Paus Fransiskus : Jangan Takut!

89
Paus Fransiskus saat memimpin Doa Angelus dari jendela apartemennya yang langsung menghadap ke Lapangan St Petrus Vatikan. (Vatican News)
Mohon Beri Bintang

MEMASUKI Minggu ketiga pasca Vatikan dibuka kembali untuk umum, Paus Fransiskus dalam Doa Angelus menyerukan, umat Kristiani untuk “tidak takut” dalam menghadapi permusuhan, penganiayaan, dan bahkan perasaan ditinggalkan oleh Allah. Seruan ini selaras dengan renungan yang disampaikannya tentang Injil hari Minggu. Paus Fransiskus mengatakan, bahwa undangan Yesus para “murid” Yesus, untuk tidak memiliki rasa takut, bergema: Yesus, katanya, “terus-menerus mendesak mereka untuk “tidak memiliki rasa takut”.

Bacaan Liturgi pada hari Minggu biasa ke XII diambil dari Injil Mateus (Mat10:26-33). Dalam bacaan ini, Yesus mnyerukan kepada para murid untuk tidak takut dalam menghadapi tantangan sebagai pengikut-Nya.

Sementara dalam renungan yang disampaiannya, Paus menyinggung tiga situasi yang akan dihadapi umat Kristiani. Pertama permusuhan “dari mereka yang akan menahan Firman Tuhan, dengan dengan membungkam mereka yang menyatakannya.” Yesus mendorong para murid untuk menyebarkan Firman “secara terbuka.

Kedua, para murid juga akan menghadapi penganiayaan langsung, dengan kekerasan. Paus bahkan mengingatkan kembali pesan Yesus. “Nubuat ini diwujudkan di setiap zaman,” kata Paus Fransiskus.

Dengan perkataan ini, Paus merujuk pada banyaknya orang Kristen yang dianiaya di seluruh dunia, bahkan hari ini. “Jika mereka menderita karena Injil dan dengan kasih, mereka adalah martir zaman kita, “katanya.

Paus mengingatkan, umat Katolik tidak tidak perlu takut pada mereka yang berusaha memadamkan kekuatan penginjilan dengan kesombongan dan kekerasan. Satu-satunya ketakutan yang harus dimiliki seorang murid adalah kehilangan karunia ilahi, untuk berhenti hidup sesuai dengan Injil, dengan demikian memperoleh kematian moral, akibat dari dosa.

Akhirnya, Paus Fransiskus berkata, kadang-kadang para murid mungkin mengalami situasi, di mana mereka merasa, “bahwa Tuhan sendiri telah meninggalkan mereka.” Dalam situasi ini, umat tidak perlu takut, sebab “kehidupan para murid terletak dengan kuat di tangan Tuhan, yang mengasihi kita dan memelihara. “Bapa menjaga kita, karena nilai kita sangat besar di mata-Nya. Yang penting adalah kejujuran kesaksian iman kita,” tegasnya. Bapa Suci mengakhiri dengan ajakan untuk meneladan Bunda Maria, sebagai model kepercayaan kepada Tuhan, demikian seperti diberitakan Vatican News, 21/6/2020.

 

Antonius E. Sugiyanto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here