Keuskupan Sibolga: Tantangan, Peluang, dan Antisipasi bagi Uskup Baru Mgr. Fransiskus Tuaman Sasfo Sinaga

435
Uskup terpilih Keuskupan Sibolga Mgr. Fransiskus Tuaman Sinaga/Dok. ist

HIDUPKATOLIK.COM – SETELAH pendirian Hierarki Indonesia, 3 Januari 1961, salah satu dari sufragan Keuskupan Metropolitan Medan adalah Prefektur Apostolik Sibolga. Wujud konkret dalam pendirian hierarki, dibalut kerangka Indonesianiasi adalah mengganti uskup asing dengan uskup pribumi. Dengan ini, Gereja Indonesia tidak selamanya bergantung pada misionaris asing. Ada peralihan dari Gereja misi ke Gereja mandiri.

Mengingat pentingnya semangat Indonesianisasi ini, dicarilah pengganti Prefek Apostolik Sibolga Mgr. Bernhard Erich Willing, OFMCap. Diharapkan calon prefeknya adalah seorang dosen pribumi. Harapan besar ditaruh pertama pada para senior Kapusin seperti Pastor Thomas Saragi, OFMCap; Pastor Hilarius Manurung OFMCap; Pastor Benitius Brevoord, OFM Cap, serta Pastor Paulinus Manaö, OFMCap. Namun, karya Ilahi justru terarah pada Pastor Anicetus Bongsu Sinaga, OFMCap.

Mgr Anicetus Bongsu Antonius Sinaga OFMCap

Banyak orang menilai, prefek ternominasi ini kurang meyakinkan. Orang sangsi siapa sebenarnya prefek yang dilantik 28 Januari 1979. Tapi Duta Besar Vatikan untuk Indonesia Mgr. Vincenzo Maria Farano justru berpikir sebaliknya. “Ia dipilih berkat kuasa Roh Kudus. Dari kacamata ini, ia lebih unggul dari yang lain,” puji Farano dalam suratnya, 20 Januari 1979.

Sejak itu, Sibolga memiliki prefek yang ditahbiskan di Roma oleh Paus Yohanes Paulus II, 6 Januari 1981. Di kemudian hari, prefek yang kurang meyakinkan ini menjadi Koajutor Uskup Agung Medan (3 Januari 2004), dan menjadi Uskup Metropolitan Medan (12 Januari 2009).

Menyapa Sibolga

Anicetus melayani dengan moto, Ad Pasquet et Aquas Conducit (Ia membaringkan aku di padang rumput yang hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang). Adagium pada Mazmur 23:3 ini tak lain memiliki tiga implikasi. Pertama, wilayah Sibolga terdiri atas daratan dan lautan, padang hijau dan air. Kedua, keberhasilan menunaikan tugas tergantung dari hantaran tangan Tuhan. Ketiga, apabila tugas selesai, pada akhir hayat, Tuhan akan menghantar ke ketentraman abadi.

Lewat adagium ini, Anicetus berkarya. Sulapan pertama tugasnya sebagai ordinaris adalah pembenahan bahasa dan budaya yang dianggap sebagai dasar berpastoral. Anjuran Konsili Vatikan II (KV. II) agar karya misi diarahkan kepada “penyingkapan benih- benih Sabda” (Ad Gentes, no 11), mendapat urgensinya di Sibolga. Membantu dalam upaya ini adalah kemahiran akan antropologi dan religi Batak. Terjadilah pengkhususan diri dalam belajar bahasa Nias, budayanya, amaedola (peribahasa), dan fumaenanya (tarian khas). Dengan modal yang paling elementer, dibuatkan progam kunjungan ke stasi dan paroki.

Mgr. Anicetus Bongsu Sinaga, OFM Cap menahbiskan para frater menjadi diakon Keuskupan Sibolga

Melayani di antara tiga suku besar Nias, Tapanuli, dan Tionghoa, Anicetus berusaha semaksimal mungkin menghadirkan altar di tengah umat. Dalam karya ini, ia dibantu Vikaris Jenderal, Pastor Anizet Flechtker, OFMCap dan Pastor Johannes Hammerle, OFMCap, pendiri Museum Pusaka Kita di Nias.

Dengan modal bahasa dan pengenalan budaya yang primer, Mgr. Anicetus turun lapangan. Tidak mudah wilayah misi Sibolga kala itu. Tahun 1979, wilayah Sibolga kebanyakan belum bisa ditempuh dengan kendaraaan. Jalan kaki adalah satu-satunya pilihan.

Dalam sebuah kesaksian, Pastor Bernabas Johan Winkler, OFM Cap bercerita, di kampung-kampung, Anicetus bermalam. Bersama umat, ia berpesta, bernyanyi, menari, berkisah, dan berkatekese. Kadang sampai larut karena perutnya terisi tuak. Besoknya ia berjalan kaki lagi ke stasi terjauh. “Ia pernah berjalan kaki sekitar 70 kilometer dari Lahewa sampai Gunungsitoli. Setiap bertemu umat, ia selalu menyapa, u ila ö, (saya mengenal engkau). Sapaan ini sekejap membenam rasa benci kepada para pendatang,” kisah Administrator Diosesan Sibolga (2004-2009) ini.

Biokarya Pastoral Mgr. Anicetus

Di bawah misi Kapusin Jerman dan Serikat Xaverian Padang, Keuskupan Sibolga mengalami struktur keuskupan yang belum jelas. Urgensi strukturisasi hierarki keuskupan makin terasa sesudah Prefektur Sibolga menjadi Keuskupan Sibolga tahun 1981. Terasa betul efisiensi pastoral sebagaimana pesan KHK Kan. 368-374 (keuskupan) dan Kan. 515-572  (keparokian) belum mencakup kompleksitas Keuskupan Sibolga.

Melihat ini, Anicetus berpikir keras. Ia memulai program restrukturisasi dan pengembangan paroki. Keadaan waktu itu adalah menetapkan beberapa pastoran, lebih sebagai pangkalan strategis pengembangan stasi-stasi. Ia membuat aturan berstruktur keuskupan yang ditandai dengan dekenat, paroki, rayon, stasi, dan lingkungan. Sibolga dari awal yang hanya 8 paroki menjadi 16 paroki. Tidak cuma itu, pembangunan gereja-gereja permanen dari 380 gereja ditambah menjadi 10 gereja yang bersifat permanen.

Gereja Katolik Katedral Santa Theresia Lisieux Sibolga

Sebagai putera Batak, anak Datu (imam) Parmalin, ia menetapkan Anggaran Dasar Keuskupan Sibolga yang mampu menjawab kebutuhan umat. Pertumbuhan umat pun makin meluas. Tahun 1979 ada sekitar 81 ribu umat bertambah menjadi 211 jiwa tahun 2004.

Sebelum menjabat, misi Kapusin Jerman di Sibolga sangat terkenal dengan pendirian rumah ibadah secara provisoris. Artinya, ada satu Gereja sementara untuk sebuah rayon dengan cakupan wilayah yang luas. “Uskup Anicetus melihat Gereja perlu ‘bertangan kotor’, tidak  “bersantai ria” di rumah Bapa. Ada prestisius bahwa orang Kristen harus memiliki bangunan gereja.”

Uskup kelahiran Nagadolok, 25 September 1941 ini tak ingin ketinggalan kereta. Pendirian sejumlah bangunan ini menjadi program “gila” Anicetus. Secara finansial, Sibolga masih minim. Mereka harus berjuang agar asap dupa pelayanan terus membumbung di dalam 380 gereja kala itu. “Tak merendahkan bila menyebutkan karya ini sangat dibantu Provinsial Kapusin, Pastor Rhein-Westfalen, OFMCap dan Br. Epherem selaku Prokurator Misi,” sebut Pastor Josep sambil menambahkan, “Tak ketinggalan arsiteknya Pastor Barnabas Winkler, OFMCap.” Hingga tahun 2003, ada 450 gereja dibangun dan sejumlah pastoran.

Perjuangannya tak berhenti di situ. Sekolah-sekolah Katolik juga diperhatikan. SMA Katolik Sibolga menjadi penyandang mutu kependidikan berkelas. Pendidikan teknik kayu, di Gunungsitoli berdiri Akademi Guru Agama Dian Mandala, demikian pendidikan non formal Sekolah Kepandaian Putri di Tögizita. Pendidikan politeknik menjamur di mana-mana termasuk di Tello dan Lahewa.

Demi peningkatan kehidupan ekonomi, Anicetus mendirikan Credit Union dan Toko Sembako Murah. Dua program ini untuk melindungi rakyat kecil dari permainan harga pasar dari tengkulak dan pedagang yang kerap mencekik.

Setelah lima tahun pertama, salah satu program unggulan adalah memacu peran awam dalam Gereja. Sejak kehadirannya, awam menjadi “kelas dua” dalam Gereja Sibolga. Klerikalisme dan sentralisasi kebijakan oleh pejabat Gereja terasa menutup lubang pelayanan kaum awam.

Anicetus terus mendorong tripuak; klerus, religius, dan awam untuk terlibat dalam Gereja. Partisipatoris kaum awam mulai terasa. Gelombang kehadiran awam tak terbendung kala para katekis diangkat menjadi Asisten Paroki yang mengurus administrasi dan pelayanan, menjadi saksi resmi pernikahan, membagi komuni, dan membaptis bayi.

Ia juga mendorong kaum awam untuk terlibat dalam kerasulan tata dunia. Bukan hal biasa, karena ia pernah mengizinkan Pastor Philippus Giawa, OFM Cap masuk bergabung sebagai anggota DPRD, bahkan sempat mencalonkan diri menjadi bupati. Di Nias Utara, barat, dan selatan, ketua DPRD dijabat oleh Katolik. Di Gunungsitoli, Nias Barat dan selatan, bupati pernah dijabat Katolik. Semua itu tak lepas dari rajutan Mgr. Anicetus.

Anicetus menjadi sosok intelektual yang mencintai perdamaian. Ia terlibat mendirikan Badan Kerja sama Antar Gereja di Nias atau juga Forum Kerukunan Umat Beragama. Sejak berdirinya, mulai ada perayaan Natal dan Paskah bersama. Tak kalah penting di masa penggembalaannya adalah pengadaan iman diosesan. Pengalihan ius comissionis (hak dan kewajiban pengembangan misi dari Ordo/Tarekat) kepada ius mandati (pengembangan misi kepada keuskupan dalam hal ini uskup) mendapat urgensi di Sibolga.

Karya ini tak semanis batang tebu. Sebab tantangan utama adalah soal pengalihan aset (tanah, harta, bangunan, atau uang) dari tangan misi kepada uskup. Transisi ini, buat beberapa keuskupan di Indonesia, telah ditandai dengan friksi dan ligitasi. Untung hal itu tidak terjadi di Keuskupan Sibolga. Kemulusan transisi ini terjadi berkat Superior Kapusin Sibolga Pastor Winkler. Serentak dengan itu, perhatian beralih kepada pengembangan imam diosesan.

Sementara itu, di Keuskupan Agung Medan (KAM), kesehatan Mgr. Alfred Gonti Pius Datubara, OFM Cap menurun. Vatikan perlu secepat mungkin mencari seorang yang sehat, energik, dan mampu meneruskan tugas itu. Pilihan jatuh kepada Teolog Dogmatik lulusan Leuven, Belgia, Mgr. Anicetus. Ia dipilih Paus Yohanes Paulus II sebagai Uskup Koajutor KAM pada 12 Februari 2004. Lima tahun berselang, ia menjadi Uskup Agung KAM tahun 2009. Mgr. Anicetus meninggalkan Keuskupan Sibolga dengan 17 orang imam diosesan.

Mgr. Ludovicus: Sang Pembaharu

Selanjutnya tugas di Sibolga diteruskan oleh sesama Kapusin, Mgr. Ludovicus Simanullang, OFMCap. Ia dikenal sebagai uskup yang lembut hati dan kebapaan. Ia ditahbiskan sebagai Uskup Sibolga oleh Nuncio Apostolik untuk Indonesia Mgr. Leopoldo Girelli. Ia mengambil moto episkopalnya, Crux Spes Unico (Salib Harapan Satu-satunya).

Tak butuh waktu lama, setahun penggembalaan, Mgr. Ludovicus tampil dengan membuat pembaharuan lewat Sinode I, November 2009. Lewat diskusi panjang, forum sinode menghasilkan refleksi Sinode Keuskupan Sibolga dengan perubahan orientasi dan paradigma karya pastoral dari model yang berfokus pada kultis menjadi Gereja perjuangan yang memberdayakan. Proses ini berpuncak pada Emas Yubileum 50 tahun wilayah Sibolga menjadi Prefektur Apostolik pada 17 November 2009.

Mgr. Ludovicus Simanullang, OFMCap

Arah Dasar (Ardas) pastoral Keuskupan Sibolga kemudian dikukuhkan dalam Sinode II tahun 2015 dengan visi, “Gereja Mandiri, Solider, dan Membebaskan.” Misi untuk mencapai visi ini terangkum dalam tiga dimensi penting yaitu: mereorientasi dan memberdayakan Gereja Keuskupan Sibolga; memberdayakan orang-orang agar keluar dari jerat penindasan; dan merubah struktur kemasyarakatan yang tidak adil dan menindas.

Tema ini menjadi fokus sentral mengingat begitu banyak kantong-kantong kemiskinan di Sumatera Utara, Sibolga menduduki peringkat pertama dengan daerah-daerah termiskin. Data BPS Provinsi Sumut, 2017 menyebutkan ada 6 wilayah kota termiskin di Sumut ada di Sibolga. Mulai dari yang paling miskin Nias Utara, Nias Barat, Gunungsitoli, Nias Selatan, Nias, dan Tapanuli Tengah.

Dalam sebuah wawancara dengan Majalh HIDUP, (Lihat Edisi 18, 2010), Mgr. Ludovicus menyebutkan tidak mudah memang mengubah pola yang sudah lama terstruktur di tengah masyarakat. Cukup banyak tantangan yang dihadapi tetapi Mgr. Ludovicus tidak putus asa. Ia terus mendampingi umat dengan pastoral pendampingan dan kehadiran. Blusukan dari kampung ke kampung adalah pilihan yang tak mungkin ditinggalkan. “Jatung bangun kami menjalankan program-program ini sebab mengubah paradigma yang sudah ada itu butuh waktu yang lama,” ujarnya.

Biokarya Pastoral Mgr. Ludovicus

Lewat bimbingan Roh Kudus, Mgr. Ludovicus berusaha agar Ardas Keuskupan Sibolga selalu barada pada  jalurnya. Dalam sembilan tahun pelayanannya, Keuskupan Sibolga memiliki Ardas yang jelas, metodologi kerja yang kontekstual-partisipatif, dan rencana strategis (renstra) untuk aksi nyata dan semuanya sudah terstruktur.

Ada gerakan bersama yang makin terasa dengan semua unit merancang, mengevaluasi, dan mengawal pelaksanaan karya pastoral secara partisipatif khususnya lewat forum basis, paroki, dan keuskupan. “Kunjungan adalah tanda semangat untuk mengubah perilaku umat. Kehadiran seorang gembala mendatangkan kegembiraan bagi umat agar terus bertahan dalam,” ujarnya kepada HIDUP.

Tantangan utama saat itu datang juga dari Gereja Kristen dan denominasinya. Umat berusaha tetap bertahan dalam iman meski kadang dipengaruhi oleh sesama umat Kristen. Pengetahuan umat akan kekatolikan sangat minim sehingga cepat mudah terpangaruh dan pindah agama menjadi umat Kristen. “Para pastor mendapatkan tugas besar untuk mengajak umatnya tetap bertahan. Ini tidak mudah saat itu sebab gerakan Gereja Kristen cukup kuat,” ujarnya.

Persoalan lain adalah di satu sisi umat ingin mengalami kehadiran para gembala, tetapi di sisi lain para gembala enggan berubah. Ada pola pikir dan habitus pastoral lama yang masih terekam dalam pelayanan para gembala. Meski pelatihan-pelatihan dibuat tetap saja ada beberapa gembala yang sulit untu berubah. Akhirnya pengembangan komunitas basis gerejawi sebagai lokus pastoral terbilang lambat. Tetapi dengan usaha dan kerja keras, akhirnya ada “titik api” penggembalaan yang membakar gelora para gembala terjadi di Keuskupan Sibolga. Kehadiran dan sapaan terus menerus Mgr. Ludovicus menjadi gerakan yang menggembirakan.

Selama 11 tahun 4 bulan Mgr. Ludovicus melayani di Keuskupan Sibolga. Pembaharuan yang digulirkannya terus ingin dipertahankannya, tetapi misteri Allah berkata lain. Pada 2018 lalu, uskup yang dikenal murah senyum ini tutup usia.

Pengganti: Uskup Pertama Diosesan

Sede vacante (takhta lowong) di Keuskupan Sibolga sejak 20 September 2018, lalu Paus Fransiskus mengangkat Uskup Agung Emeritus Medan Mgr. Anicetus sebagai Administrator Apostolik sejak 22 September 2018 – 7 November 2020. Setelah Mgr. Anicetus mangkat, Pastor Charles Sebastian Sihombing, OFMCap diangkat sebagai Administrator Diosesan sejak 10 November 2020.

Doa umat Sibolga terjawab. Paus Fransiskus memilih Pastor Fransiskus Tuaman Sasfo Sinaga sebagai Uskup Sibolga. Pengumuman dilansir di Roma pada pukul 12.00 waktu Roma, dan pukul 18.00 WIB, Sabtu, 6/3/2021 di Katedral Sibolga dan Gereja Santa Maria Bunda Para Bangsa, Gunungsitoli, Nias.

Uskup Terpilih Keuskupan Sibolga, Mgr. Fansiskus Tuaman Sasfo Sinaga

Kabar terpilihnya Pastor Frans sebagai uskup dibenarkan oleh Sekretaris Keuskupan Sibolga Pastor Blasius Yesse. “Jadi pengumuman resminya pukul 12.00 waktu Roma, dan di Indonesia pukul 18.00 WIB. Dengan pengumuman resmi ini, kita bawakan dalam Doa Angelus pada pukul 18.00 WIB dan kita lakukan di dua tempat yaitu Katedral Sibolga dan Gereja Santa Maria Bunda Para Bangsa Gunungsitoli,” ujarnya.

Pastor Frans sendiri adalah Imam Diosesan (Projo) pertama dalam sejarah Keuskupan Sibolga yang menjabat sebagai uskup. Sebelumnya jabatan episkopal Keuskupan Sibolga selalu digembalakan oleh Kapusin.

Jika Mgr. Anicetus dianggap sebagai uskup pribumi pertama Sibolga, maka Mgr. Frans Sinaga menjadi uskup diosesan pertama. Pemilihan ini kiranya bisa memutuskan pandangan umum di tengah umat tentang superioritas ordo dan tarekat tertentu di wilayah Sumut.

Sebab keseluruhan pengangkatan seorang uskup diatur dalam Kitab Hukum Kanonik. Ada banyak pihak yang dilibatkan di dalamnya untuk membantu Paus memilih calon uskup untuk Gereja Partikular di seluruh dunia.

Pemilihan ini bukan proses demokratis suara terbanyak tetapi sebuah proses institusional yang melalui konstitusi luas berusaha untuk menemukan calon yang akan menjadi uskup. Kita percaya bahwa Roh Kudus yang bekerja dalam proses ini.

Sebagai Uskup Diosesan, Mgr. Frans Sinaga diharapkan memiliki banyak pengalaman tentang tantangan dan peluang pastoral di Keuskupan Sibolga.

Sebelum ditunjuk sebagai Uskup Sibolga, Mgr. Frans adalah Ketua Sekolah Tinggi Pastoral Dian Mandala Gunungsitoli. Ia mengecap pendidikan Sarjana di STFT St. Yohones Pematangsiantar dan Licenciat Teologi dari Universitas Kepausan Urbaniana, Roma.

Yusti H. Wuarmanuk  
Dari berbagai sumber
 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here