Menghadapi Bencana, Keuskupan Agung Kupang: Berat Sama Dipukul, Ringan Sama Dijinjing

24
Direktur Karitas Keuskupan Agung Kupang, Romo Andre Lanus (baju kuning) menerima sumbangan dari FKIK Unika Atma Jaya. (Foto: Dok. Pribadi

HIDUPKATOLIK.COM – Gerakan umat melalui tiap paroki menjadi kekuatan dasar pemulihan bencana.

SEJAK memasuki Pekan Suci 2021 lalu, hujan terus mengguyur wilayah Keuskupan Agung Kupang (KAK), Nusa Tenggara Timur (NTT). Tercatat tiga hari penuh hujan datang tanpa henti. Hal ini dibenarkan oleh Vikaris Jenderal KAK, Romo Gerardus Duka, “3×24 jam masyarakat di NTT termasuk wilayah KAK mengalami curah hujan sangat tinggi.” Ia menambahkan, “Curah hujan semakin tinggi tanpa henti mulai tanggal 1 April malam hingga 4 April.” Dampaknya, Kota Kupang kebanjiran dan mengalami tanah longsor. “Padahal Kupang terkenal kering namun karena ini dipenuhi air hingga banyak menggenangi ruang publik dan rumah warga,”sebutnya.

Romo Gerardus Duka

Romo Gerardus membeberkan, sempat beredar informasi melalui aplikasi pesan WhatsApp, akan adanya potensi terjadi badai di hari Minggu Paskah dengan puncaknya pada pukul 01.00 – 03.00 siang WITA. Masyarakat yang tidak tahu menahu soal informasi ini beraktivitas seperti biasa, namun yang lain mulai waspada. Ada yang mulai mengungsi ke tempat yang aman. Banyak juga permohonan doa agar badai berlalu bahkan kalau boleh tidak terjadi. Sayang, informasi yang disampaikan BMKG terjadi dan hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat tersendat disertai tangis pilu. “Jadi awal mulai datangnya badai Seroja adalah curah hujan yang tinggi tanpa berhenti selama beberapa hari dan puncak terjadinya badai ini,” tuturnya.

Mengungsi di gereja

Kondisi hujan tiada henti ini juga dibenarkan oleh Direktur Caritas KAK, Romo Andre Lanus. Imam yang akrab disapa Romo Alan ini berkisah, ia baru saja pulang dari stasi melayani Misa Minggu, 4/4/2021. Sesampainya di Paroki St. Simon Petrus Tarus bersama dengan rekan-rekan di Paroki, mereka duduk di pastoran sambil memandangi hujan yang tak kunjung berhenti. Kemudian sekitar pukul 12.00 siang angin mulai berhembus kencang. Kali kecil di bawah pastoran tiba-tiba berbunyi seperti meluap. Mereka bergegas meninjau kondisi di luar dan ternyata sudah banjir. Perlahan air mulai masuk ke pastoran melalui lubang pembuangan di dapur. Dengan sigap mereka mulai membersihkan saluran.

Ketika hujan sedikit reda, banyak warga dengan wajah panik mulai mengungsi di paroki. “Awalnya saya pikir hanya paroki kami saja yang mengalami hal ini, maka saya langsung mengontak paroki dan tarekat terdekat agar segera membantu kami karena warga datang dengan pakaian basah termasuk bayi dan anak kecil,” ungkapnya. Permohonan itu direspons baik oleh Paroki Maria Assumpta Kotabaru/Kupang, Paroki St. Yoseph Naikoten serta para suster PI (Penyelenggaraan Ilahi) dan Suster PRR (Puteri Reinha Rosari). Akan tetapi bantuan itu harus berhenti di tengah jalan karena volume air sudah naik. “Dengan keadaan terbatas itu, paroki tetap menampung sekitar 600an orang mulai dari bayi berumur dua minggu hingga lansia,” tuturnya. Pengungsi juga datang dari latar belakang agama yang berbeda-beda.

Tidak habis akal, Romo Alan juga mengontak beberapa umat terdekat yang bisa membantu untuk memasak. Setidaknya prioritas waktu itu untuk anak, lansia, ibu hamil dan menyusui. Berkat itu pun datang melalui umat yang menyediakan makanan berupa nasi dan telur yang dibuat di pastoran. “Malam itu, kita dapat sekitar 167 bungkus nasi meskipun itu tidak cukup untuk semua orang. Maka diprioritaskan untuk lansia lalu anak,” ungkapnya. “OMK yang ada di pastoran dari siang bersama kami itu kita ajak juga masak bubur untuk anak,” imbuhnya.

Pemetaan

Senin sore, 5/4/2021, Romo Alan keluar meninjau. Saat keluar itulah baru ia tahu hantaman badai menyeluruh di semua tempat. Akhirnya, lewat grup chat UNIO KAK, ia menyampaikan kepada rekan-rekan pastor paroki agar bergerak dengan kekuatan dan potensi yang ada. Beberapa paroki seperti Paroki St. Fransiskus dari Asissi BTN Kolhua, Paroki St. Yoseph Naikoten, Paroki St. Simon Petrus Tarus, Paroki St. Maria Fatima Taklale, dan Paroki St. Maria Mater Dei Oepoli mulai memberi respons membantu umat secara mandiri.

Selain itu, Romo Alan juga berkorespodensi dengan paroki di Alor yang dikabarkan menuai dampak parah. Di Alor terjadi longsor di salah satu kapela di stasi dengan umat meninggal sekitar tujuh orang dan tujuh rumah tertimbun. Kota Kupang sebagai pusat badai juga berhadapan dengan banyak rumah roboh, umat meninggal yang salah satu kasusnya karena tertimpa pohon di dalam rumah. Kemudian di salah satu wilayah di Amarasi Barat ada satu dusun terbawa longsong semua. Sekitar 40 keluarga ada dalam satu dusun itu. Lalu di wilayah Amfoang Timur dan Utara akses terputus dan banyak kerugian material terutama di bidang pertanian di mana sawah banyak tertimbun pasir dan terendam air sehingga gagal panen. “Untuk itu, kita menghimbau respons awal diserahkan ke paroki masing-masing agar bisa cepat tanggap dengan situasi umat terdampak,” terangnya.

Sejak senin sore itu pula, ia sudah berkontak dengan KARINA (Caritas Indonesia). Lewat pertemuan virtual seluruh direktur Caritas terdampak menyampaikan keadaan terkini. Namun, akibat gangguan jaringan saat kembali ke kabupaten ia tidak dapat memberikan informasi terkini kepada pusat. Baru pada Jumat, 9/4/2021 bisa mengadakan kontak. “KARINA mendukung setiap gerakan dan respons kita di sini,” sebutnya.

Distribusi Bantuan

Romo Alan menjelaskan, di tingkat keuskupan dan gerakan posko bencana baru mulai dilaksanakan pada tanggal 10 April 2021. Artinya, tahap awal KAK memberi peran kepada tiap paroki untuk melakukan respons dengan kontak donatur yang ingin memberi bantuan langsung diberikan kepada paroki yang membutuhkan agar dapat bergerak langsung. Posko ini sendiri, ia menjelaskan, pertama-tama dari gerakan awam sehingga keuskupan berani membukanya.

Suster Karmelit dan OMK menyiapkan makanan untuk penyintas banjir di Paroki St. Simon Petrus Tarus. (Foto: Dok. Pribadi)

Awalnya peran keuskupan hanya sebagai fasilitator yang menghubungkan donatur ke paroki, namun karena harus mendatangi banyak titik maka hadirlah posko ini untuk memudahkan pendataan dan pendistribusian. “Posko keuskupan ini didukung oleh Romo Vikjen dan Bapa Uskup serta para pastor paroki. Selain itu, kami juga akan bersinergi dengan teman-teman di tarekat agar optimal dan terarah. Bagi saya hadirnya posko ini menjadi pengalaman bermakna karena staf PSE KAK hanya dua orang dan dengan gerakan umat ini semua dapat diatasi. Apalagi melihat banyak donasi yang kami terima, sungguh luar biasa,” tuturnya.  Mengamini pernyataan Romo Alan, Romo Gerardus turut menyatakan, “Keuskupan, ketika berhadapan dengan sebuah bencana, selalu melibatkan umat paroki. Maka posko bantuan utama adalah paroki-paroki, Komisi PSE untuk melakukan tanggap darurat. Sehingga komunikasi dan bantuan bagi yang terdampak tetap pada kerja bersama dan bersesama. Kata orang ‘berat sama-sama, ringan sama-sama’.”

Lebih lanjut, Romo Alan menjabarkan untuk pemberian bantuan uang langsung dikomunikasikan dengan pastor paroki terutama di wilayah Kepulauan Alor, Sabu Raijua, dan Rote sehingga donasi langsung masuk ke rekening paroki dan mereka bisa langsung bergerak membeli keperluan. Sedangkan dalam bentuk barang logistik akan dihimpun di posko lalu didistribusikan langsung ke paroki sesuai laporan permintaan kebutuhan. Untuk distirbusi logistik ini sendiri juga bekerja sama dengan pemerintah terkait. Sebagai contoh berkoordinasi dengan BPBD Provinsi untuk menggunakan helikopter atau lewat kapal Angkatan Laut. “Kondisi terkini jalur laut umum sudah dibuka sehingga feri sudah bisa beroperasi,” imbuhnya. Sedangkan untuk kebutuhan medis sendiri Caritas Keuskupan terus aktif berkomunikasi dengan Persatuan Karya Dharma Kesehatan Indonesia (Perdhaki) KAK. Ini juga didukung dengan hadirnya awam yang berprofesi sebagai dokter dan menyatakan kesiapan dalam membantu.

Solidaritas

Memungkasi percakapan dalam menghadapi situasi bencana, Romo Gerardus kembali menekankan dibutuhkan sikap solidaritas dalam mengatasi persoalan bencana. “Karena semangat iman kita bukan pada mengambil alih perjuangan yang sedang mereka rasakan tetapi bersama-sama melengkapi yang masih kurang. Kehadiran kita adalah tidak mengambil martabat dari mereka yang menderita. Kita melalui solidaritas membantu sesuai panggilan iman, melengkapi kekurangan mereka,” ungkapnya.

Sedangkan bagi Romo Alan sendiri, Komisi PSE KAK dan juga keuskupan lainnya perlu membentuk satu tim pengurangan risiko bencana, tim tanggap darurat keuskupan, dan tim ini juga harus ada di tiap paroki sehingga koordinasi akan lebih mudah jika menghadapi bencana lagi. “Karena memang selama ini kita belum ada tim yang solid untuk itu, kita bekerja seadanya dan ini yang menjadi catatan untuk kami untuk ke depan bisa ada tim tanggap darurat keuskupan,” tandasnya.

 Felicia Permata Hanggu

(Majalah HIDUP, Edisi No.17, Tahun ke-75, Minggu, 25 April 2021)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here