Stanislaus Riyanto: Asketis Mendalami Terorisme

72
Stanislaus Riyanto/Dok. Pribadi
Mohon Beri Bintang

Ia berusaha dapat berbicara dengan pelaku teror. Ia berusaha memperoleh informasi langsung dari sumbernya, dan akhirnya mencari cara mencegah aksi teror. 

DI masa sekarang, sangat penting mempelajari tentang terorisme, karena telah menjadi musuh seluruh dunia. Apalagi, dalam aksi-aksi teror di Indonesia sudah melibatkan anak-anak dan perempuan sebagai pelaku. Sebagai analis intelejen, khususnya dalam bidang pencegahan terorisme, Stanislaus Riyanto berusaha mengamati bagaimana para pelaku terpapar terorisme dan dari mana mereka terpapar pertama kali.

Setelah berhasil mengamati sumber dari mana seseorang terpapar terorisme, menurut Stanis, sapaannya, baru kemudian dapat dianalisa apa yang perlu dicegah dan bagaimana caranya. Untuk dapat semakin memahami bagaimana seseorang terpapar terorisme, Stanis bahkan berjuang agar bisa bertemu dengan para pelaku teror atau narapidana terorisme (napiter). Dengan wawancara dengan mereka, ia dapat memperoleh informasi langsung dari sumbernya.

Mengajak Mencegah

Selain sering muncul di media mainstream, Stanis juga aktif membuat analisis-analisis yang kemudian dia sebar melalui media sosial, seperti grup Whatsapp dan Facebook. Tujuannya, agar semakin banyak orang yang memahami terorisme, dan mengambil bagian dalam pencegahannya.

Tentu saja upaya Stanis ini menuntut ketekunan yang luar biasa. Perlu sikap asketis dan daya tahan yang tinggi. Saat berjumpa dengan teroris, ia mengajak mereka berbicara dari hati ke hati. Ia bahkan bertemu dengan beberapa napiter yang masih ekstrem. Ia harus mampu meyakinkan para napiter sebagai subyek penelitiannya agar tidak melihat dirinya sebagai ancaman. Dari proses yang terjadi, sang napiter justru menjadi teman diskusi. “Saya ketemu beberapa mantan napiter yang sangat ekstrem, sekarang malah menjadi sahabat saya, walau mereka tahu bahwa saya Katolik, karena saya tidak pernah sembunyikan nama baptis saya. Uniknya, yang pertama kali mengucapkan Selamat Natal kepada saya, justru mantan napiter itu,” ujarnya.

Dari pengamatan dan analisis ayah tiga anak ini, para teroris tidak menyerang agama lain secara langsung, tapi mereka memiliki ideologi kelompok di mana mereka harus melakukan aksi-aksi teror. Stanis bahkan yakin, dan berusaha meyakinkan orang lain, bahwa tidak ada agama yang mengajarkan teror. “Ini hal pertama dan utama yang saya yakini dan yakinkan. Saya punya keyakinan bahwa agama tidak mengajarkan teror. Semua agama mengajarkan cinta kasih,” tambah lulusan Sarjana Ilmu Komputer dari Universitas Sanata Dharma ini.

Stanis juga menolak teori yang mengatakan, aksi-aksi terorisme atau radikalisme muncul karena faktor kemiskinan atau kesenjangan ekonomi. Ia lalu menunjuk sejumlah contoh pelaku teror yang sama sekali tidak miskin, bahkan kaya dan berpendidikan tinggi. “Ini murni ideologi, kok. Ada keinginan yang hendak dicapai. Ada keyakinan pada sebuah kebenaran tertentu atau yang mereka sukai, maka mereka bergerak ekstrim. Saat ini katalisatornya internet dan sosial media,” tandasnya.

Mengutip Fathali Moghaddam dari Department of Psychology, Georgetown University dalam teorinya yang dikenal dengan Staircase to Terrorism, Stanis mengatakan, proses radikalisasi hingga terjadinya aksi teror melalui enam tahapan. Pertama, individu mencari solusi tentang apa yang dirasakan sebagai perlakuan yang tidak adil. Kedua, individu membangun kesiapan fisik untuk memindahkan solusi atas persoalan tersebut, dengan penyerangan yang dianggap sebagai musuh.

Ketiga, individu mengidentifikasi diri dengan mengadopsi nilai-nilai moral dari kelompoknya. Pada tahap keempat, setelah seseorang memasuki organisasi teroris, hanya ada kemungkinan kecil, atau bahkan tidak ada kesempatan, untuk keluar hidup-hidup. Kelima, seseorang menjadi siap dan termotivasi untuk melakukan aksi terorisme. Di sinilah seseorang sudah berada pada puncak keyakinan melakukan aksi teror.

Kondisi di mana beragam informasi dapat dengan mudah diperoleh di era 4.0, sangat berpengaruh terhadap kecepatan proses radikalisasi. Pada era sebelumnya, radikalisasi masih dilakukan dengan tatap muka secara selektif, sembunyi-sembunyi, dan memerlukan waktu cukup lama. Namun saat ini, ujar Stanis, radikalisasi dapat dilakukan dengan sangat cepat, masif dan terbuka. “Konten-konten dengan narasi radikal disebarkan melalui media sosial dan situs web sehingga mudah diakses oleh siapa saja.”

Dorongan Teman

Setelah lulus Sarjana Ilmu Komputer, Stanis mengajar Ilmu Komputer di SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Selanjutnya, ia sempat bekerja di sebuah perusahaan di Kalimantan selama beberapa tahun, hingga akhirnya ia pindah ke Jakarta.

Dalam diskusi dengan teman-teman, dia sering memberi analisis yang jitu menyangkut peristiwa-peristiwa teror yang meledak di Tanah Air. Teman-temannya lalu mendorong dia untuk mengambil studi S2 bidang analisis terorisme. Akhirnya pada tahun 2014, Stanis mengambil studi S2 di Universitas Indonesia bidang pencegahan terorisme, dalam waktu dua tahun menyelesaikan dengan predikat kelulusan cum laude. “Saya suka sesuatu yang sifatnya detektif, mungkin saya terpengaruh bacaan waktu kecil seperti buku Karl May,” akunya.

Saat ini, ia sedang menyusun disertasi, juga di kampus dan jurusan yang sama. Ia berusaha menjalani proses belajarnya ini dengan tekun. Apabila dilakukan dengan biasa, menurutnya, tidak aka nada yang mendengarkannya. “Seorang Katolik harus punya keunggulan. Kalau tidak, ya nggak akan laku. Bukti ketekunan, selama kuliah di UI saya nggak pernah bolos,” ujarnya lagi.

Untuk mewadahi penelitiannya di bidang terorisme, pria yang gemar naik gunung ini menginisiasi Pusat Studi Politik dan Kebijakan Strategis Indonesia (Polkasi). Lembaga ini diakuinya fokus di bidang penelitian, terutama terkait radikalisme dan terorisme. Salah satu tujuan lembaga ini adalah memberi pemahaman bagi masyarakat terkait radikalisme terorisme, termasuk bagaimana radikalisme dan terorisme bisa terjadi dan pencegahannya.

Bidang intelejen lain yang ia sukai adalah intelijen bisnis. Bidang ini menyangkut suatu sistem untuk mendeteksi dan mencegah sejak dini ancaman di sektor bisnis. Menurutnya, banyak organisasi bisnis yang bisa menghemat biaya dengan menerapkan intelijen dalam organisasinya.

Stanis menganggap aktivitasnya di dunia intelejen dan terorisme ini sebagai bentuk baktinya kepada negara. Sebagai warga negara, ia harus punya sumbangsih. Ia memberikan sumbangsih berupa penelitian dan analisisa. Baginya, bakti yang berkualitas adalah bakti yang berisiko tinggi. “Saya tidak mau cari uang dari sini. Nafkah saya tidak dari sini,” kilahnya.

Legalitasnya sebagai mahasiswa peneliti menjadi modal utamanya untuk bisa masuk ke banyak tempat. Merefleksikan keberadaannya hari ini sambil melihat riwayat sebelumnya, Stanis seringkali tersenyum sendiri. “Tuhan itu bercanda secara serius dengan saya,” ujarnya sambil tertawa.

Emanuel Dapa Loka

Profil Stanislaus Riyanto
Lahir: Kendal, 4 Maret 1980

Pekerjaan : Analis Intelijen dan Terorisme
 
Pendidikan:
SD Kanisius Sanjaya Sukorejo, Kendal, Jawa Tengah (1993)
SMP Kanisius Argakilasa Sukorejo, Kendal, Jawa Tengah (1996)
SMA Negeri 1 Sukorejo Kendal Jawa Tengah (1999)
S1 Fakultas MIPA Universitas Sanata Dharma Yogyakarta (2004)
S2 Kajian Stratejik Intelijen Universitas Indonesia (2016)
S3 Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (2017 – sekarang)
 

Pengalaman:
Pernah bekerja di perusahaan pertambangan, perusahaan perkebunan kelapa sawit, perusahaan hutan tanaman industri, konsultan keamanan dan intelijen di beberapa organisasi.

Editor buku: Demokrasi Indonesia, Antara Asa dan Realita (Mohammad AS Hikam), Paradigma Deradikalisasi dalam Perspektif Hukum (MD Shodiq), Remaja dan Terorisme (Arijani Lasmawati), Jalur Psikologis Teroris (AA Mapparesaa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here