SENSASI MELAKUKAN HAL YANG SAMA DENGAN CARA YANG BERBEDA

108
Patung Bunda Maria Segala Suku diletaruh di kaki salib di Kapel Skolastikat Xaverian, Jakarta pada Pembukaan Bulan Maria 2021.

HIDUPKATOLIK.COM – SETIAP tahun para pastor dan frater Skolastikat Xaverian, Jakarta, mengadakan Misa inkulturasi. Biasanya kegiatan ini dilaksanakan setiap bulan April. Seperti biasa, kami akan membahas kegiatan-kegiatan yang akan kami rencanakan dalam rapat keluarga, termasuk Misa inkulturasi. Hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan komunitas selalu kami putuskan bersama.

Saat rapat keluarga, saya, Fr. Marselinus Masterdam, SX dan Pastor Ciroi Rodolfo, SX sebagai seksi rohani mengusulkan kepada komunitas supaya Misa inkulturasi kali ini mengangkat tema “Bunda Maria Segala Suku”.

Mendengar tawaran ini, beberapa rekan mengusulkan agar Misa dilaksanakan pada 1 Mei 2021 bertepatan dengan pembukaan Bulan Maria 2021. Akhirnya, kami sepakat.

Maka, kami mempersiapkan lagu-lagu yang berasal dari daerah kami masing-masing. Lagu pembukaan berasal dari Nusa Tenggara Timur (Ina Maria); Tuhan Kasihanilah dari Sumatera Utara (Ale Tuhan); Kemuliaan dari Manggarai ( Mori Ge); Persembahan dari NTT (Ina Maria); Kudus dari Mentawai (Sipunenan); Penutup dari Jawa (Nderek Dewi Maria).

Dari lagu-lagu tersebut tampaklah wajah kami yang berasal dari berbagai daerah yang di Nusantara ini. Kami sangat antusias dalam berlatih lagu-lagu tersebut karena Misa kali ini sangat menarik. Selain itu, kami juga menggunakan bahasa daerah dalam doa permohonan.

Sabelum Misa dimulai, kapel telah telah didekor dengan warna-warni yang sangat indah dan menarik. Setiap frater memakai pakaian adat daerah asal masing-masing. Pastor Ciroi berdarah ‘negri spagetti’ sebagai pemimpin Misa memakai kasula khusus yang berwarna merah putih dan bergambarkan Bunda Maria Segala Suku. Bagi saya pribadi, warna itu menyempurnakan warna-warna pakaian adat yang kami pakai sehingga Misa ini semakin melekat kental inkulturatifnya. Tepat di bawah salib ada juga patung Bunda Maria Segala Suku yang sangat indah.

Misa dibuka dengan lagu Ina Maria. Lagu ini perlahan-lahan menciptakan melodi dan musik yang menghantar kami masuk dalam situasi yang penuh hikmat, meskipun lagu tersebut dinyanyikan oleh para frater dengan logat yang beragam. Begitupun dengan lagu-lagu yang lain di mana ketika kami nyanyikan, ada rasa bangga dan bahagia. Bangga dan bahagia karena kami saling diperkaya melalui kekayan budaya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu kami juga bangga karena memiliki ibu yang sama, yaitu Bunda Maria yang senantiasa menemani kami dalam menapaki jalan panggilan mengikuti Putranya.

Pastor Ciroi Rodolfo, SX (tengah) bersama kami komunitas frater dan pastor pembimbing Skolastikat Xaverian, Cempaka Putih Raya, Jakarta Pusat.

Saat khotbah, Pastor Ciroi mengatakan bahwa betapa bahagianya kita bisa memiliki Bunda Maria yang khas dari Indonesia, sambil menunjuk patung Bunda Maria di kaki salib. Ia juga mengingatkan tentang pesan bapa pendiri serikat kami, St. Guido Maria Conforti. Ia pernah mengatakan, Maria Bunda Tuhan dan Bunda Gereja menduduki tempat istimewa dalam sejarah keselamatan. Kita memandangangnya sebagai perawan dalam sikap mendengarkan, yang menyimpan sabda Allah, menjadi pembawa-Nya dengan rendah hati dan berani, senantiasa memperhatikan kebutuhan saudara-saudara.

Di bagian akhir khotbahnya, Pastor Ciroi mengatakan bahwa kami semua harus tetap setia berdevosi kepada Bunda Maria. “Bunda Maria akan selalu menemani dan menolong kita dalam menjalani panggilan Putranya,” pungkasnya.

Kami mengakhiri Misa dengan menyanyikan lagu Nderek Dewi Maria dengan penuh semangat dan ‘sempurna’ meskipun dengan logat yang berwarna-warni.

Saat Komuni kudus

Kegiatan seperti ini baru pertama sekali kami lakukan. Biasanya pembukaan Bulan Maria kami lakukan hanya dengan cara doa rosario dan dilanjutkan dengan Misa. Akan tetapi, kali ini kami melakukannya dengan cara yang berbeda. Melakukan kegiatan yang sama dengan cara yang berbeda sungguh sangat mebahagiakan dan memberi suatu nilai baru yang sangat berharga, setidaknya bagi kami.

Fr. Riko Nababan, SX, Skolastikat Xaverian, Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here