisah Dua Bersaudara yang Ditahbiskan Menjadi Imam: “Allah Memilih untuk Memanggil Kami”
5 (100%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.COM— Peyton dan Connor Plessala adalah dua bersaudara dari Mobile, Alabama. Lahir dan tumbuh dalam sebuah keluarga Katolik di Louisiana Selatan bersama adik perempuan serta seorang saudara laki-laki. Ayah dan ibu mereka berprofesi sebagai dokter yang kemudian pindah ke Alabama ketika Connor dan Peyton masih sangat muda. Meskipun kadang-kadang terjadi persaingan dan bahkan pertengkaran, mereka selalu menjadi teman baik.

“Kami lebih dekat daripada teman baik,” kata Pastor Connor seperti dirilis CNA, 12/6.

Sebagai remaja putra, baik di Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, dan Perguruan Tinggi, sebagian besar kehidupan mereka berkutat seputar intelektual, ekstrakurikuler, teman, pacar, dan olahraga.

Namun di tengah situasi hidup yang menawarkan banyak pilihan, kedua pemuda itu akhirnya memutuskan untuk menyerahkan hidup mereka melayani Allah dan Gereja Katolik sebagai Imam Tuhan.

Tanggal 30 Mei Kedua bersaudara itu ditahbiskan menjadi imam di Katedral Basilika Immaculate Conception di Mobile, dalam Misa terbatas karena pandemi covid 19.

“Untuk alasan apapun, Tuhan memilih untuk memanggil kami, dan kami cukup beruntung memiliki dasar dari kedua orang tua kami dan juga pendidikan yang telah kami jalani, hingga kemudian mengatakan ya,” kata Pastor Peyton. Menurutnya, saat ini dia sangat bersemangat untuk mulai membantu sekolah-sekolah dan pendidikan Katolik, dan juga mulai mendengarkan pengakuan dosa.

“Anda menghabiskan begitu banyak waktu di seminari untuk menjadi efektif suatu hari, untuk menyiapkan rencana, impian dan harapan serta hal-hal yang akan Anda lakukan suatu hari di masa depan. Sekarang sudah tiba, jadi saya tidak sabar untuk memulainya,” kata Pastor Peyton.

Keutamaan Dasar

Selain membawa keluarga ke gereja setiap hari Minggu, Plessalas mengajar anak-anaknya apa yang disebut Peyton sebagai “kebajikan dasar” yakni bagaimana menjadi orang baik; pentingnya memilih teman dengan bijak dan nilai dari sebuah pendidikan.

Bermain sepak bola, bola basket, dan baseball selama bertahun-tahun mengajari mereka nilai-nilai kerja keras, persahabatan, dan memberi contoh bagi orang lain.

“Orangtua mengajari kami untuk mengingat bahwa ketika kami pergi dan bermain sepak bola, kami memiliki nama Plessala di bagian belakang kaus kami, yang mewakili seluruh keluarga,” kata Pastor Peyton.

Peyton mengakui bahwa meskipun di sekolahnya selalu mendapatkan promosi panggilan setiap tahun, tetapi tidak satu pun dari mereka yang benar-benar menganggap imamat sebagai pilihan bagi kehidupan mereka.

Sampai pada awal tahun 2011, ketika mereka melakukan perjalanan dengan teman-teman sekelas mereka mengikuti kegiatan pro-life tahunan terbesar di Amerika Serikat bertempat di Washington DC.

Saat itu, seorang Imam baru mendampingi kelompok mereka dari Sekolah Menengah Katolik McGill-Toolen dengan penuh semangat. Para imam lain yang mereka temui dalam perjalanan itu, menggerakkan Connor untuk mulai mempertimbangkan keputusannya masuk seminari langsung dari sekolah menengah.

Pada musim gugur 2012, Connor memulai studinya di St. Joseph Seminary College di Covington, Louisiana.

Peyton juga merasakan panggilan imamatnya dalam perjalanan yang sama, namun keputusannya masuk ke seminari tidak langsung seperti adiknya.

“Saya menyadari untuk pertama kalinya, saudara saya yang Imam ini sangat damai dengan dirinya sendiri dan selalu bergembira. Saya berpikir ini adalah kehidupan yang sebenarnya dan saya bisa melakukannya juga,” kata Pastor Peyton yang pernah belajar pra-kedokteran di Louisiana State University.

Tahun pertamanya di perguruan tinggi, Peyton kembali ke sekolah menengahnya untuk mendampingi perjalanan tahun itu ke March for Life. Dan pada satu titik dalam perjalanan itu saat adorasi Sakramen Mahakudus, Peyton merasakan suara Tuhan: “Apakah Anda benar-benar ingin menjadi dokter?” dan jawabannya, ternyata adalah tidak.

“Saat mendengar itu, hatiku merasa lebih damai daripada sebelumnya. Saya baru tahu, pada saat itu saya merasa saya akan pergi ke seminari,” kenang Pastor Peyton yang mengaku harus memutuskan hubungan dengan pacarnya di Perguruan Tinggi itu.

Peyton kemudian menelpon Connor dan menyatakan keputuannya untu masuk ke seminari.

“Saya terkejut, dan saya sangat senang karena kami akan kembali bersama lagi,” kata Pastor Connor.

Akhirnya pada musim gugur 2014, Peyton bergabung dengan adiknya di Seminari St. Joseph, mengikuti proses formasi dan kemudian ditahbiskan menjadi Imam pada hari yang sama dalam sebuah misa terbatas karena pandemi.

Bagi Peyton, ada dua faktor kunci yang ditanamkan oleh kedua orangtua mereka yang membantu keduanya tumbuh sebagai orang Katolik yang berkomitmen.

Pertama, bahwa dia dan saudara-saudaranya bersekolah di sekolah-sekolah Katolik – sekolah dengan identitas iman yang kuat. Tetapi juga ada sesuatu dalam kehidupan keluarga Plessala yang bagi Peyton bahkan lebih penting dari apapun.

“Apapun kesibukan masing-masing, Kami selalu makan malam bersama setiap malam sebagai keluarga yang didahului dengan doa,” katanya.

Ketika niat untuk masuk ke Seminari disampaikan kepada orangtua, mereka sangat mendukung, bahkan keduanya sempat berpikir bahwa ibu mereka mungkin sedih karena akan memiliki lebih sedikit cucu.

Tantangan Kaum Milenial

Seperti banyak orang seusia mereka, perjalanan Peyton dan Connor menuju imamat adalah perjalanan yang berliku.“Rasa sakit yang hebat dari kaum milenial adalah duduk di kapela Seminari dan berusaha memikirkan apa yang ingin Anda lakukan dengan hidup Anda begitu lama sehingga hidup Anda berlalu begitu saja,” kata Pastor Peyton.

Connor mengakui bahwa masuk seminari tidak akan lebih buruk karenanya.“Ketika anda mulai menjalani kehidupan mendedikasikan doa, membentuk, menyelami diri Anda, mempelajari siapa diri Anda, mempelajari kekuatan dan kelemahan Anda, belajar lebih banyak tentang iman. Semua itu adalah hal yang baik,” ujarnya.

Menurutnya, sebuah seminari bukan komitmen permanen, sehingga jika seorang remaja putra pergi ke seminari dan menyadari bahwa imamat bukan untuknya, dia tidak akan menjadi lebih buruk.”Anda telah dibentuk menjadi pria yang lebih baik, versi diri Anda yang lebih baik, Anda telah berdoa jauh lebih banyak daripada yang akan Anda miliki jika Anda tidak berada di seminari,” ungkap Pastor Connor bangga.

Herman Bataona,CMF

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here