ERIKA, WARSA 1996

52
1/5 - (1 vote)

HIDUPKAOLIK.COM

Warsa 1996

Gedung Karta Pustaka, di kawasan Kota Baru Yogyakarta. Malam hari, pertengahan bulan Februari, guyuran hujan nan lebat. Berdiri pada teras depan gedung Karta Pustaka, aku menunggu resital piano klasik yang masih dua puluh menit lagi. Lalu ada taksi berhenti di pinggir jalan. Seorang perempuan mencoba membuka pintu taksi, namun tak jadi. Hujan deras menghalangi. Payung yang tersedia di gedung, aku sambar. Aku berlari kecil menuju ke arah taksi. Pintu taksi aku buka. Kuulurkan payung padanya. Aku mau berlari kembali ke gedung.

“Mas, jangan lari. Berdua saja dengan payung ini,” katanya.

Berdua kami pada sebuah payung. Aku arahkan payung melindungi dirinya. Tempias hujan membasahi rambutku. Masuk Karta Pustaka, dia membuka tasnya. Mengais sapu tangan dan memberikan padaku. Kuterima sapu tangan warna biru muda. Kukeringkan rambutku. Selanjutnya sapu tangan miliknya ada dalam saku celanaku.

Dia, Erika Rahajeng Tjia. Seperti diriku, dia mahasiswi semester delapan di UGM. Hanya beda fakultas. Erika ambil sastra Inggris, aku manajemen. Malam ini, sepanjang resital piano dia duduk di sampingku.

“Kau tinggal di mana?” kutanya Erika ketika resital piano kelar.

“Kos di Pandega Duta,” ucapnya.

“Aku kos di Kentungan. Kita searah. Aku bisa mengantarmu,” aku menawarkan diri. Dia menyetujui. Jadilah Erika ada disadel belakang motorku. Tiba di Jalan Kaliurang yang membelah kampus UGM, tiba-tiba hujan turun lagi. Gedung-gedung fakultas dibentengi pagar besi.

“Bagaimana ini, Rika?” aku bertanya.

“Lanjut saja, tanggung!” katanya. Menerjang hujan, kupacu motor menuju kos Erika. Basah kuyup, Erika turun dari motor. Aku meneruskan, menuju tempat kosku.

***

Pada diskusi bawah tanah yang dikerumuni ratusan mahasiswa. Aku menyempil di antara peserta diskusi. Menunggu pembicara, Arief Budiman, Romo Y.B. Mangunwijaya dan perwakilan mahasiswa. Begitu moderator mengundang para pembicara, aku terperanjat. Wakil mahasiswa itu. Aku ingat betul. Lima hari lalu menerjang hujan bersama diriku, Erika! Ternyata ia harimau panggung. Intonasinya berapi-api. Erika, aktivitis mahasiswa penentang Orde Baru.

Bubaran diskusi, aku mendekat padanya. Dari arah belakang, kubisikkan kata-kata, persis seperti di Karta Pustaka, “Kita searah. Aku bisa mengantarmu.” Erika menoleh. “Agung…!” sedikit dia berseru. Lalu menggandeng tanganku. Berjalan menuju kursi tempat duduk Romo Mangun dan Arief Budiman.

“Romo, Pak Arief, ini temanku Agung,” Erika mengenalkan diriku. Setelah berbincang dengan Romo Mangun dan Arief Budiman, Erika berbisik kepadaku,”Jadi khan kau mengantar aku pulang?”

Erika Rahajeng Tjia, dari Semarang. Ayahnya kontraktor. Generasi keempat tinggal di Semarang. Ibu Erika, bergelar raden ayu dari Solo. Nama Rahajeng menunjukkan bahwa ada darah biru yang mengalir padanya. Tjia, tak lain nama marga ayahnya. Orangtua Erika bertemu di kampus Diponegoro ketika sama-sama aktif di unit teater mahasiswa.

“Bersama Om Darmanto Jatman, ibu penggiat budaya di Semarang,” cerita Erika ketika kami menyantap dara goreng di trotoar jalan Malioboro.

“Orang tuamu tidak kuatir dengan aktivitasmu turun ke jalan?” kutanya padanya.

“Awal mula ya kuatir juga. Tetapi lama-kelamaan malah mendukung. Logistik kawan-kawan sering dipasok oleh ayah,” kata Erika sambil menyeruput teh jahe panas.

Hanya saja Erika dan para aktivis terlalu awal menggelar demontrasi. Pemerintah Orde Baru masih terlampau kuat. Penyerbuan markas partai politik di Jakarta, menjadi titik balik. Penyisiran dilakukan terhadap para aktivis. Sebagian diculik, yang lain diciduk. Erika ada dalam daftar orang yang pantas diciduk. Aku yang hanya simpatisan, tentu bukan sasaran aparat.  Kuselamatkan Erika.

Pengantar dari Romo Mangun membawa kami dua minggu menghilang di Seminari Mertoyudan, Muntilan. Tidak mungkin terlalu lama di Seminari Mertoyudan. Kami berpindah ke kawasan wisata Bandungan. Ada villa kecil jauh dari keramaian. Di sana kami tinggal. Aku hanya keluar villa untuk belanja bahan makan. Selanjutnya nyaris berada dalam vila. Aku lelaki. Erika perempuan. Dalam usia matang. Terjadilah apa yang seharusnya terjadi. Berulang-ulang.

Jejaring yang dibangun para aktivis mahasiswa dan tokoh oposisi tetap bergerak. Pengurusan surat untuk membawa Erika terbang ke Belanda sudah lengkap. Dua hari menjelang hari kemerdekaan, aku mengantar Erika.  Hanya sampai pinggiran Semarang. Jejaring aktivis global selanjutnya mengatur kepergian Erika.

Lalu sunyi. Kosong. Itulah pertemuan paling ujung dengan Erika. Jarak terbentang jauh Yogyakarta – Amsterdam. Telekomunikasi yang masih terbatas. Surat menjadi penghubung. Hanya tiga kali berbalas. Kemudian empat tumpukan surat yang belum terbuka balik kepadaku. Dengan pengantar singkat dari pemilik rumah, “Erika pindah, saya tidak tahu alamat barunya.”  Kabar tentang Erika kabur. Hilang.

Warsa 2019

Telepon dari jauh masuk ke ponselku. “Benar ini dengan Profesor Agung Wicaksono?” suara gadis muda renyah terdengar.

“Benar. Dengan siapa ini?” aku bertanya balik.

“Devita van Ness. Panggil saja Vita, dari Rotterdam.”

“Rotterdam Belanda?” kembali aku bertanya.

“Benar, dari Rotterdam. Saya menemukan nomer telepon Prof. dari jejaring sosial. Saya dapat pesan dari ibu untuk menelepon Profesor.”

“Ibumu? Siapa dia?” aku masih bertanya pada Vita yang selalu memanggil diriku profesor.

“Erika. Lengkapnya Erika Rahajeng Tjia.”

Aku tercekat. Tak mampu bersuara. Erika, dua puluh tiga tahun tidak bersua. Hari ini anaknya nun jauh dari Rotterdam menelepon diriku. Enam puluh detik tiada suara. Hingga akhirnya Vita melanjutkan telponnya.

“Ibu berpesan, secepatnya kalau bisa Prof. datang ke Rotterdam. Kesehatan ibu menurun drastis. Ada kanker stadium empat bersarang di rahimnya. Ibu menunggu Prof.”

Aku masih belum bisa berucap.

“Prof…” Vita berkata, menyadarkan diriku yang kehilangan kesadaran.

“Segera saya terbang ke Belanda.” Telepon berakhir.

Empat hari setelah kabar dari Vita, aku menuju Belanda. Penerbangan panjang dari Yogya, berakhir di Amsterdam. Kemudian berkereta menuju Rotterdam. Di pintu keluar stasiun Rotterdam, dua orang menjemputku. Ayah dan anaknya. Si ayah bernama Marcus van Ness dan anaknya, Devita.

“Kita langsung menuju rumah sakit. Setelah dari sana baru ke rumahku. Sudah kami siapkan kamar untukmu,” Marcus berkata kepadaku.

Marcus yang  hangat, Vita yang bersahabat mengantar aku menuju Erasmus University Medical Center. Lantai dua, pada lorong-lorong rumah sakit. Bangsal berwarna hijau, Marcus menghentikan langkah. Berkata padaku,”Erika ada di kamar 203. Silahkan bertemu dengannya. Aku dan Vita menunggu di sini.”

Aku sendirian menuju kamar 203. Kubuka pintu perlahan. Seorang wanita yang masih menyisakan wajah ayu tertidur dengan aneka selang menembus tubuhnya. Kudekati dirinya. Dia – Erika – tetap terpejam. Aku usap tangannya. Kugenggam jari-jarinya. Hangat menjalar dari jari tangannya. Kutatap erat wajahnya. Erika mencoba membuka mata. Lalu sorot tajam mata Erika menghujam wajahku. Aku diam, tiada mampu berucap. Erika, tak mampu berkata.

Kami bersitatap. Bermenit-menit bertatap.  Tetap tanpa suara. Butiran air mengumpul dan menetes dari mata Erika. Kurogoh saku celana. Sapu tangan warna biru muda, pemberian Erika. Dua puluh tiga tahun lalu  untuk mengeringkan rambutku. Hari ini menghapus air mata Erika.

“Marcus? Vita?” akhirnya Erika berucap.

“Menunggu di luar, menyuruh aku menemuimu,” masih kutatap Erika.

“Marcus suamiku. Menikahi aku ketika Vita berumur tiga tahun. Kami satu kantor di yayasan human right global, Rotterdam. Marcus suami yang seperti malaikat bagiku.” Erika sejenak menghentikan omongannya. Aku menyimak.

“Vita dua puluh dua tahun sekarang. Vita….” Erika tak mampu melanjutkan omongannya. Kembali air tumpah dari mata Erika. Kembali aku keringkan dengan sapu tangan warna biru muda. Aku belum bersuara.

“Dari Vita aku dengar kamu sekarang sudah jadi profesor ekonomi di UGM. Pilihan terbaik menurutku ya harus begini. Kamu bisa melanjutkan masa depanmu. Aku tetap nyaman hidup di Belanda. Vita…” Erika menghentikan omongan. Mengumpulkan napas yang tersengal-sengal. Lalu mengucapkan keberanian,”Vita, anakmu….”

Aku terperanjat. Belum bisa memahami cerita dari Erika. Logikaku menguap.

“Dia belum tahu siapa ayahnya. Sambutlah Vita. Peluklah Vita,” Erika menatapku lekat-lekat.

Perlahan, aku lepas genggaman tangan Erika. Aku mundur dua langkah, lalu berbalik membuka pintu. Kulihat Marcus berdiri menyambut kedatanganku. Kupeluk tubuhnya.

“Terimakasih, kau menyelamatkan Erika. Membesarkan Vita,” ucapku lirih dalam pelukan Marcus.

“Vita, sambutlah dia,” Marcus berbisik kepadaku.

Kulepas pelukan Marcus. Kutatap Vita yang berdiri tepat seratus sentimeter dariku. Kulihat parasnya. Beralih pada sosok lengkap tubuhnya. Devita van Ness. Mengingatkan aku pada Erika dua puluh tiga tahun lalu ketika pertama bertemu di Karta Pustaka Yogyakarta.

Kawasan wisata Bandungan. Juli 1996. Aku lelaki. Erika perempuan. Dalam usia matang. Terjadilah apa yang seharusnya terjadi. Berulang-ulang. Vita, anakku.

Oleh A.M. Lilik Agung
Karta Pustaka Yogya 1996 – Amsterdam 2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here