Merunut Makna di Balik Dua Kali Positif Corona

163
Skolastikat Xaverian, Jakarta Pusat
5/5 - (3 votes)

HIDUPKATOLIK.COM“I need somebody who can love me at my worst.”  Itulah sepenggal lirik lagu berjudul At My Worst karya Pink Sweats yang sempat jadi trending music di awal tahun 2021.

Lagu ini jugalah yang mengingatkan pengalaman saya di tahun yang sama, ketika untuk pertama kalinya terpapar virus Corona. Tepatnya tanggal 1 April 2021, saya menerima surat keterangan laboratorium dari RS Siloam yang menyatakan bahwa saya terpapar virus Corona.

Kebetulan di hari yang sama, dunia merayakan April Mop atau April Fools’ Day di mana pada hari itu, orang dianggap boleh berbohong. Maka besar harapan saya bahwasanya hasil lab yang saya peroleh juga adalah sebuah kebohongan.

Namun kenyataan berkata lain, hasil lab ternyata tidak sedang berdusta. Secara fisik (waktu itu), saya merasa baik-baik saja, namun hasil pemeriksaan mengharuskan saya menjalani masa karantina di RS Siloam.

Menjalani masa karantina di rumah sakit bukanlah pengalaman yang mudah bagi saya. Hari berikutnya setelah saya pertama kali menjalani masa karantina (tepatnya 2 April 2021) adalah hari ulang tahun saya yang ke-20. Sungguh pengalaman yang ironis, bukan? Merayakan hari istimewa sekelas hari ulang tahun kelahiran di rumah sakit, dalam keadaan terpapar virus corona.

Sekadar catatan kecil, terpapar virus corona pada waktu itu masih menjadi kenyataan yang sangat menakutkan bagi banyak orang. Akan tetapi, situasi tersebut ternyata tidak menyurutkan sukacita saya waktu itu. Salah seorang rekan sekamar saya menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya; tepat pada pukul 00:01. Beliau adalah orang yang sebelumnya tidak pernah saya kenal, akhirnya menjadi orang pertama yang menghadiahkan saya ucapan selamat ulang tahun.

Para suster dan perawat di Rumah Sakit itupun satu per satu datang ke kamar saya untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Ada yang datang dengan bingkisan berupa makanan dan minuman, ada yang membawa kartu ucapan, serta ada pula yang membawa serta dengan doa di bibir mereka agar saya dapat cepat sembuh. Sungguh waktu itu saya merasa sangat dicintai dan dikuatkan; bahkan oleh orang-orang yang sebelumnya tidak saya kenal.

Sukacita saya semakin berlimpah ketika saya mendapatkan doa dan dukungan dari keluarga baru saya; keluarga Misionaris Xaverian. Tentunya dukungan dan doa dari keluarga di kampung halaman saya juga sangat menambah kekuatan serta sukacita saya waktu itu. Ketika saya berulang tahun, Romo Yakobus (selaku Magister Novis) menghubungi saya via Videocall Whatsapp dan dari situ mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya.

Teman-teman sekomunitas pun satu per satu mengucapkan selamat ulang tahun dan saya sungguh bahagia waktu itu. Saya merasa dicintai oleh banyak orang, termasuk keluarga baru saya ini. Lewat motivasi dari para konfrater, saya disemangati untuk menjalani masa sulit itu dengan tenang.

Saya merasa dicintai, bahkan di kondisi terburuk saya. Maka ketika mendengar penggalan lagu yang saya kutip di awal tulisan ini; “I need somebody who can love me at my worst”….keluarga Xaverian adalah jawabnya. Dalam kondisi terburuk saya waktu itu, keluarga xaverian hadir menemani, menuntun, menyemangati dan terutama mendoakan saya. Itu semua adalah ungkapan cinta dari sebuah keluarga yang ingin menjadikan seluruh dunia satu dalam semangat Injil.

Setiap hari, para konfrater menghubungi saya via whatsapp. Mereka menanyai kabar saya, menyemangati saya bahkan memberikan lelucon-lelucon ringan yang menghibur saya dalam masa karantina. Lebih-lebih lagi, dalam setiap percakapan mereka selalu mengatakan; “kami selalu mendoakan kamu, Ical…”

Kata-kata itu sungguh menguatkan saya dan seakan menjadi daya pengobatan pada batin saya yang (waktu itu) dipenuhi dengan kemarahan terhadap diri, penyesalan, kekecewaan. Pada saat itu, untuk pertama kalinya saya merasa rindu akan rumah saya yang baru; rumah keluarga Xaverian. Perlahan kondisi saya semakin membaik, bahkan saya menjadi penyemangat bagi pasien-pasien lain agar cepat sembuh.

Cinta yang saya dapatkan dari keluarga Xaverian mendesak saya untuk membagikannya kepada yang lain, yakni pasien-pasien yang keadaannya lebih buruk dari saya. Saya hadir menyemangati mereka, mengunjungi mereka, membangun persahabatan dengan mereka dan juga menyediakan diri untuk suatu dialog kehidupan dengan mereka. Masa karantina selama 14 hari pun saya jalani dengan penuh semangat dan sukacita, hingga akhirnya dibolehkan pulang ke “rumah” yang baru; keluarga Xaverian.

Pengalaman dicintai sebagai seorang dari anggota keluarga Xaverian semakin saya rasakan ketika terpapar virus corona untuk yang kedua kali. Sebagai seorang penyintas di periode sebelumnya, kesempatan terpapar untuk yang kedua kali relatif saya hadapi dengan lebih tenang. Praktisnya saya menjalani isolasi mandiri di kamar saya sendiri.

Kasih para konfrater juga tampak di sana; ketika bersedia mengurus makanan dan pengobatan saya, ketika dengan rutin menyapa saya dari kejauhan, dengan pesan-pesan penyemangat yang mereka bagikan via Whatsapp, Instagram dan Facebook, dengan doa yang senantiasa mereka panjatkan untuk kesembuhan saya. Pelayanan tanpa pamrih yang saya rasakan dari para konfrater sungguh menguatkan saya, mendorong saya untuk mengatakan dalam diri; “Ayo, Ical…semangat! Kamu harus cepat sembuh!”

Jika pepatah lama mengatakan “Cinta dapat mengalahkan segalanya”, saya bakalan menjadi saksi pertama yang mendukung keabsahan pepatah ini. Keluarga Xaverian telah menjadi bagian dari diri saya, yang “menyuplai” keajaiban cinta itu kepada saya. Saya teringat akan perkataan dari seorang ulama, aktivis sekaligus sastrawan di Indonesia; Almarhum Buya Hamka.

Beliau mengatakan: Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkannya.

Saya rasa inilah yang terjadi dalam diri saya ketika berhadapan dengan kenyataan terpapar virus corona sebanyak dua kali. Allah menampakkan cinta-Nya yang begitu besar, lewat konfrater yang berada di sekitar saya dan lewat siapapun dalam semangat kekeluargaan.

Ichal Magoeng, mahasiswa STF Driyarkara, Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here