Seminari Menengah St. Fransiskus Asisi Sinar Buana Keuskupan Weetebula Jalani Swab Antigen

601
Anggota komunitas Seminari Menengah St. Fransiskus Asisi Sinar Buana Keuskupan Weetebula sedang menunggu giliran swab antigen pada Rabu 6/1.| Dok. Romo Kamilus Pantus
5/5 - (3 votes)

HIDUPKATOLIK.COMAncaman pandemi Covid-19 semakin terasa. Jumlah korban yang terpapar dan tingkat kematian sudah dalam taraf sangat mengkhawatirkan. Dalam dunia pendidikan, kehadiran covid-19 mengubah proses belajar mengajar dari tatap muka langsung ke sistem pengajaran daring. Keterbatasan jaringan internet dan kurangnya dana untuk membeli paket data internet, membuat proses belajar daring tidak berjalan efektif. Hal ini dialami sebuah seminari di Keuskupan Weetebula.

Selama masa pandemi, Seminari Menengah St. Fransiskus Asisi Sinar Buana Keuskupan Weetebula memilih dua metode dalam menjalankan tugas belajar mengajar peserta didik. Pertama, mengadakan sistem tatap muka langsung dengan mengunjungi siswa di rumah tempat ia berdomisili. Pelaksanaan ini dikategorikan cukup efektif, namun pihak seminari mengalami kendala biaya transportasi bagi para guru yang akan mengunjungi siswa di rumah.

Melihat itu, ditempuhlah metode kedua dengan meminta siswa untuk kembali masuk asrama. Selama tinggal di asrama mereka diawasi secara ketat dengan memberlakukan protokol kesehatan yang diwajibkan gugus tugas Covid-19 dari Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD). Selama di seminari, para siswa, guru, pegawai, dan karyawan wajib menjalankan protokol kesehatan. Selain itu, pada pukul 10.00-10.45 pagi diadakan senam massal di lapangan bola kaki guna menjaga kebugaran tubuh.

Rektor Seminari Menengah St. Fransiskus Asisi Sinar Buana, Romo Kamilus Pantus mengungkapkan bahwa metode kedua sangat efektif. Semua proses pembinaan calon imam berjalan dengan baik. Ada lima bidang strategis Peendidikan dan Pembinaan di Seminari St. Fransiskus Asisi Sinar Buana, yakni Peningkatan kualitas Iman (Sanctitas), Pengetahuan (Sienctia), Kesehatan (Sanitas), Kebijaksanaan (Sapientia), Solidaritas (Societas). Semua lima bidang fokus pembinaan calon imam ini dijalankan dengan baik selama siswa kembali diasramakan.

Swab Antigen
Menanggapi kondisi ini, guna mendukung pelaksanaan tatap muka langsung bagi siswa dan untuk menjamin kesehatan segenap anggota yang berinteraksi di lembaga ini diwajibkan swab antigen di awal semester baru. “Biaya swab antigen sebesar Rp. 300.000/orang. Harga ini tergolong mahal untuk orangtua siswa yang mayoritas berasal dari kalangan ekenomi menengah ke bawah. Maka untuk mengatasi problem keuangan, saya selaku Rektor di Seminari ini mendekati Bupati Sumba Barat Daya dengan mengajukan proposal pelayanan swab antigen gratis bagi 250 anggota komunitas Seminari ini. Saya bersyukur bahwa pemerintah kabupaten SBD menyetujui proposal kami,” ungkap Romo Kamilus.

Salah satu siswa seminari sedang melaksanakan swab antigen.| Dok. Romo Kamilus Pantus

Maka pada hari Rabu, 6/1, seluruh anggota komunitas Seminari St. Fransiskus Asisi Sinar Buana menjalani swab antigen. Bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) program swab antigen diikuti oleh 250 orang anggota komunitas. Romo Kamilus menambahkan, “Berdasarkan masukan dari Kepala Dinas Kesehatan SBD dan himbauan tim gugus tugas Covid-19, maka peserta penerima swab dibagi menjadi lima gelombang dengan jumlah anggota 50 orang setiap gelombang.”

Tindakan Lanjut
Dari hasil swab antigen yang diperoleh dalam rentang waktu antara 15-20 menit diperoleh hasil terdapat empat orang siswa yang dinyatakan “reaktif positif” dalam pemeriksaan gelombang I hingga IV. “Mengikuti anjuran tim pemeriksa, siswa yang bersangkutan menjalankan karantina di kamar isolasi di seminari selama 14 hari, sambil menunggu hasil pemeriksaan Swab PCR yang hanya bisa dilakukan di kota Kupang, ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT),” Jelas Romo Kamilus.

Dari program ini, Romo Kamilus berterima kasih kepada Pemerintah Kabupaten SDB, “Saya berterima kasih kepada Bapak Bupati SBD Dr, Kornelis Kodi Mete dan Jajaran pemeritahan terkait yang telah memberikan pelayanan swab antigen kepada anggota Komunitas Seminari St. Fransiskus Asisi Sinar Buana.”

Romo Kamilus juga berharap agar program seperti ini diberikan kepada semua masyarakat agar bisa deteksi dini jumlah anggota masyarakat yang sudah terpapar covid-19. Selain itu, kiranya program seperti ini menjadi program rutin untuk lembaga pendidikan berbasis asrama seperti seminari, agar kesehatan anggota komunitas tetap terjaga. “Setiap masyarakat perlu memiliki kesadaran bahwa saya memiliki tanggung jawab untuk menjaga kesehatan saya sendiri, kesehatan orang di sekitar saya dengan menjalankan 3M secara ketat,” tandasnya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here