Pastor Fredy Rante Taruk: Tidak Gagap dalam Tanggap Darurat

53
Pastor Fredy Rante Taruk, Direktur Eksekutif Caritas Indonesia (KARINA)

HIDUPKATOLIK.COM – SEDIA payung sebelum hujan. Menurut Direktur Eksekutif Caritas Indonesia (KARINA), Pastor Fredy Rante Taruk, bencana tidak bisa diprediksi, tidak tahu kapan akan terjadi maka perlu adanya persiapan. KARINA mengoordinir dan menyediakan bantuan mulai dari sembako, obat-obatan, air bersih dan penyediaan sarana sanitasi. Selain itu, KARINA  bersama Sekretariat Gender dan Pemberdayaan Perempuan – Konferensi Waligereja Indonesia (SGPP-KWI mematangkan konsep pendampingan psikososial bagi warga korban banjir NTT, khususnya di Wilayah Adonara dan Lembata, Flores, NTT. Berikut penjelasan lengkap Pastor Fredy ketika dihubungi HIDUP melalui daring, 14 April 2021.

Dalam situasi genting, bagaimana respons KARINA dalam menghadapi bencana?

Sejak Tsunami di Aceh, kita bisa belajar dari pengalaman bahwa Indonesia berada dalam apa yang disebut dengan Ring of Fire, artinya rawan terhadap terjadinya bencana. KARINA sejak awal  membuat unit Emergency dan DRR.  Emergency Response dan Community Manage Disaster Risk Reduction. Ada tim respons tanggap darurat dan tim pengurangan risiko bencana.

Fungsi KARINA terhadap 37 keuskupan adalah memberikan animasi, fasilitasi dan koordinasi. Hal ini yang dijalankan oleh KARINA, dalam dua aspek baik ke dalam maupun keluar. Tahun 2019 di Canosa, pertemuan 37 keuskupan jaringan Caritas PSE seluruh Indonesia menyepakati SOP tanggap darurat KARINA. Di situ ada panduan, ada skala, dari dampak dan cara responsnya yang kita lakukan bersama-sama. Jadi, ada aktifasi SOP untuk menanggapi. SOP ini sama dengan SOP jaringan Caritas Internationalis.

Aktifasi ini juga diterapakan di  NTT. Namun, keuskupan yang terdampak sangat perlu maka kami melibatkan keuskupan lainnya. Di NTT, korban lebih dari 100 jiwa, maka ini dalam skalanya berwarna orange, NTT harus direspons secara international sehingga melibatkan bantuan dari luar negeri.

Dengan pihak mana saja KARINA mengadakan kerja sama?

Jadi dalam situasi seperti ini, selain melakukan koordinasi internal, kami koordinasi dengan pihak eksternal. KARINA bergabung dalam Humanitarian Forum Indonesia (HFI) yang merupakan kumpulan lembaga-lembaga pelayanan kemanusiaan berbasis iman. Seperti MBNC dari Muhammadiah, NU, dan sebagainya. Kami juga bekerja sama dengan BNPB. Kami masuk di dalam desk rewalan. Jadi ada meja untuk para relawan, di mana kami mencatatkan tugas-tugas dan berapa jumlah relawan di lapangan dan kami juga berkoordinasi dengan Kementerian Sosial.

Kami aktif melakukan assessment bersama, komunikasi dan bertukar informasi. Sekarang ini KARINA dipercaya oleh HFI memimpin assessment Flores Timur, artinya memetakan atas persoalan masyarakat dan joint need market assessment ada joint marker assessment. KARINA di Flores Timur memimpin bagaimana peta dampak bagi korban bencana ini dan  peta kondisi ketersediaan barang-barang yang dibutuhkan oleh masyarakat di lokasi itu.

Edukasi Mitigasi seperti apa yang KARINA berikan kepada umat?

Selama ini, kami berharap pengurangan risiko bencana adalah berbasis komunitas. Itu disebut PRBOM (Pengurangan Risiko Bencana Oleh Masyarakat).  Caritas Indonesia sejak awal mendeklarasikan pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat itu disebut PRBOM. Namun,  sangat tergantung di keuskupannya. Kalau di keuskupan ada struktur Caritas – PSE yang baik  maka mereka bisa menerima program ini dan KARINA membantu memfasilitasi agar bisa sampai ke ranah paroki.

Tantangan Gereja Katolik Indonesia, adalah harus serius menyikapi bahwa bencana alam bukanlah lagi sesuatu yang remeh. Jangan dibayangkan tidak akan terjadi. Kita berdoa tidak akan terjadi, faktanya bencana alam sangat rentan terjadi di Indonesia.

Dalam teorinya ini dikatakan jauh lebih terukur penggunaan biaya, kalau kita  membiayai mitigasi bencana dan penyiapan tim, ketimbang  hanya fokus menyediakan dana kalau sudah terjadi bencananya. Kalau sudah terjadi bencananya, seberapa besar uang kita itu tidak sanggup memulihkan kembali situasinya. Andai kita semua bisa bersinergi, kita semua sama-sama percaya bahwa kebencanaan masalah kita sehingga kita bisa lebih baik dalam tanggap darurat. Tidak gagap.

Bagi saya, setiap keuskupan mesti memiliki tim tanggap darurat dan tim pengurangan risiko bencana. Sama wajibnya mengangkat karyawan-karyawan keuskupan lainnya. Staf pengurangan risiko bencana harus ada, tentu melalui jalur-jalur yang ada PSE, ada Caritas, ada komisi terkait. Kalau  kita berjuang bersama untuk melakukan ini akan sangat-sangat membantu.

Pelatihan Program PRBOM dilaksanakan berapa tahun sekali?

Kami perlu memperbaharui pelaksanaan PRBOM. Dulu ada beberapa keuskupan yang ikut dan diandaikan sudah jalan. Namun tidak setiap keuskupan mempunyai staf khusus kebencanaan. Misalkan saja yang mengikuti training itu bukan staf khusus/staf yang fokus soal kebencanaan.  Maka kemungkinan besar akhirnya tidak dimanfaatkan dengan baik, kami harus ulang lagi, ulang lagi.

Lima tahun terakhir, kami justru konsentrasi ke pelatihan tim tanggap darurat dan pembuatan SOP tanggap darurat di setiap keuskupan. Untuk tahun 2020 dan 2021 ini karena Covid, kami memberikan pelatihan relawan secara daring.


Apakah bisa memberi gambaran mengenai pelayanan Psikososial?

Di berita-berita telah dikabarkan  bahwa anak-anak dan umat di sana itu trauma. Sekarang tugas kami adalah bagaimana  cara mengembalikan mental dan semangat mereka. Bagaimana memulihkan pikiran mereka agar tidak hanya fokus pada peristiwa yang menyedihkan, yang membuat takut dan sebagainya.
Maka kami mengusahakan adanya program pemulian mental dan kepercayaan diri. Kami turut membantu mengatasi ketakutan namun tidak dipungkiri masyarakat harus bangkit, berkerja sama untuk mengembalikan situasi ini, di samping itu juga berproses untuk healing.

Mengapa perlu adanya semangat belarasa dan solidaritas ketika menghadapi bencana?

Hakikat kita sebagai manusia itu saling melengkapi. Manusia itu akan up and down.  Tidak akan pernah berada pada puncak dan tidak juga selalu berada dalam situasi terpuruk. Solidaritas itu ada dari hakikat kemanusiaan kita.  Paus Fransiskus sekarang mengedepankan persaudaraan manusia sebagai persaudaraan manusia. Sebagai persaudaraan manusia, kita punya tagline yakni One Human Family, One Common Home. Jadi kita harus menyadari bahwa kita sesama manusia yang mendiami bumi yang sama dan bahkan kita satu keluarga manusia bersama dengan ciptaan yang lain.

Ketika nantinya terjadi penderitaan yang terjadi pada seseorang atau kelompok, tidak memandang agama, suku, ras dan sebagainya. Kita harus bisa saling membantu. Itulah panggilan kemanusiaan, tidak bisa hanya diklaim sebagai panggilan Kristiani. Tapi panggilan dari hakikat kemanusiaan dan hakikat sebagai ciptaan Allah.  Yang kita bisa bahasakan di Gereja sebagai citra Allah.  Kalau itu terjadi, maka kita dipanggil untuk memulihkan kehidupan bersama.

Di dalam Injil Matius 25: Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum. Artinya, solidaritas itu bagian penting dan utama dari sikap beriman apapun agama orang sehingga tidak membiarkan orang yang berada dalam penderitaan itu semakin menderita dan tanpa perhatian dari masyarakat.

Pada kondisi sekarang, kita bersyukur dan harus mempromosikan terus-menerus sikap belarasa. Kehidupan itu ada dinamika dan semangat berbagi itu membuat kita saling meringankan beban penderitaan. Contoh saja di masa pandemi ini, Paus Fransiskus menghimbau, jangan ada yang tertinggal atau diabaikan.  Maka, kita tidak bisa lagi menjadi manusia yang peduli dengan diri sendiri. Justru kebaikan bersama akan menjadi kebaikan yang lebih besar untuk semuanya. Jadi belarasa menjadi sungguh-sungguh nyata. Compassion.

Prinsip dari Caritas Internationalis, Caritas atau semangat berbagi, semangat cinta kasih harus berada pada jantung Gereja, berada dalam nilai-nilai kita bersama.  Tidak bisa lagi dikesampingkan. Saya yakini donasi-donasi dari masyarakat, sekecil apapun untuk NTT akan sangat membantu sesama yang membutuhkan.

Adakah pesan khsusus dari Caritas Internationalis mengenai pemulihan bencana di NTT?

Prinsipnya sama, ketika ada bencana itu di aktifasi oleh KARINA. Caritas Intenationalis setiap hari memantau laporan kami. Tidak ada pernyataan khusus, tapi ada doa Paus kali untuk bencana ini. Inilah gerekakan Caritas sebagai Gereja universal sebetulnya.
Kemudian Caritas Internationalis memberikan kami support, saat ini masih terus berdiskusi, mendorong langkah-langkah dan saya belum berani mengatakan apa intervensinya karena masih berproses. Mereka  selalu mendukung Caritas Nasional, dalam hal ini KARINA dalam merespons bencana di NTT.

Karina Chrisyantia/Felicia Permata Hanggu

(Majalah HIDUP, Edisi No.17, Tahun ke-75, Minggu, 25 April 2021)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here