Tidak Ada yang Bisa Menghalangi Paus Berkunjung ke Irak, Termasuk Pandemi Covid-19

28
Paus Fransiskus memimpin Misa di Stadion Hariri, Erbil, Irak.

HIDUPKATOLIK.COM– TEPAT delapan tahun, Jorge Mario Bergoglio terpilih menjadi penerus untuk menduduki takhta Santo Petrus. Sebagai Paus pertama yang berasal dari Amerika Latin dan dari Serikat Yesus (Yesuit), ia memilih Fransiskus sebagai nama regnalnya. Seperti yang dilansir dari Vatican News, 13/3/2021, delapan tahun kepausannya telah ditandai dengan inisiatif dan reformasi untuk melibatkan semua orang Kristiani  dalam dorongan misionaris dengan tujuan membawa kasih Yesus ke seluruh umat manusia.

Ia mengundang Gereja Katolik semakin peka terhadap sesama sehingga kasih Yesus benar-benar dapat menjangkau semua orang tanpa terkecuali. Gereja yang menebarkan damai bagi dunia. Gereja yang diinginkan Paus Fransiskus adalah Gereja yang “terbuka” layaknya rumah sakit di medan perang yang penuh kelembutan dan kebaikan. Paus Fransiskus tidak sekadar menghimbau atau mendesak akan hal ini. Ia memberi contoh. Bahkan melanggar janjinya untuk tidak keluar selama masa pandemi demi misi yang harus segera dijalankan.

Hadapi Risiko

Berdasarkan New York Times, 8/3/2021, kasus Covid 19 di Irak meningkat, dengan hampir 3.400 infeksi baru dan 24 kematian dilaporkan dalam 24 jam terakhir. Para kritikus mengatakan Perjalanan Apostolik Bapa Suci ke-33 yang sangat menggugah hati umat di Irak, sangatlah membahayakan. Pasalnya, dunia yang masih dalam cengkeraman pandemi mematikan yang dipicu oleh varian virus yang menyebar dengan cepat.

Apakah perjalanan ini tidak dipikirkan Paus dengan matang? Paus Fransiskus mengatakan, ia bergumul dengan keputusan untuk pergi, tetapi ia tidak bisa mempertaruhkan nasib umat di Irak yang sudah berharap  untuk melihat kasih Tuhan. Akhirnya ia memilih untuk menyerahkan nasib kepada Tuhan. “Saya banyak memikirkannya, saya banyak berdoa untuk ini,” jelasnya ketika mengadakan konferensi pers di peswat kepausan setelah kembali dari Baghdad.

Selama menghabiskan empat hari di negara Timur Tengah tersebut, terlihat Paus jarang mengenakan masker. Ia menyadari risikonya tetapi setelah ia berdoa, ia menyadari apa yang telah ia lakukan datang dari hatinya. Beberapa orang berpendapat bahwa perjalanan Paus sepadan dengan risikonya untuk menunjukkan dukungannya bagi salah satu sudut Gereja yang paling terluka dan menderita. Pendahulunya bermimpi mengunjungi Irak, di mana komunitas Kristiani kuno sedang menurun, tetapi Paus Fransiskus sebagai pemimpin Agama Katolik tertinggi adalah orang pertama yang berkunjung.

Sebelumnya, Paus Yohanes Paulus II sangat ingin mengunjungi Irak pada tahun 1999, namun batal dikarenakan blokade yang diberlakukan di Irak pada saat almarhum Presiden Saddam Hussein menunda kunjungan yang dijadwalkan tahun itu. Maka, Paus Yohanes Paulus II melakukan ziarah “spiritual” ke negeri ini.

Misi Damai

Menurut Paus Fransiskus berkunjung ke Irak tidak hanya didedikasikan untuk umat Kristiani. Kunjungan itu merupakan sebuah misi untuk membawa perdamaian bagi semua yang teraniaya, melawan terorisme dan sektarianisme, dan mempromosikan dialog dan kehidupan bersama antara semua komponen agama, baik di tingkat ekumenis antar-Gereja, atau melalui hubungan Islam-Kristen.

Dalam pidatonya saat acara publik yang diadakan dengan pihak berwenang, masyarakat sipil, dan korps diplomatik di Istana Kepresidenan pada Jumat, 5/3/2021,  Bapa Suci menjabarkan, kunjungannya memang berlangsung pada saat dunia secara keseluruhan berusaha untuk keluar dari krisis pandemi Covid-19 yang tidak hanya memengaruhi kesehatan tetapi juga berdampak buruk pada kondisi sosial dan ekonomi. Hal ini sudah ditandai dengan kerapuhan dan ketidakstabilan.

“Krisis ini menuntut upaya bersama untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan, termasuk distribusi vaksin. Krisis adalah panggilan untuk “memikirkan kembali gaya hidup kita… dan arti keberadaan kita” (Fratelli Tutti, 33). Ini berkaitan dengan keluar dari masa pencobaan dan membentuk masa depan lebih berdasarkan pada apa yang menyatukan kita daripada pada apa yang memisahkan kita,” tutur Paus kelahiran Argentina ini. Ia menambahkan, Irak dipanggil untuk menunjukkan kepada semua orang, terutama di Timur Tengah, keragaman itu, bukan menimbulkan konflik, harus mengarah pada kerja sama yang harmonis dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam rangkaian kunjungan selama di Irak, Sabtu, 6/3/2021, Paus Fransiskus mengunjungi Kota Suci Najaf, di mana ia bertemu ulama Syiah paling berpengaruh di Irak, Ayatollah Sayyid Ali al-Husayni al-Sistani. Berdasarkan Vatican News, ulama berusia 90 tahun itu tidak pernah terlihat di depan umum dan jarang memberikan akses kepada pengunjung. Maka pertemuan ini  menjadi salah satu bagian paling luar biasa dari perjalanan kepausan.

Pimpinan dewan pers Vatikan, Matteo Bruni mengatakan dalam pertemuan Paus dan Sistani yang berlangsung selama 50 menit, mereka  berbincang mengenai kerja sama dan persahabatan antarumat beragama. Sama seperti pertemuan dengan Imam Besar Al- Azhar, Ahmed al-Tayeb pada tahun 2019, Paus menyampaikan pesan damai dan melakukan dialog lintas agama.

Gemakan Persaudaraan

Selain menghimbau umat dengan adanya dialog antaragama, Paus Fransiskus menyelipkan pesan-pesan akan persaudaraan sejati. Hari ketiga di Irak, Paus Fransiskus melanjutklan perjalanan ke Erbil, Mosul dan Qaraqosh. Ia disambut setibanya di Erbil oleh Presiden wilayah otonom Kurdistan Irak dan otoritas sipil di wilayah tersebut. Kemudian ia bertemu dengan Nechirvan Barzani dan Masrour Barzani, masing-masing Presiden dan Perdana Menteri daerah otonom, secara pribadi, sebelum bertolak ke Mosul.

Tiba di Mosul, Paus Fransiskus memimpin doa untuk para korban perang, di Hosh al-Bieaa (alun-alun Gereja). “Mari sekarang kita ikut mendoakan semua korban perang. Semoga Tuhan Yang Mahakuasa memberikan hidup yang kekal dan kedamaian abadi,  sambutlah mereka ke dalam pelukan Bapa. Mari kita berdoa juga untuk kita. Apapun tradisi serta agamanya, mari hidup rukun dan damai. Sadarlah, bahwa di mata Tuhan, kita semua adalah saudara,” ungkap Paus Fransiskus dalam doanya.

Setelah itu, ia pergi ke Qaraqosh untuk mengunjungi umat di Gereja Dikandung Tanpa Noda. Sebelum petang menjemput, ia kembali ke Erbil dan merayakan Misa Kudus di Stadion Hariri. “Gereja di Irak, dengan rahmat Tuhan, sudah melakukan banyak hal untuk mewartakan hikmat Salib yang luar biasa dengan belas kasihan dan pengampunan Kristus, khususnya terhadap mereka yang paling membutuhkan. Bahkan di tengah kemiskinan dan kesulitan yang hebat, Anda dengan murah hati tetap menawarkan bantuan dan melakukan aksi solidaritas yang nyata kepada orang miskin dan menderita,” terang Paus dalam homilinya.

Sebelum melanjutkan Misa dan esok harinya harus kembali ke Roma, Paus mengutarakan perasaannya selama di Irak. Paus Fransiskus sungguh mendengar suara kesedihan dan kelihangan. Kendati demikian, suara harapan dan penghiburan juga lantang terdengar. Menurutnya, hal ini dikarenakan uluran kasih dari lembaga keagamaan dan berbagai organisasi amal yang membantu masyarakat di negara ini dalam pembangunan kembali.

“Sekarang waktunya sudah dekat untuk kembali ke Roma. Namun, Irak akan selalu bersama saya, di dalam hati saya. Saya meminta Anda semua, saudara dan saudari yang terkasih, untuk bekerja sama dalam kesatuan untuk masa depan, perdamaian dan kemakmuran. Jangan meninggalkan saudaramu atau mendiskriminasi siapa pun,” tutupnya.

 Karina Chrisyantia

(Majalah HIDUP, Edisi No 12, Tahun ke-75,  21 Maret 2021)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here