Kepakan Sayap Anak-anak Conforti

66
Pastor Rodolfo Ciroi, SX (keempat dari kiri) bersama para pastor dan frater di Wisma Cempaka Putih Raya, Jakarta. (Dok SX)
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – Mereka harus keluar dari negara dan budayanya sendiri untuk berkarya sebagaimana diamanatkan sang pendiri.

DISERTAI tiupan angin kencang dari arah Utara, langit Chad berubah warna menjadi kuning gelap. Fenomena alam ini tak bisa ditampik lagi masyarakat negara beribukota N’djamena ini. Ini juga potret kecil negara dengan 55% penduduknya Muslim ini. Di sinilah Pastor Benyamin Sam, SX, disapa Pastor Beben, hadir sebagai misionaris Xaverian. Ia berkarya di Paroki Santo Agustinus Djodo Gassa dan Paroki Santa Maria Magdalena Tagal.

Dalam karya Pastor Beben di Chad, tidak ada gereja dalam artian bangunan fisik. Yang ada adalah Gereja sebagai persekutuan umat beriman. Gereja mereka adalah Aire Sacrée alias alam terbuka suci atau tempat suci, biasanya di bawah kumpulan pohon yang agak rindang.

Pastor Benyamin Sam (Beben), SX (tengah) bersama dua putera altar di Chad. (Foto: Dok SX)

Kenyataan itu bukan tanpa alasan. Alasan klasik dan utama ketiadaan biaya. Saat Misa, untuk melindungi umat dari teriknya matahari yang bisa mencapai 45 derajat ke atas, pohon menjadi satu-satunya untuk berlindung. Untuk membedakannya dari pohon-pohon yang lain, sebuah Salib diletakkan di bawah pohon sebagai pertanda bahwa pohon ini menjadi Aire Sacrée, meski tanpa pagar pembatas. Kambing, domba, lembu, sapi, keledai dan sebagainya bebas masuk untuk berteduh. Kalau hujan mengguyur, semua kegiatan menggereja dibatalkan.

Kehidupan petani dan peternak sangat tergantung dari hujan. Curah hujan sangat sedikit, dan kerap tanpa hujan sehingga petani tidak bisa berbuat apa-apa. Hujan menjadi sebuah berkat yang dinanti-nantikan setiap tahun dan mungkin sepanjang tahun. “Ini masalah utama di sini. Orang-orang sangat menderita kekurangan air,” tandas Pastor Beben dalam wawancara secara online.

Xaverian berusaha menjadi gembala berbau domba. Juga mencoba memberikan sumbangsihnya untuk keluar dari kesulitan. “Salah satu proyek yang sedang kami lakukan adalah membuat sumur pompa di kampung-kampung. Hampir setiap hari, pagi dan sore, kami harus menghidupkan genset untuk memompa air sumur, yang semakin hari semakin berkurang,” ungkap Pastor Beben. “Tetapi kemampuan kami juga terbatas dan tergantung dari kemurahan hati para penderma,” ujarnya.

Ia mengatakan, dengan baptisan, kita semua adalah misionaris. Ada banyak cara berpartisipasi dalam karya misi misalnya dengan doa dan derma. “Gereja tidak mengenal batas ruang dan waktu.  Gereja Chad adalah Gereja kita. Kesulitan di Chad harusnya menjadi kesulitan semua umat katolik. Memberi dan berbagi apa yang kita punya adalah cara untuk bersatu sebagai anggota keluarga yang sama yaitu Gereja,” ujarnya.

Gereja yang Menari

Hentakan kaki dan liukan badan ke sana-ke mari, plus iringan lagu yang menyiratkan sorakan puji-pujian menjadi suatu hal yang biasa di Chad. Ya, menari menjadi suatu kebiasaan yang lazim. Peliknya hidup oleh karena pelbagai persoalan, termasuk korupsi yang merajalela, tidak menjadikan umat terkungkung dalam kesedihan yang berlarut-larut.

Pastor Beben, SX (pakai stola hijau) sedang memberi khotbah di Aire Sacrée. (Foto: Dok SX)

Menari adalah sesuatu yang muncul secara spontan. Dalam setiap Ekaristi, dari anak-anak yang paling kecil sampai kakek-nenek berbaur dan berjoget sambil mengidungkan pujian bagi Allah. “Mungkin berlebihan kalau saya mengatakan bahwa Gereja di sini adalah Gereja yang menari, terlepas dari betapa banyaknya kesulitan,” ujar Pastor Beben.

Kehadiran Xaverian di Chad tentunya menyasar orang-orang non-Kristen. Katekese menjadi opsi untuk menumbuhkan iman dari masyarakat yang dilayani.

Xaverian  berkarya di bagian Selatan Chad, hampir berbatasan dengan Kamerun, di Keuskupan Pala. Xaverian berkarya di lima paroki dan tinggal di tiga komunitas dengan masing-masing  komunitas terdiri dari tiga pastor. Dari ketiga komunitas itu, dua di antaranya harus menangani dua paroki sekaligus. Keuskupan sendiri belum banyak mencetak imam pribumi.

Pendampingan para katekis sangat penting karena pelajaran untuk para calon baptis dibuat di kampung-kampung yang jauh dari pusat paroki. Selain itu, pendampingan ketua lingkungan, ketua stasi serta kelompok-kelompok rutin dilakukan. Juga kunjungan serta pertemuan berkala dengan umat di kampung untuk mendengar keluh kesah mereka mengenai kehidupan menggereja. Pada Masa Adven dan Prapaskah, diadakan rekoleksi di stasi-stasi.

‘Rajawali Muda’

Dari Chad, sejenak mari beralih ke dalam negeri dengan mengenal salah satu misionari yang merupakan saksi sejarah Xaverian di Indonesia, Pastor Rodolfo Ciroi, SX (81 tahun). Pertama kali menapakkan kaki di bumi pertiwi tahun 1975, kelahiran Italia ini menghabiskan lebih separuh dari hidupnya untuk misi di Indonesia hingga saat ini.

Sayap misinya membentang mulai dari bumi Padang dalam Komisi Kateketik (1975-1996), bermigrasi ke Yogjakarta (1996-2012) dengan menjadi promotor dan pendamping para Tunas Xaverian (tahap pendidikan awal calon Xaverian yang bukan berasal dari seminari), dan 2012-sekarang berlabuh di Wisma Xaverian Cempaka Putih Raya, Jakarta (rumah pendidikan para frater skolastikat Xaverian) sebagai pembimbing rohani.

Tarik ulur ke belakang, Pastor Ciroi teringat akan teladan para katekis di Keuskupan Padang. “Mereka meninggalkan kampung, keluarga, teman-temannya untuk bertugas di daerah yang baru dan sulit karena biasanya ditempatkan di pelosok seperti Mentawai, Pasaman, Kerinci, dan lain-lain. Lagi mereka punya gaji kecil tetapi tetap melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab dan hidup bersama umat. Bagi saya, suatu teladan yang luar biasa,” paparnya.

Tugas utama staf Komisi Kateketik waktu itu adalah mendampingi katekis dan pemuka jemaat yang bertanggung jawab terutama di stasi-stasi. “Selain dua kali setahun mengumpulkan mereka di Keuskupan, kami harus pergi ke paroki-paroki dan mengadakan pendampingan dan mengurus kesejahteraan mereka,” jelas Pastor Ciroi. Alhasil, kegiatan ini sangat menolongnya untuk mengenal situasi Keuskupan Padang.

Pastor Ciroi juga berkecimpung di dalam pembinaan para rajawali muda (julukan untuk para calon Xaverian). Sebagai salah satu penggagas Tunas Xaverian, ia langsung ditunjuk sebagai formator. Tugas yang cukup melelahkan karena ia merangkap promotor panggilan yang harus berkunjung ke pelbagai daerah.

Namun tugas itu diterimanya dengan penuh sukacita hingga akhirnya ia mendapati “hasil pancingan dan gemblengannya” berangkat ke tanah misi dengan gagah berani. “Menjadi teladan sebagai misionaris sesuai spirit yang diwariskan bapa pendiri sebagaimana peribahasa latin Verba volant exempla manent (kata-kata terbang sedangkan teladan tinggal) adalah tantangan terberat saya di rumah pendidikan,” imbuhnya.

Aneka Karya Misi

Beda lagi cerita misi di negara tetangga, Thailand. Dimulai pada Januari 2012 dengan dua Xaverian pertama: Pastor Giovanni Matteazzi, SX dan Thiery Kenge SX. Xaverian hadir bersinggungan dengan karya sosial, pendidikan dan paroki.

Di daerah Khlong Toey, Bangkok, Xaverian berkarya di tengah orang-orang miskin yang tidak punya pekerjaan, yang tua dan sakit-sakitan serta yang tidak bisa menyekolahkan anak-anak. Sementara di daerah Umphang, memberdayakan penenun lokal, mengajar di 12 sekolah dasar dan menengah dengan tujuan mengenal anak-anak dan keluarga Thailand serta membantu mengirim anak-anak bersekolah di kota. Tentu, ada pula karya parokial misalnya di Km 48 (nama tepat): melayani umat, merayakan Misa di biara Susteran St. Paul dan tiap Minggu merayakan Misa di kamp pengungsi untuk orang-orang Myanmar.

Pastor Gordi, SX (paling kanan) mengunjungi sekaligus mendata keluarga miskin dari Myanmar. (Foto: Dok SX)

Pastor Gordi, SX, salah satu Xaverian muda, berkarya di Paroki St. Joseph Pekerja Km 48. Kunjungan ke rumah-rumah umat menjadi program rutinnya untuk dapat memahami keadaan masyarakat. Bersama para katekis, ia berkunjung ke delapan kampung hari Minggu dan Senin. Di sana terdapat keluarga-keluarga pekerja imigran dari Myanmar. Karya ini sangat menarik karena bekerja sama dengan Keuskupan dan kepala-kepala kelompok pekerja Myanmar. Ada bantuan rutin berupa sembako, dan mulai tahun ini, disumbangkan anak babi dan ayam petelur untuk 8 keluarga yang mau beternak.

Dari Selasa sore sampai Jumat siang, Pastor Gordi  berada di daerah pegunungan dan mengajar di tiga sekolah negeri. “Dari sekolah pada pagi sampai siang, sore dan malam saya berkunjung ke rumah orangtua murid. Juga sering makan malam bersama para guru. Hanya demi persahabatan saja,” ungkapnya.  “Di kampung-kampung ini, bersama sebuah LSM dari Prancis, kami memberi bantuan beasiswa bagi anak-anak kurang mampu secara ekonomi,” tambanya.

Motor Penggerak

Pertanyaan yang mungkin terbersit: apa yang mendorong para Xaverian ini berjerih lelah seperti itu? Tak lain tak bukan adalah karisma memperkenalkan Kristus kepada mereka yang belum mengenal-Nya.

“Ladang misi kami adalah di luar Gereja yakni berhadapan dengan budaya dan agama lain. Tidak hanya bicara pelayanan seputar altar dan pasar, kami membicarakan pasar dengan agama dan budaya lain,” ujar Pastor Gordi dengan semangat.

“Kami memiliki kaul pertama, kaul abdi misi ad gentes, ad extra, ad vitam. Ini berarti mau mengabdikan diri di antara orang yang tak (belum) mengenal Kristus, di luar tempat asal/keuskupan kami, dan sepanjang hidup kami. Ketiga kaul lainnya — kemiskinan, ketaatan, kemurnian — adalah syarat supaya kami bisa menjalankan kaul pertama,” timpal Pastor Ciroi merujuk pada semangat sang pendiri Xaverian, Santo Guido Maria Conforti.

Frater Aprizal Dismas Magung, SX (Skolastikat Xaverian) 

HIDUP, Edisi No. 48, Tahun ke-75, Minggu, 28 November 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here