Membela Iman, Orang Muda ini Dihukum karena Percaya Tuhan

91
Suasana pembaptisan di salah satu Gereja di Cina| Dok. Asia News
Membela Iman, Orang Muda ini Dihukum karena Percaya Tuhan
5 (100%) 3 votes

HIDUPKATOLIK.COM— Seorang remaja muda bernama Xiaoyu dihukum berdiri selama lebih dari sebulan, sebagai hukuman karena ia percaya pada Tuhan dan karena ia berani menantang gurunya yang ingin meyakinkannya tidak hanya tentang teori evolusi, tetapi juga tentang tidak adanya Tuhan. Kesaksian yang dikirimkan kepada AsiaNews.it,10/11, oleh Pastor Stanislaus, seorang imam dari Cina timur laut, tidak disebutkan nama aslinya karena menghormati pemuda dan gurunya.

Situasi pelik di sana menggambarkan ada sebuah kampanye yang dilaksanakan oleh Front Bersatu untuk Mengekang Kepercayaan di kalangan orang muda. Front ini membuat larangan agar orang muda di bawah umur 18 tahun tidak boleh menghadiri Misa. Bukan hanya itu, pemeriksaan dan tindakan disiplin antara guru dan siswa juga terjadi jika ada di antara mereka yang menyatakan diri sebagai orang beriman.

Berdiri!

Lebih lanjut, kesaksian Pastor Stanislaus menyebutkan betapa terkejut dan terharunya ia ketika mendengar kisah pemuda itu. Di dalam kelas, sang guru menyatakan, “Kitab Suci menyatakan bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan, pernyataan ini salah. Tuhan tidak ada, manusia berevolusi dari kera, Teori Evolusi Darwin dan fosil antropoid adalah buktinya.”

Setelah itu, sang guru bertanya pada Xiaoyu dan ia menjawab: “Pak guru, saya tidak mengerti. Bagaimana Teori Evolusi membuktikan tidak adanya Tuhan? Meskipun manusia berevolusi dari kera, dari manakah mereka [kera] berasal? Bagaimana bisa dibuktikan bahwa mereka tidak diciptakan oleh Tuhan? Bagaimana awal dari semua keberadaan? … ”

Xiaoyu dan guru itu pun berdebat sepanjang pelajaran, membuat siswa di dalam kelas diam membisu mendengar perdebatan itu. Setelah kelas selesai, teman-teman sekelasnya pergi untuk bertanya pada Xiaoyu: “Apa yang terjadi padamu, Xiaoyu? Beraninya kamu?”

Pada pelajaran politik berikutnya, sang guru bertanya pada Xiaoyu lagi: “Apakah kamu mengerti?”

Xiaoyu menjawab: “Tidak, saya tidak mengerti.”

“Kalau begitu berdiri!”

Pada pelajaran berikutnya, sang guru bertanya lagi, dan Xiaoyu berkata, “Pak Guru, saya tetap berdiri.”

Setelah kembali ke rumah, Xiaoyu bertanya pada ibunya: “Bu, apa yang harus saya lakukan? Saya tidak tahu banyak, tetapi saya mendengar guru saya mengatakan bahwa Tuhan tidak ada, dan kepala saya akan meledak. Saya tidak bisa belajar seperti ini: Saya sudah dihukum selama sebulan penuh. ”

Kemudian Pastor Stanislaus mengaku ada seorang umat beriman yang menanyakan kasus ini kepadanya, “Apa yang kita lakukan? Bukankah kita  tidak akan membiarkan pelajaran ini dipelajari lagi? ”

Pastor Stanislaus berujar, “Untuk belajar, kita harus terus belajar. Teori hanyalah teori, ingat saja jawabannya. Mungkin untuk menjawab dari aspek yang lebih obyektif. Misalnya, apa yang menjadi landasan teoritis dari Teori Evolusi Darwin? Bagaimana cara mendeskripsikan teori Big Bang saat ini tentang asal mula alam semesta? dll…. Semua ini tidak berarti menyangkal iman. ”

Umat ​​beriman itu kembali menyanggah, “Tapi guru itu sedang menyampaikan kepada mereka kebenaran yang ia percayai, dan ia mengakuinya tanpa keraguan.”

Pastor Stanislaus menjawab, “Tidak ada yang bisa dilakukan. Ini adalah lingkungan tempat kita tinggal; seseorang hanya dapat tetap terikat pada keyakinannya, tetapi ia juga tidak boleh membuat diskusi frontal. Cobalah untuk tidak membuat masalah dalam studi.”

Meskipun jawabannya terkesan diplomatis, namun di akhir refleksinya Pastor Stanislaus menuliskan bahwa kita tahu banyak tentang teori dan diskusi tentang keberadaan Tuhan, tetapi hari ini ada seorang anak laki-laki yang secara langsung menantang dan menguji kita! Keberanian adalah satu-satunya hal yang ia miliki, dan ia masih berdiri (dihukum) hingga saat ini!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here